Pemena, Sebagai Awal Kepercayaan Suku Karo

Oleh: Roy Fachraby Ginting

Pada awalnya, kepercayaan masyarakat pada jaman prasejarah adalah animisme, dinamisme, totemisme serta monoisme. Kepercayaan-kepercayaan ini membantu manusia purba untuk menjalin hubungan dengan alam dan kekuatan gaib.

Kepercayaan Animisme yang menekankan kepercayaaan bahwa benda-benda tertentu memiliki roh atau jiwa. Manusia purba percaya bahwa roh-roh tersebut dapat berbuat baik dan jahat.

Demikian juga kepercayaan Dinamisme yang percaya bahwa setiap benda memiliki roh yang harus dan wajib dihormati dan kepercayaan ini merupakan perpanjangan dari animisme. Penganut dinamisme percaya bahwa kekuatan gaib dapat menolong mereka.

Sementar itu, Totemisme merupakan salah satu bentuk kepercayaan manusia purba. Totemisme juga menjadi salah satu sistem kepercayaan yang dianut manusia pada zaman praaksara.

Totemisme merupakan keyakinan bahwa binatang tertentu patut dipuja karena suci dan mempunyai kekuatan gaib di dalamnya. Biasanya binatang yang disembah tidak boleh diburu dan dimakan. Contoh binatang yang dianggap suci antara lain ular, sapi, dan harimau.

Untuk menunjukkan kepercayaan mereka serta melakukan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, atau upacara ritual lainnya.

Salah satu bukti masyarakat praaksara telah mengenal sistem kepercayaan adalah dolmen, yaitu meja batu yang digunakan untuk meletakkan sesaji atau persembahan.

Monoisme adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pada sistem kepercayaan ini manusia mulai berpikir lebih jauh dengan apa yang dialaminya selama hidup. Hal itu meliputi pemikiran siapa yang menciptakan, meghidupkan, dan mematikan manusia, tumbuhan, serta binatang.

Dengan demikian manusia menyimpulkan bahwa terdapat kekuatan yang tidak bisa ditandingi oleh kekuatan manusia.

Agama adalah ajaran yang berasal dari Tuhan atau hasil pemikiran manusia yang tertuang dalam kitab suci dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tujuannya adalah memberikan tuntunan dan pedoman hidup agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Agama mencakup unsur kepercayaan kepada kekuatan gaib, yang kemudian menimbulkan respon emosional dan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup bergantung pada hubungan yang baik dengan kekuatan gaib tersebut. Setiap agama memiliki kebebasan dalam menyebarkan keyakinannya melalui kegiatan ibadah dan juga merayakan perayaan perayaan besar.

Berbeda dengan kepercayaan lokal yang telah hadir dalam kehidupan masyarakat sebelum agama resmi tersebar di Nusantara. Kepercayaan lokal merupakan kepercayaan yang secara murni dan asli bersumber pada kebiasaan, tradisi, adat dan budaya lokal tertentu.

Kepercayaan Pemena

Kepercayaan lokal hadir dalam masyarakat dengan tradisi dan ritual yang berbeda beda di setiap daerah dan mengarah pada kepercayaan terhadap arwah nenek moyang dan roh-roh lainnya.

Demikian juga di Sumatera Utara terdapat ajaran dan kepercayaan lokal yang dapat ditemukan dan salah satunya adalah kepercayaan Pemena pada masyarakat Suku Karo.

Kepercayaan Pemena memiliki arti pertama atau yang awal, jadi kepercayaan Pemena merupakan kepercayaan yang paling pertama dalam masyarakat Karo yang telah ada dari sejak dahulu dan sudah ada pada saat agama Kristen, Hindu, Islam dan agama lainnya belum masuk ke Tanah Karo.

Ajaran dan kepercayaan Pemena ini tergolong pada aliran kepercayaan yang bersifat Animisme.

Praktik Pemena memiliki peran yang penting dalam kehidupan masyarakat Karo yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari seperti pertanian, pernikahan dan ritual keagamaan.

Pemena, Sebagai Awal Kepercayaan Suku Karo 2

Kepercayaan Pemena ini memiliki beberapa keyakinan, diantaranya masyarakat Karo percaya bahwa alam semesta dipenuhi oleh Tendi, yaitu jiwa yang hidup di batu-batu besar, kayu-kayu besar, sungai, gunung, atau tempat-tempat suci lainnya.

Manusia terdiri dari Tendi (jiwa), Begu (roh orang yang sudah meninggal/hantu), dan Kula (tubuh).

Dibata adalah kesatuan totalitas dari alam semesta yang meliputi seluruh Tendi dan setiap manusia dianggap sebagai semesta kecil.

Si Beru Dayang adalah roh perempuan yang tinggal di bulan yang bertugas menjaga dunia tengah tetap kuat.

Kepercayaab Pemena sering juga dahulu di sebut Parbegu, yang berarti penyembah roh jahat atau setan.

Namun, sebutan ini kurang disukai oleh para penganutnya sehingga dibuat menjadi lebih halus yaitu kepercayaan Pemena. Kepercayaan Pemena kemudian mendapat pengaruh agama Hindu di Tanah Karo yang datang dari India pada masa dahulu.

Pengaruh agama Hindu dari India inilah yang akhirnya melahirkan kepercayaan atau agama baru Suku Karo, yang disebut Agama Pemena yang telah memadukan ajaran Budaya Karo yang dikawinkan dengan ajaran Hindu dan pada akhirnya melahirkan ajaran baru yang disebut Hindu Karo.

Agama Pemena atau Hindu Karo ini mengenal adanya Dibata Datas atau Guru Batara, yang memiliki kekuasaan atas dunia atas atau angkasa.

Demikian juga ada Dibata Tengah atau Tuhan Padukah Ni Aji yang menguasai dan mengatur di bagian dunia yang kita huni ini, dan Dibata Teruh atau Tuhan Banua Koling, yang memerintah di bagian bawah bumi.

Kepercayaan ini tentu sangat mirip dengan konsep Tri Murti pada Agama Hindu dengan Dewa Brahma, Wisnu dan Shiwa.

Hal ini tentu juga di latarbelakangi dengan pada abad pertama setelah Masehi, terjadi migrasi orang India Selatan yang beragama Hindu ke Indonesia termasuk ke Sumatera yang mana mereka memperkenalkan aksara Sansekerta, Pallawa, dan ajaran dalam agama Hindu.

Pemena, Sebagai Awal Kepercayaan Suku Karo 3

Dalam buku Sejarah Karo dari Zaman ke Zaman (1995) tulisan Kongsi Sembiring Brahmana atau Brahma Putro menyebutkan bahwa banyaknya nama Lingga di Karo, Pakpak Bharat, dan Simalungun sebagai nama marga dan nama kampung menunjukkan bahwa pengaruh Agama Hindu sekte Ciwa berkembang dan kuat pengaruhnya.

Dalam buku itu juga dijelaskan bahwa pada abad ke-16 seorang resi bernama Megit dari kaum Brahmana datang dari India dengan mengarungi lautan di atas perahu layar.

Megit dari kaum Brahmana ini mendarat di pantai Sumatera Timur, lalu masuk ke pedalaman Talun Kaban (sekarang Kabanjahe). Resi Megit Brahmana ini mengembangkan Agama Hindu ajaran Maharesi Brgu Sekte Ciwa.

Ia berasimilasi dengan menikahi seorang gadis Karo beru Purba. Dari pernikahannya lahir 3 orang putra, yakni Si Mecu, Si Mbaru, dan Si Mbulan.

Ketiga putra Resi Brahmana inilah leluhur dari merga Sembiring Brahmana di seluruh daerah Karo, meliputi Kabanjahe, Perbesi, Limang, Bulanjahe, Delitua, Ujung Labuhen, Namo Cekala, Bekawar, Namo Rubei, Aji Baho, Timbang Lawan, dan lain-lain.

Pada saat ini penganut Agama Hindu di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mencapai 0,03% dari total penduduk pada tahun 2024.

Selain Agama Hindu, masyarakat Karo juga memeluk agama-agama lain, seperti: Kristen Protestan (57,5%), Kristen Katolik (18,7%), Islam (21,3%) dan kepercayaan Pemena (1,1%).

Dalam kenyataanya, ajaran dan kepercayaan keagamaan Hindu dalam masyarakat Karo masih dapat dilihat sampai sekarang di Desa Pintu Besi, Kecamatan STM Hilir, Kabupaten Deli Serdang.

Di wilayah ini secara historis dikenal sebagai tempat bermukim orang Karo (Karo Jahe) yang dikenal dalam sejarah Deli dengan Sinuan Gambir dan masih banyak keluarga memeluk Agama Hindu.

Di desa ini terdapat pula Pura Persadanta, tempat ibadah umat Hindu dan hal ini tentu membuktikan eksistensi keberadaan umat Hindu di desa ini ada sejak 1970. Dahulu mereka adalah pemeluk kepercayaan Pemena yang ada kesamaan dengan Agama Hindu.

Penulis adalah dosen Universitas Sumatera Utara.