KEADILAN– Pengamat Sepakbola Tommy Welly alias Bung Towel menyebutkan, penggunaan gas air mata di dalam stadion sepakbola dilarang oleh federasi FIFA.
Hal itu tertuang dalam Pasal 19 b tentang petugas penjaga keamanan lapangan (pitchside stewards), yang berbunyi, “No firearms or ‘crowd control gas’ shall be carried or used (senjata api atau ‘gas pengendali massa’ tidak boleh dibawa atau digunakan).
Mestinya, kata Bung Towel, aturan FIFA ini harus disosialisasikan atau disampaikan kepada aparat keamanan oleh keluarga sepakbola yakni PSSI, operator liga dan panitia penyelenggara (panpel) pertandingan.
“Lazimnya menjelang pertandingan sepakbola ada namanya rapat koordinasi antara panpel dengan pihak-pihak terkait termasuk pihak keamanan. Nah, di situ bisa dipertanyakan kepada kepolisian bahwa itu tidak boleh digunakan berdasarkan regulasi (FIFA) ini, kan begitu,” terang Bung Towel saat dihubungi keadilan.id Selasa (4/10/2022).
Kapolres Malang Dicopot, Kasus Kanjuruhan Naik Penyidikan
Sebagaimana diketahui, penggunaan gas air mata yang terjadi pada Sabtu malam (1/10) di stadion Kanjuruhan Malang Jawa Timur, mengakibatkan ratusan korban jiwa. Polisi yang bertugas mengamankan pertandingan Arema vs Persebaya menembakkan gas air mata ke tribun penonton guna menenangkan suporter Aremania.
Melalui akun resmi media sosial Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, mencatatkan jumlah korban jiwa mencapai 125 orang.
Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang itu juga menjadi perhatian dunia. Terakhir, para pemain Liga Perancis turut memprotes kejadian gas air mata. Para pemain Toulouse vs Montpellier disuguhi aksi teatrikal menutup hidung dengan Jersey usai menjalani pertandingan.
Belasan Polisi Diperiksa Terkait Tragedi Kanjuruhan
Aksi itu mereka lakukan sebagai bentuk solidaritas dan protes atas kejadian gas air mata yang mematikan di stadion Kanjuruhan Malang.
Bung Towel menjelaskan, atas tragedi memilukan itu sejumlah pihak harus bertanggung jawab, paling tidak Panpel Arema, operator Liga, dan PSSI yang turut andil untuk bertanggung jawab.
“Ketika ada pertandingan sepakbola dan menimbulkan banyak korban jiwa pasti ada yang salah dan tentu harus ada yang bertanggung jawab. Jadi itu yang ditunggu publik sepakbola atau masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia,” tegasnya.
Ia memaparkan, secara filosofi sepakbola adalah tempat untuk merayakan kemanusiaan atau kehidupan. Sehingga sepakbola bukan tempat mengerikan atau kuburan bagi banyak orang pertandingan sepakbola.
Tragedi itu juga tentu menjadi perhatian FIFA, kata Bung Towel, FIFA tentu menyayangkan peristiwa tersebut. Apalagi di era peradaban modern ini dengan jumlah korban tewas yang sangat banyak. Nantinya, kata Bung Towel, FIFA akan melakukan investigasi terkait tragedi ini termasuk penggunaan gas air mata.
Menurutnya, FIFA akan melakukan assessment ulang, croscek ulang, dan bertanya ke berbagai sumber baik di federasi maupun di AFC tentang kejadian ini untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya.
“FIFA pasti konsen dan akan menilai ulang terhadap sepakbola Indonesia, apalagi kaitannya akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Jadi kalaupun terbuka kemungkinan entah sanksi apapun, maka FIFA akan melakukan penilaian ulang dulu,” jelasnya.
Meski demikian, Bung Towel mengatakan, tragedi ini bisa menjadi momentum yang harus diambil untuk introspeksi diri dan membersihkan diri atau menata ulang sepakbola Indonesia.
“Artinya di sini juga harus ada para pihak yang merasa malu dan bertanggung jawab secara konkret dengan kejadian ini, karena prinsipnya tidak boleh ada satu nyawa pun yang melayang karena sepakbola,” tutupnya.
Reporter: Ainul Ghurri
Editor: Darman Tanjung








