KEADILAN – Erupsi Gunung Api Anak Krakatau disebut juga sebagai letusan salah satu pasak bumi. Konsep pasak bumi mengacu pada berita yang disampaikan Al Qur’an ribuan tahun lalu yang kemudian dibenarkan ilmu geologi modern. Gunung sebagai tiang yang membuat bumi bisa ditempati mahkluk hidup secara aman.
Konsep gunung sebagai pasak bumi disebutkan dalam Al-Qur’an pada Surah An-Naba’ ayat 7.
وَّالْجِبَالَ اَوْتَادًاۖ ٧
“dan gunung-gunung sebagai pasak?”
Jauh sebelum ilmu geologi modern ada, Al Qur’an memang sudah memberitakan bahwa gunung berfungsi untuk menjaga kestabilan dan keseimbangan kerak bumi. Gunung diibaratkan seperti pasak yang menancap kuat dan jauh ke dalam perut bumi.
Ilmu geologi modern kemudian membenarkan kabar dari Al Qur’an ini. Ilmuwan menemukan bahwa gunung ternyata memiliki massa atau akar yang menghujam jauh ke dalam lapisan litosfer di bawahnya. Bahkan apergunungan Himalaya disebut mrmiliki akar 70 kilometer di bawah permukaan bumi.
Apa itu litosfer? Litosfer adalah lapisan terluar atau kulit bumi yang tersusun dari batuan dan mineral. Secara bahasa, litosfer berasal dari kata Yunani, yaitu lithos yang berarti batu dan sphaira yang berarti lapisan atau bulatan.
Litosfer dalam ilmu geologi modern dikenal ada dua jenis. Litosfer samudera dan litosfer benua. Litosfer samudera memiliki ketebalan antara 5 sampai 10 kilometer. Sedangkan litosfer benua lebih tebal lagi, mencapai 70 kilometer seperti milik pergunungan tertinghi Puncak Himalaya.
Susunan dan Lapisan Litosfer terdiri Kerak Bumi yang merupakan lapisan paling atas yang keras dan tipis. Lapisan berikut Mantel Atas yang merupakan bagian teratas dari selubung bumi yang menyatu dengan kerak.
Lapisan litosfer berikut disebut SIAL yang merupakan apisan yang kaya akan unsur silisium dan aluminium. Lapisan selanjutnya disebut lapisan SIMA yang kaya akan unsur silisium dan magnesium.
Keberadaan akar gunung yang menembus lapisan litosfer ini kemudian membantu meredam getaran serta menyeimbangkan pergerakan lempengan tektonik. Dalam perut bumi, akar bumi berperan seperti tiang yang menahan dan menjaga kestabilan lempeng bumi yang selalu bergerak.
Struktur ini juga memungkinkan bumi melepaskan energi internal melalui tumbukan lempeng dan aktivitas vulkanik. Tanpa gunung, tekanan di dalam bumi akan menumpuk, berpotensi memicu gempa besar yang tidak teratur, membuat planet kita jauh lebih berbahaya.
Selain fungsi fisik dalam perut bumi, gunung juga menyeimbangkan kehidupan di permukaannya. Dari gunung bermula banyak sungai besar, hutan gunung menyimpan air, menahan erosi, dan menjadi rumah bagi banyak makhluk hidup. Ia bukan hanya batu besar yang berdiri megah, tetapi penopang bumi, sumber kehidupan, dan simbol keseimbangan.
Bayangkan jika gunung tidak ada. Curah hujan berkurang karena tidak ada daerah tinggi yang menahan awan, sungai-sungai besar tak terbentuk, dan banyak wilayah menjadi kering. Angin dan badai bergerak tanpa penghalang, membuat iklim lebih ekstrem. Kehilangan gunung berarti hilangnya sistem penyeimbang alami, baik di dalam bumi maupun di permukaan.
Dari gunung kita belajar bahwa kekuatan dan manfaat sejati tidak selalu terlihat. Kadang jauh tersembunyi jauh di dalam perut bumi seperti akar gunung yang menancap jauh, menjaga bumi tetap tegak dan mahkluk hidup bisa hidup dengan nyaman.
Tabik.
BACA JUGA: Debu Anak Krakatau Mencapai Bogor













