KEADILAN – Banyak masyarakat tidak mempercayai penjelasan polisi terkait kasus tewasnya Brigpol Nopryansah Yosua Hutabarat. Rasa tidak percaya ini terlihat dari banyaknya komentar di lini masa media sosial.
Pengamat Sosial dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr. Bachrul Amal Khair memandang, ketidakpercayaan masyarakat ini timbul lantaran ada ruang kosong dalam penjelasan polisi.
“Tidak runut penjelasan polisi, dalam kronologi peristiwa. Ada kekosongan dalam penjelasan itu. Misalnya CCTV yang rusak, dan lainnya,” ujar Bachrul, Kamis (14/7/2022).
Agar penjelasan itu diterima, lanjut Bachrul, rumusan-rumusan masalah yang dipertanyakan masyarakat harus terjawab.
“Misalnya peristiwa penembakan, tujuh peluru dengan lima peluru. Kemudian jari yang dikatakan putus. Pihak polisi harus melakukan keterbukaan atau menjawab rumusan masalah itu,” imbuhnya.
Bachrul menjelaskan, apabila pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab, maka berbagai asumsi akan timbul.
Sebelumnya, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad mengatakan penembakan yang dilakukan Bharada E terhadap Brigadir J dilatarbelakangi oleh kasus pelecehan.
Dalam penembakan itu, Brigadir J menembak tujuh kali, dan Bharada E menembak lima kali.
Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto juga mengatakan, CCTV di tempat kejadian, di rumah Kadiv Propam Irjen Pol rusak.
Tetapi pihaknya mengatakan, akan mencari alat bukti lain.
Terkait kasus ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang membentuk tim khusus penanganan tewasnya (Brigadir J).








