KEADILAN – Sebanyak 10.000 Alat Pelindung Diri (APD) dan 6.000 masker, tiba di Bandara Polonia, Medan, Jumat (10/4/2020).
APD tersebut nantinya akan diberikan kepada tenaga medis yang menangani COVID-19 di wilayah Sumatera Utara (Sumut).
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut R Sabrina yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penangangan COVID-19 Sumut, didampingi Danlanud Soewondo, Kolonel Pnb Meka Yudanto dan Dandim 0201/BS Kol Inf Roy J Hansen Sinaga, mengatakan APD yang diangkut menggunakan pesawat Hercules A-1316 milik TNI AU yang diberikan pemerintah pusat kepada para medis di Sumatera Utara.
“Bantuan dari pusat yang kita terima ini adalah 10.000 APD dan 6.000 masker. Mudah-mudahan ini bisa membantu di Sumut baik di Medan maupun kabupaten/kota lainnya terutama pada rumah sakit rujukan kita,” katanya kepada wartawan di Lanud Soewondo Medan.
Bantuan APD dan masker itu nantinya akan disalurkan kepada tenaga-tenaga medis yang bekerja sebagai garda terdepan dalam penanganan COVID-19 di Sumut.
“Karena tenaga-tenaga medis ini terus bekerja di garda paling depan oleh karena itu mereka harus juga kita lindungi dengan APD yang sudah standar. Terutama daerah khusus yang ada rumah sakit yang menjadi rujukan khusus COVID-19,” ungkap Sabrina.
Sementara itu, Danlanud Soewondo, Kolonel Pnb Meka Yudanto menambahkan bahwa keterlibatan TNI dalam tugas kemanusiaan ini adalah sebagai komitmen bersama untuk memutuskan rantai dari penyebaran COVID-19
“Ini sudah komitmen TNI AU bahwa kita memanfaatkan alutista yang kita miliki diantaranya adalah pesawat Hercules yang kita miliki yang mempu membawa bantuan alat kesehatan,” ucapnya.
“Sebelumnya gelombang pertama kita sudah membawa peswat boing dari Halim (Jakarta) ke Medan dengan membawa 7.000 APD dan 35.000 masker untuk membantu tenaga medis di Medan dalam penanganan COVID-19,”katanya.
Sementara itu, dr Tuahman Purba, anggota DPRD Sumut mengaku, meski Sumut mendapat bantuan APD dari Pusat, namun hingga kini Sumut belum mampu menghadapi ganasnya Covid-19 yang kini merebak di Sumut.
“Pada dasarnya, Sumut tidak mampu, Sumut tidak siap dari segi pelayanan medis,”katanya.
Menurut dia, ukuran ketidak siapan itu adalah alat pendiagnosa (deteksi) Covid-19. “Mestinya Sumut itu memiliki alat deteksi. Tidak melulu berharap ke jakarta. Sehingga bisa langsung bertindak. Nah, yang terjadi sekarang adalah saat kita mendiagnosa seseorang terinveksi, kita dipaksa menunggu satu minggu. Sementara pasien sudah meninggal. Artinya, meninggal dulu pasiennya baru hasil tesnya keluar. Apa gunanya lagi?”sambungnya.
Disisi lain, kesiapan lainnya adalah pengadaan APD juga terkesan tidak serius, harusnya sudah ada langkah atau solusi untuk itu. Ibarat perang, kalau mau berperang mestinya disiapkan dulu senjata dan amunisinya. Jika tidak, maka maka akan mati konyol.
“Inilah yang terjadi di Sumut. Kita dipaksa perang tetapi tidak dilengkapi dengan alat perang, yang ada mati konyol,”pungkasnya.













