Keadilan

KEADILAN – Malam baru saja menyapa. Cahaya merah di ufuk barat belum lah hilang. Namun sua- sana Jalan Gubernur Boediono di Kawasan Tjandi Baroe Semarang, saat itu sudah ter- lihat sepi. Sangat jarang mobil melintas.Sepanjang jalan hanya terlihat lampu hias rumah-rumah megah dengan pintu gerbang tertutup rapat.

Satu-satunya yang berbeda adalah ketika melintas di sebuah rumah tua bertuliskan ‘Puri Gedeh’ di bagian atasnya. Pintu gerbang rumah bergaya Belanda zaman dulu itu masih terbuka lebar. Seorang anggota satuan polisi pamong praja (Satpol PP) tampak berdiri tegak sebelah kanan luar pintu gerbang.

Kurang dua meter dari posisi berdiri anggota Satpol PP berusia sekitar 20 tahunan tersebut, terlihat sebuah pos jaga. Dalam pos jaga yang menempel pagar sebelah kanan gerbang terlihat sekitar tiga orang anggota Satpol PP. Dari perawakan usia, terlihat ketiganya lebih tua dari anggota Satpol PP yang berdiri di luar gerbang.

Puri Gedeh adalah Rumah Dinas Gubernur JawaTengah, Ganjar Pranowo. Rumah dinas yang berada di kawasan Tjandi Baroe, Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang ini, dulunya rumah pribadi orang Belanda yang bernama Helly. Rumah ini dibangun tahun 1925 dengan arsitek T.TH. Van Oyen.

Rumah dinas ini bergaya kolonial. Bangunan tua yang sudah dijadikan cagar budaya ini, sudah didiami Ganjar dan keluarganya, tidaklah menjauhkan dirinya dari rakyat. Rumah ini terdiri dari tiga ruang. Rumah induk untuk gubernur, sekretariat kamar untuk ajudan, ruang staf dan kamar tamu gubernur yang menginap.

Kawasan itu memang dipilih Belanda untuk pemu- kiman elit di Semarang. Tidak semua orang bisa tinggal di sana. Setidaknya itu terlihat dari rumah-rumah megah ber- gaya lama peninggalan Belanda di sekitar rumah dinas. Berada di Puri Gedeh, pengunjung memang seakan dibawa kembali ke masa awal abad 20.

Hal itu lah yang dirasakan KEADILAN ketika mendatangi Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Kamis 27 Juli 2023 lalu. Suasana klasik terasa sangat kental di sana. Selain bentuk asli bangunan dipertahankan, nuansa rumah tua diperkental dengan ornamen-ornamen antik seperti sepeda onthel.

KEADILAN diterima Ganjar Pranowo, di Ruang Tamu yang juga merangkap kantor. Di meja kerjanya terlihat Majalah KEADILAN edisi sebelumnya. Rupanya, Calon Pre- siden dari PDIP itu termasuk pelanggan Majalah KEADILAN yang bermoto Jujur, Peduli dan Cerdas. “Media harus jujur, peduli dan cerdas,” ujarnya.

Dalam ruang kerja yang sederhana bernuansa klasik tersebut, Ganjar berbincang santai dengan KEADILAN.

Mulai dari masalah kemiskinan dan stunting, pemberan- tasan korupsi sampai dengan ‘nyinyiran’ sebagian orang bahwa ia hanya penerus gagasan dan ide Presiden Joko Widodo dan sekedar petugas partai.

Ganjar Pranowo, meminjam istilah gaul anak muda zaman sekarang, terlihat ‘humble’ saat mengenakan kaos oblong bertuliskan ‘KAHGAMA’. Perbincangan KEADILAN dengan Calon Presiden terkuat Pilpres 2024 tersebut terasa asyik di kawasan Tjandi Baroe yang berada 98 meter diatas permukaan laut (dpl).

Jika kelak Ganjar Pranowo terpilih sebagai Presiden RI ke-8 pada 2024 mendatang, maka ia akan lepas landas dari Puri Gedeh saat bangunan itu tepat berusia 99 tahun. Angka 99 selama ini dikenal bermakna sangat baik. Mulai menurut feng shui Cina, primbon Jawa sampai Islam. Ber- ikut petikan wawancaranya:

Masyarakat melihat Anda sebagai orang yang akan meneruskan ide-ide dan gasasan Presiden Joko Wido- do (Jokowi) atau penerus Jokowi, lebih ekstremnya ada yang mengatakan Anda di bawah bayang-bayang Jo- kowi. Bagaimana tanggapan Anda?

Karena kami satu partai. Mungkin gaya kami agak mirip, sama-sama suka musik rock, sama-sama suka bertemu masyarakat, sama-sama ketika bertemu masyarakat adre- nalin kita sebagai seorang pemimpin muncul. Dan kami sama-sama tidak pernah merasa capek.

Mungkin merasakan sama-sama secara ideologis, saham atau value (nilai) politik kami di PDI Perjuangan harus berpihak kepada mereka yang kecil. Kami sama juga ketika di lapangan bertemu dan bertanya langsung kepada masyarakat untuk menyelesaikan persoalan mereka.

Jadi kalau dibayang-bayangkan kami mempunyai per- samaan style itu. Tentu saja ketika frame konstitusi diikuti frame regulasi terus kemudian kita berjalan dalam frame yang benar, maka menurut kami, orang mau mengatakan apapun buat saya, silakan.

Kalau kemudian dibawah bayang-bayang, ada dia (Jokowi) juga, kenapa ya? Karena dari beberapa kesamaan dan bagaimana endorsement (dukungan) Pak Jokowi pada awal-awal saat saya belum ditentukan oleh partai. Menurut saya Pak Jokowi punya porsi yang cukup besar dalam dukungan sebelum PDI Perjuangan mengusulkan saya.