KEADILAN – Abu dampak aktivitas vulkanik Gunung Api Anak Krakatau sampai ke Kabupaten Bogor. Debu berwarna hitam khas hasil aktivitas vulkanik berwarna hitam menyasar rumah-rumah warga.
“Minggu dini hari (06/09/2026) debu abu-abu kehitaman terlihat di udara. Atap dan teras rumah ditaburi debu ” ujar seorang warga Cibinong bernama Dolly, kepada keadilan.id, Minggu (06/09/2026).
Berdadarkan pantauan keadilan.id, intensitas debu dampak aktivitas vulkanik Anak Krakatau belum.mengganggu aktivitas rutin warga di Bogor. Masyarakat masih berolahraga rutin hari Ahad meski sebagian kecil ada yang menggunakan masker.
Debu vulkanik yang menerpa atap dan teras rumah warga tidak terlalu terlihat berbeda bila hanya dipandang sepintas. Namun saat dibersihkan terlihat berwarna hitam pekat. Sangat berbebda dengan debu biasa yang timbul karena faktor hujan yang lama belum turun.
Sebagaimana diketahui, Gunung Api Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan rentetan erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2024) pukul 23:07 WIB hingga Sabtu (5/9/2024) pukul 04:40 WIB.
Aktivitas ini menyusul peningkatan status gunung tersebut yang kembali aktif sejak Juli 2026. Meski begitu, Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan potensi ancaman bencana tsunami masih dalam batas aman.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Rita Susilowati, dalam.konferensi oersnya mengatakan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi besar pada Desember 2018 masih relatif kecil.
Rita mendasarkannya dari hasil pemantauan dua stasiun pengamatan di Pasauran dan Kalianda. Pertumbuhan tersebut dinilainya belum berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang dapat memicu tsunami.
“Pertumbuhan tubuh gunung api saat ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” ungkap Rita dalam konferensi pers online pada Sabtu (5/9) kemarin.
Sebagai catatan, tsunami pada 22 Desember 2018 terjadi akibat longsoran besar sebagian tubuh gunung api ke laut yang dipicu oleh rangkaian erupsi, sehingga memindahkan massa air secara masif dan menerjang pesisir Banten serta Lampung.
Setelah bencana tersebut, Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi berskala rendah secara berkepanjangan hingga 16 Desember 2023. Fase itu merupakan bagian dari proses konstruksi atau pertumbuhan kembali tubuh gunung api.
Hingga akhirnya, aktivitas erupsi kembali mengalami eskalasi pada 2 Juli 2026, yang membuat status aktivitas vulkaniknya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Seperti diketahui Gunung Api Krakatau pada 1883 silam pernah menjadi mimpi buruk bagi seluruh dunia. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin.
Terkait aktivitas Gunung Api Anak Krakatau, berdasarkan informasi yang diperoleh keadilan.id, letusan piroklastik masih terjadi sampai Sabtu malam (05/09/2026). Darincitra satelit terlihat arah letusan mencapai 850 meter ke arah barat.
Letusan Sabtu malam itu membentuk awan pirocumulus, yaitu awan debu panas (ash cloud) dan mengandung sulfur oksida. Awan panas itu menyasar sejumlah pulau di sekitar, diantaranya Pulau Enggano.
Letusan membentuk kolom yang tinggi, dengan estimasi tinggi 13-14 km, menyentuh ketinggian tropopause. Pada waktu-waktu tertentu, ketika terbentuk angin laut yang kuat dan tekanan rendah di Banten, awan piro bisa saja menuju ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya.
BACA JUGA: Hukum Membaca Al Fatihah Bagi Jamaah Salat Terlambat dan Imam Sudah Rukuk








