KEADILAN – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan Kementerian Agama terus mempercepat transformasi madrasah sebagai bagian dari upaya mencetak sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan infrastruktur pendidikan, digitalisasi pembelajaran, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), hingga pengembangan Program Ekoteologi.
Menurut Nasaruddin, pembangunan kualitas manusia merupakan investasi paling penting bagi masa depan Indonesia. Karena itu, transformasi pendidikan Islam harus mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga berkarakter, menjunjung toleransi, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.
“Investasi terbesar bangsa adalah membangun sumber daya manusia,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam keterangannya di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Ia menjelaskan, transformasi madrasah menjadi salah satu strategi utama Kementerian Agama untuk memperkuat kualitas pendidikan keagamaan sekaligus menjawab tantangan masa depan.
Dalam mendukung program tersebut, Kementerian Agama terus meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan. Hingga saat ini, sebanyak 556 madrasah dan sekolah keagamaan telah direvitalisasi. Selain itu, pemerintah juga membangun 352 madrasah baru serta 34 Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN).
Modernisasi pembelajaran turut dipercepat melalui distribusi 2.180 Papan Interaktif Digital (PID) yang telah disalurkan ke 551 madrasah di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses pembelajaran berbasis teknologi sekaligus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, Kementerian Agama juga mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kurikulum tersebut dirancang untuk menanamkan nilai kasih sayang, toleransi, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap keberagaman sejak dini.
Menurut Nasaruddin, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat yang beragam.
Penguatan karakter peserta didik juga diwujudkan melalui Program Ekoteologi yang mengintegrasikan ajaran agama dengan upaya pelestarian lingkungan. Program ini diwujudkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari gerakan penanaman sejuta pohon, pelestarian hutan mangrove dan terumbu karang, hingga pemanfaatan eco-enzyme sebagai bagian dari edukasi menjaga lingkungan.
“Melalui Program Ekoteologi berbagai aksi pelestarian lingkungan juga terus digerakkan sebagai wujud pengamalan nilai-nilai agama,” ujar Menag Nasaruddin Umar.








