KEADILAN- Pengusaha Langkat Muara Perangin Angin mengaku bersalah lantaran memberi suap kepada Bupati Langkat, Terbit Rencana Perangin Angin. Hal itu ia ungkapkan saat Muara membacakan nota pembelaan atau pleidoi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/6/2022).
“Saya tahu yang saya lakukan salah, tidak mengindahkan program pemerintah untuk memberantas korupsi,” kata Muara saat membacakan nota pembelaannya.
Di sisi lain, Muara juga mengaku tidak mengetahui nasib pekerjaannya jika tidak memberikan fee. Menurutnya, bila dirinya tidak memberi fee kepada Bupati, ia khawatir nasib masa depan keluarga, perusahaan, dan karyawannya.
“Kalau saya tidak memberi fee bagaimana kelangsungan pekerjaan saya pada tahun mendatang dan bagaimana nasib keluarga dan karyawan saya apabila saya tidak dapat pekerjaan pada tahun mendatang? Saya menyesali semua hal ini,” sesalnya.
Diketahui, dalam perkara ini Muara dituntut 2,5 tahun penjara denda sebesar Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan. oleh jaksa penuntut umum KPK.
Ia dituntut karena dinilai terbukti menyuap Terbit Rencana Perangin Angin senilai Rp572 juta. Suap itu diberikan untuk pengerjaan sejumlah paket pekerjaan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang dan Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat pada tahun 2021.
Tuntutan tersebut berdasarkan dakwaan pertama dari Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.
“Izinkan saya menyampaikan permohonan ribuan kata maaf kepada masyarakat Indonesia, masyarakat Langkat, kepada anak, serta istri dan keluarga besar saya. Karena saya, keluarga terkena malu di tempat tinggal saya dan di mana pun itu,” ungkap Muara sambil terisak.
Muara menyesal atas perbuatannya sehingga keluarga besarnya mendapat malu di kampung halaman mereka di Langkat, Sumatra Utara.
“Penahanan terhadap saya membuat saya tidak bisa menjelaskan banyak hal kepada istri dan anak-anak saya. Saya hanya bisa mencurahkan isi hati saya ke dalam bentuk tulisan di dalam sebuah buku. Tulisan itu saya rangkum menjadi surat yang ditujukan kepada istri dan anak-anak saya,” pungkasnya.













