KEADILAN – Dilansir dari laman FoodNavigator.com, Pemerintah Inggris akan mengikuti Selandia Baru, Norwegia, Austria, dan Swiss, melarang rakyatnya merebus lobster hidup-hidup. Bukan hanya lobster, tetapi juga udang, dan kepiting yang masuk kelompok krustasea. Pengumuman resmi pemerintah Inggris menyatakan bahwa larangan akan mulai diberlakukan tahun 2030.
Alasan orang langsung memasukkan lobster hidup, kepiting atau udang karang ke panci berisi air mendidih adalah karena krustasea punya bakteri Vibrio yang secara alami hidup di tubuh mereka. Setelah mati, bakteri yang ada pada tubuh mereka akan langsung berkembang biak dengan sangat cepat dan melepaskan racun yang tidak dapat dihilangkan melalui proses masak. Racun ini bisa berbahaya bagi manusia yang mengkonsumsinya. Jadi, langsung direbus hidup-hidup supaya bebas dari risiko keracunan. Tentu saja hal ini bisa diatasi dengan metode lain yang mungkin sedikit merepotkan bagi mereka yang terbiasa mematikan hewan laut tersebut dengan langsung merebusnya dalam air mendidih.
Larangan tersebut adalah hasil pendekatan dari beberapa organisasi pecinta hewan krustasea yang didukung bukti ilmiah. Ternyata, lobster dan kelompok krustasea lainnya tidak langsung mati bila direbus hidup-hidup dalam air mendidih. Mereka akan kesakitan selama beberapa menit sebelum mati. Tindakan tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk penyiksaan hewan. Keputusan pemerintah Inggris didukung pula oleh hasil jajak pendapat lembaga survey YouGov, di mana 65% konsumen Inggris tidak setuju Krustasea dimatikan dalam air mendidih. 75% responden memilih metode pemotongan sebelum dimasak yang dianggap lebih manusiawi.

Pada press release yang diunggah Crustacean Compassion bulan Juni 2026, Pemerintah Inggris menyarankan agar lobster, kepiting dan udang dimatikan dengan cara disetrum atau dengan tusukan pisau yang tepat untuk mematikan hewan laut tersebut secara instan, beberapa detik sebelum dimasak. Metode lain yang disarankan adalah dengan tekanan hidrostatika atau melalui proses pendinginan terlebih dahulu untuk membuatnya pingsan sehingga rasa sakit yang mereka alami dapat diminimalkan.
Organisasi non profit kesejahteraan hewan krustasea Crustacean Compassion, menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak bermaksud melarang manusia mengkonsumsi lobster dan krustasea lainnya. Tujuan organisasi hanya untuk menjaga agar hewan tersebut tidak punah dan bahwa proses memasaknya perlu dilakukan secara lebih manusiawi, tidak menyiksanya dengan merebus hidup-hidup.
Alasan lainnya adalah bahwa krustasea mempunyai kesadaran yang baik. Studi krustasea dekapoda menunjukkan bahwa mereka punya pembelajaran spasial dan memori jangka panjang, sehingga mampu mengingat tata letak tempat berlindung atau jebakan, dan menyesuaikan perilaku untuk menghindarinya. Mereka juga punya hierarki sosial dan hubungan dominasi, di mana mereka menyesuaikan interaksi berdasarkan hasil petarungan sebelumnya. Mereka juga punya fleksibilitas dan pemecahan masalah termasuk modifikasi strategi pelarian ketika upaya sebelumnya gagal.
Negara lain yang sudah menerapkan larangan menyiksa krustasea dekapoda seperti Selandia Baru, menerapkan ancaman denda sebesar $5000 bagi yang melanggar aturan tersebut. Negara lain seperti Swiss bahkan melarang nelayan dan pedagang melakukan pengangkutan krustasea hidup di atas es batu atau dalam air es. Mereka diharuskan menjaga hewan laut tersebut tetap berada di lingkungan perairan alam mereka untuk mencegah penderitaan yang tidak perlu sebelum berakhir di “penggorengan”.****
BACA JUGA: Satu Kota di Kanada Mengakui Pohon Sebagai Makhluk, Hak Hidupnya Dilindungi Hukum














