KEADILAN – Sepak bola adalah ‘beatiful game’ – meminjam istilah Presiden AS Bill Clinton saat Piala Dunia 1994 – yang menyihir dunia. Sebab, sepak bola bisa seperti film besutan kelas Hollywood melalui lakon Lamine Yamal dan Lionel Messi yang berlaga di Final Piala Dunia 2026. Dan juga bisa membuat banyak bangsa seperti hidup dalam paradoks, termasuk Indonesia.
Lihatlah bagaimana sebuah peristiwa hadir pada Desember 2007 silam di ruang ganti Camp Nou Barcelona. Seorang bayi bernama Lamine Yamal berkat sebuah undian yang dimenangkan keluarganya diberi kesempatan berfoto dengan bintang-bintang Barcelona. Salah satunya ketika ia dimandikan Lionel Messi yang kala itu berusia 20 tahun.
Siapa yang menyangka, bayi bernama Lamine Yamal tersebut yang dihadirkan sebagai bagian kampanye UNICEF tersebut akan menjadi salah satu bintang sepak bola dunia. Messi pun saat itu dengan nomor punggung 19 belum menjadi superstar. Saat itu masih ada pemain hebat seperti Ronaldinho dan Thierry Henry.
16 tahun kemudian, April 2023, Lamine Yamal yang merupakan produk Akademi Barcelona La Masia itu untuk pertama kali merumput bersama Blaugrana. Ia saat itu disebut-sebut penerus Lionel Messi yang kala itu telah menjadi ikonik Barcelona dan Argentina di dunia sepak bola. Membawa Barca menguasai Liga Champion dan membawa Argentina menjadi juara dunia pada 2022.
Dari sisi karakter permainan, Yamal memang mirip dengan Messi. Sama-sama jago dribling dan sama-sama menggunakan kaki kiri. Posisi pavoritnya pun sama, sayap kiri. Media Eropa pun menggambarkan Yamal seperti Messi. ‘Menari seperti kupu-kupu dari sayap kiri dan mengiris seperti silet di kotak pinalti lawan.’
Sebutan penerus Messi dari sisi prestasi domestik dan internasional juga tidak salah. Prestasi anak yang pernah dimandikan Messi itu dalam dua tahun terakhir juga bukan kaleng-kaleng. Ia membawa klubnya Barcelona mengausai liga dan membawa Spanyol menjadi juara Piala Eropa.
Dalam Piala Dunia 2026, lakon Yamal semakin ‘licin’ bak tulisan skenario kelas Hollywood. Ia memulangkan saingan abadi Messi, Cristiano Ronaldo, dengan mengalahkan Portugal 1-0 di 16 besar. Ia juga menyingkirkan Kyllian Mbappe dari Prancis 2-0 di semifinal untuk menantang sang ‘Mentor’ di final.
Kini skenario kelas Hollywood itu seperti membius dunia. Miliran mata penduduk dunia menunggu aksi keduanya di puncak dunia. Messi sang singa tua namun masih punya kemampuan sihir harus berhadapan dengan delapan singa muda La Masia yang dipimpin Yamal sebagai punggawa Spanyol.
Paradoks
Sepak bola juga membuat paradoks di beberapa bangsa. Sebut saja Argentina. Negara ini awal abad 20 sangat kaya dan pendapatannya menyaingi Eropa. Namun karena salah urus terjebak dalam kondisi hampir bangkrut. Krisis ekonomi berkepanjangan dan inflasi menggila sehingga mata uangnya beberapa kali mengalami devaluasi.
Namun penderitaan akibat krisis ekonomi dan penurunan kesejahteraan secara makro, tak memudarkan kecintaan dan prestasi mereka di sepak bola. Timnas Argentina tetap menjadi elite dunia dan Messi dipandang sebagai simbol harga diri bangsa. Seolah-olah euphoria dan krisis ekonomi dapat hidup berdampingan di Argentina.
Rakyat Argentina seakan-akan tidak peduli mata uang Peso jatuh, yang penting Timnas Argentina menang di lapangan sepak bola. Tidak apa-apa kesejahteraan menurun asal Messi masih mencetak gol. Oleh sebab itu tak aneh ada cerita rakyat Argentina rela menggadaikan apa saja asal bisa menonton timnasnya bertanding.
Tengoklah pertandingan Semifinal Piala Dunia 2026. 50 ribu rakyat Argentina mendatangi Atlanta Stadium, Georgia, Amerika Serikat untuk mendukung Lionel Messi dkk melawan Inggris. Jumlah mereka hampir dua kali lipat dari lawannya, padahal tingkat kesejahteraan rakyat Inggris jauh lebih tinggi dari rakyat Argentina.
Beberapa saat setelah pertandingan Argentina dan Inggris berakhir, rakyat Argentina tumpah ruah di jalan. Laporan media massa menyebut rakyat tumpah ruah di Monumen Obelisk, Buenos Aires. Berpesta merayakan kelolosan La Albiceleste ke final Piala Dunia. Lupakan saja sumpeknya ekonomi dan mahalnya harga kebutuhan pokok.
BACA JUGA: Tarian Takdir Yamal dan Messi, Bertemu saat Bayi di Camp Nou dan Bertempur di Final Piala Dunia 2026
Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia? Walau hanya sebagai penonton, paradoks sepak bola juga terjadi. Meskipun keadaan ekonomi disebut para pakar tidak baik-baik saja, semangat rakyat untuk menonton siaran langsung Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di AS, Canada dan Meksiko, tetap luar biasa.
Sebuah laporan menyebutkan TVRI dan TNI AD menggelar ‘nonton bareng’ di lebih 25 ribu titik dan menggaet 1,1 juta penonton. Belum dihitung nonton bareng yang dilakukan rakyat secara mandiri dari kota sampai desa. Atau berapa banyak yang bersedia menambah paket internet demi bisa menonton piala dunia.
Berapa jumlah penonton siaran piala dunia dari Indonesia? Sangat tinggi. Indikasinya dilihat dari laporan Lokadata menyebut bahwa 78 persen rakyat menonton siaran piala dunia. Sedangkan data yang diungkapkan ipsos menyebut bahwa rakyat Indonesia salah satu penonton terbanyak Piala Dunia 2026.
Tingginya minat orang Indonesia menonton piala dunia sebagai penonton tentu saja paradoks. Tidak pernah berpartisifasi dalam putaran final – kecuali era Hindia Belanda – tapi tetap semangat menonton. Walau mengeluh pendapatan menurun, jumlah pengeluaran rakyat untuk menonton siaran piala dunia mencapai Rp5,03 triliun.
Lupakan kesulitan ekonomi, korupsi yang tak pernah selesai dan sumber daya alam yang dijarah oligarki. Lupakan saling sandera dan pertarungan antar geng penegak hukum. Atau lupakan pidato pemimpin yang tak sesuai dengan kenyataan di lapangan dan kekumuhan narasi di ruang publik yang muncrat dari mulut para aktivis yang bisa dibeli seperti roti.
Sepak bola akhirnya membuktikan ungkapan latin kuno, ‘panem et cirsense’. Jika ingin mengalihkan perhatian rakyat dari masalah ekonomi dan keadilan, berikan roti dan sirkus. Bila dua ribu tahun lalu, penguasa Romawi menggunakan gladiator, maka sekarang peran gladiator digantikan 22 pemain sepak bola.
Apa itu salah? Semuanya tentu relatif dan tergantung dari perspektif mana memandangnya. Bagaimana pun juga rakyat memang membutuhkan sebuah jeda dari kesumpekan jiwa. Oleh karenanya, tidaklah berlebihan ada ungkapan, ‘gocekan Messi dan Yamal jauh lebih bermanfaat dari pidato seorang presiden selama satu jam’.
Tabik.
BACA JUGA: Tarian Takdir Yamal dan Messi, Bertemu saat Bayi di Camp Nou dan Bertempur di Final Piala Dunia 2026








