Keadilan

Oleh : Roy Fachraby Ginting
Dosen Ilmu Sosial Budaya Dasar USU

Indonesia dilimpahi banyak suku bangsa dengan berbagai tradisi yang sangat unik. Pengertian suku bangsa sendiri adalah golongan manusia dengan anggota-anggota yang mengidentifikasi dirinya dengan sesama dan didasarkan kepada garis keturunan.

Dilansir dari situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2010 saja sudah ada sekitar 1.340 suku bangsa yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari ribuan suku tersebut, suku Karo memiliki populasi yang cukup besar di Indonesia.

Jika kita bicara suku bangsa di Indonesia, tentu saja memiliki sejumlah perbedaan yang mencolok. Namun, sesuai semboyan bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, yang berarti berbeda-beda, tetapi tetap satu, kita harus terus menjunjung persatuan Indonesia dan saling menghargai satu sama lain.

Ketika kita bicara bahasa maka hal ini tentu tidak akan terlepas dari aksara. Ada tiga unsur budaya yang saling bertautan, yaitu bahasa, sastra, dan aksara.

Ketiga unsur tersebut tidak hanya saling bertautan tetapi lebih dari itu bahasa, sastra, dan aksara adalah simbol-simbol hasil pemikiran dan kehidupan spritual umat manusia.

Oleh karena itu, setiap suku bangsa di Indonesia penting untuk menjaga dan merawat sejarah dan peradaban melalui karya-karya bersejarah seperti bahasa dan aksara atau tulisan yang mereka miliki.

Pengertian Bangsa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, bangsa dapat didefinisikan sebagai kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan asal keturunan, adat, bahasa, serta sejarahnya, dan memiliki pemerintahan sendiri.

Salah satu hal paling mendasar tentang identitas faktor pembentukan sebuah bangsa yakni memiliki pandangan yang memegang teguh kekerabatan, etnis, ras, daerah, bahasa, serta adat istiadat.

Historis dan perjalanan sejarah peradaban bangsa Indonesia sebagian besar tertuang dalam karya-karya literatur. Semua kita punya tanggung jawab bersama untuk sama-sama menjaga sejarah, karena dari karya-karya inilah sebenarnya peradaban Indonesia itu dibangun.

Salah satu peradaban suku bangsa yang perlu kita jaga adalah peranan aksara dalam menyongsong warisan peradaban bangsa. Karena aksara adalah kunci untuk membuka dan menemukan nilai-nilai luhur peradaban bangsa, yang tercatat di dalam literatur yang telah diwariskan berupa prasasti, sastra dan sebagainya.

Semua yang harus menguasai bahasa untuk dapat mengetahui makna tekstual, letak kelemahannya, dan jawaban kritis yang ditawarkan.

Sejarah kemudian juga mencatat bangsa dengan masyarakat yang memiliki minat baca tulis yang tinggi terbukti menjadi bangsa yang disegani.

Salah satu simbol jati diri suku Karo adalah bahasa, dalam hal ini tentu bahasa Karo. Hal itu sejalan dengan semboyan yang selama ini kita kenal, yaitu “bahasa menunjukkan bangsa”.

Setiap bahasa pada dasarnya merupakan simbol jati diri penuturnya, begitu pula halnya dengan bahasa Karo merupakan simbol jati diri bangsa.

Bahasa adalah suatu kemampuan alamiah yang dianugerahkan kepada umat manusia sehingga kita menyadari bahwa tanpa bahasa umat manusia tidak mungkin mempunyai peradaban.

Bahasa merupakan suatu kepemilikan yang lekat secara biologis pada manusia karena hampir semua aktivitas manusia memerlukan bahasa dan dengan bahasa itu lahirlah aksara atau tulisan untuk merekam seluruh peristiwa yang terjadi

Kehadiran aksara selalu menjadi tonggak awal sejarah. Tidak ada orang yang terpelajar, tulis Plato dalam surat ketujuh, Yang mau mengekspresikan pandangan filsafatnya dalam bahasa, terutama bahasa yang tak dapat dirubah, seperti bahasa tertulis.

Filsafat tidak dapat diadakan tanpa kritisisme, dan penulisan memungkinkan suatu konsep diteliti secara mendalam.

Penulisan membekukan pembicaraan dan memunculkan para ahli tata bahasa, ahli ilmu logika, ahli ilmu retorika, ahli sejarah, maupun ilmuwan lain.

Ketika kita bicara bahasa maka hal itu tidak bisa kita pisahkan dari aksara atau huruf yang merupakan satuan lambang terkecil dari komunikasi berbentuk tulisan dan tulisan itu tentu memiliki andil besar terhadap peradaban.

Aksara secara etimologis berasal dari bahasa Sanskerta yaitu akṣara yang bisa berarti ‘huruf’, bunyi’atau ‘vokal’.

Istilah lain untuk menyebut aksara adalah sistem tulisan. Alfabet dan abjad merupakan istilah yang berbeda karena merupakan tipe aksara berdasarkan klasifikasi fungsional.

Ketika kita berbicara tentang aksara Karo maka hal itu tentu tidak bisa kita pisahkan dari surat Batak yang merupakan salah satu aksara tradisional Indonesia yang berkembang di wilayah masyarakat Batak yang di tetapkan oleh Belanda di Sumatera Utara.

Surat Batak terdiri dari beberapa varian yang digunakan untuk menulis oleh enam rumpun etnis di Sumatera Utara yakni suku Karo, Angkola, Mandailin Pakpak, Simalungun dan Toba.

Surat Batak yang kemudian bagi suku Karo di sebut Surat atau Aksara Karo adalah sebuah simbolisasi visual yang tertera pada media tulis berupa kertas, kayu, bambu, daun, batu, logam dan media prasasti lainnya dalam bentuk simbol simbol visual yang difungsikan untuk mengutarakan ataupun menterjemahkan unsur unsur ekspresif dari suatu bahasa lisan menjadi tulisan, dengan ketentuan disepakati dan di mengerti oleh para penggunanya.

Aksara atau sistem penulisan adalah suatu sistem simbol visual yang tertera pada kertas maupun media lainnya (batu, kayu, kain, dll) untuk mengungkapkan unsur-unsur yang ekspresif dalam suatu bahasa.

Istilah lain untuk menyebut aksara adalah sistem tulisan. Alfabet dan abjad merupakan istilah yang berbeda karena merupakan tipe aksara berdasarkan klasifikasi fungsional.

Tulisen (aksara) Karo atau juga disebut Surat Aru (Haru), merupakan salah satu tulisan (aksara) no-Latin yang ada di Nusantara.

Tulisan atau aksara Karo ini tumbuh dan berkembang di masyarakat (etnis) Karo serta tersebar luas di wilayah yang dihuni suku Karo.

Aksara ini mulai masuk ketika mulai ajaran atau penyebaran agama Hindu dan Budha masuk ke wilayah Karo.

Awal masuknya aksara ke tanah Karo diperkirakan sekitar awal I (pertama) yang dibawa langsung oleh bangsa Tamil yang bersamaan dengan masuknya kepercayaan Hindu (Senata Dharma).

Aksara dan tulisan Karo ini sudah mulai di pakai dan mulai berkembang paling tidak sejak adanya kerajaan Haru atau Aru yang merupakan sebuah kerajaan Karo yang pernah berdiri di wilayah pantai timur Sumatera Utara dan berkuasa pada kurun abad ke-13 sampai abad ke-16 Masehi.

Pada masa jayanya kerajaan ini adalah kekuatan bahari yang cukup hebat, dan mampu mengendalikan kawasan bagian utara Selat Malaka.

Penduduk asli kerajaan Haru atau Aru menjalankan kepercayaan animisme, Pemena, dan juga Hinduisme. Penduduk kerajaan Haru atau Aru dipercaya merupakan keturunan orang-orang Karo yang menghuni pedalaman Sumatera Utara.

Catatan sejarah terawal yang menyebut Kerajaan Haru atau Aru adalah berasal dari catatan Tiongkok dari Dinasti Yuan (akhir abad ke-13 Masehi).

Kerajaan ini juga disebut-sebut dalam sumber catatan Tiongkok dari zaman berikutnya, yakni Yingya Shenglan (1416) dari zaman Dinasti Ming.

Kerajaan Haru juga disebut dalam catatan naskah-naskah Jawa, kitab Nagarakertagama (1365) dan kitab Pararaton (sekitar abad ke-15 Masehi).

Nama kerajaan ini disebutkan dalam Kitab Pararaton, yang tepatnya disebut di dalam Sumpah Palapa:

“Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa”

Dalam bahasa Indonesia mempunyai arti:

“Dia, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa

Sementara itu dalam catatan Portugis Suma Oriental yang ditulis pada awal abad ke-16 Masehi menyebutkan Haru atau Aru sebagai kerajaan yang makmur.

Suma Oriental menyebutkan bahwa kerajaan ini merupakan kerajaan yang kuat Penguasa Terbesar di Sumatera yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan memiliki pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh kapal-kapal asing.

Dalam laporannya, Tomé Pires juga mendeskripsikan akan kehebatan armada kapal laut kerajaan Haru atau Aru yang mampu melakukan pengontrolan lalu lintas kapal-kapal yang melalui Selat Melaka pada masa itu.

Dalam kitab berbahasa Arab-Melayu Sulalatus Salatin, menyebutkan Kerajaan Haru atau Aru sebagai salah satu kerajaan yang cukup berpengaruh di kawasan. Haru atau Aru di sebut sebagai kerajaan yang setara kebesarannya dengan Malaka dan Pasai.

Kemajuan peradaban masyarakat Karo dengan kerajaan Haru atau Aru ini tentu berdampak kepada kemajuan penggunaan aksara ataupun tulisan Karo yang dipengaruhi oleh bentuk aksara dari India.

Di sebut aksara Karo, karena tumbuh dan berkembang, serta dipergunakan secara meluas di wilayah-wilayah Karo (Dataran Tinggi Bukit Barisan dan Pesisir Pantai Timur Sumatera), dan dipakai oleh masyarakat Karo untuk menuliskan cakap (bahasa) Karo.

Media dalam penulisan aksara Karo tidaklah jauh berbeda dengan aksara-aksara kuno lainnya, yang dimana semua dapat dijadikan media tulis, baik itu kayu, bambu, batu, daun, logam, kertas, dan lain-lain (media sastra klasik).

Namun, di Karo yang paling sering ditemui adalah menulis pada bilah bambu ataupun kulit kayu, hal ini ditunjukkan dengan adanya kebiasaan masyarakat Karo zaman dahulu khususnya kaum muda yang menuliskan rintihan atau ratapan hidupnya terkhusus berkaitan dengan asmara yang diukir pada kulit bambu ataupun kayu, populer dengan sebutan buluh bilang-bilang.

Tulisen atau aksara Karo pada jaman dahulu selain sebagai media komunikasi (surat-menyurat), juga dipergunakan untuk beberapa hal, seperti: menuliskan mangmang/ tabas atau mantra, kitab ketabiban atau ilmu pengobatan, bilang-bilang (ratapan), ndung ndungen atau pantun, kuning-kuningen (teka-teki).

Demikian juga tentang turi-turin (cerita berbentuk prosa yang biasanya memuat silsila, kejadian, ataupun kisah kehidupan), kitab mayan/ ndikar (kitab ilmu bela diri), musuh berngi (surat kaleng), kontrak atau perjanjian, surat izin (surat jalan/izin memasuki wilayah Taneh Karo), dan lain-lain.

Bahkan ilmuwan kelas dunia Prof Uli Kozok dalam tulisannya tentang Aksara atau surat Batak yang saya kutip mengatakan ; Daerah Karo dapat dipastikan sebagai daerah yang paling bela­kangan menerima aksara Batak. Tetapi justru di daerah ini, tulisannya berkem­bang sangat subur. Ratusan naskah Karo yang tersimpan di berbagai koleksi di mancanegara mem­buktikan bahwa bukan saja para datu (di Karo disebut guru) bisa membaca dan menulis. Di situ juga banyak ter­dapat pu­las – semacam surat kaleng yang di daerah Karo juga terkenal sebagai musuh běrngi (musuh di malam hari). Tetapi bukti yang paling kuat bahwa aksara Batak cukup umum diketahui oleh para pria Karo adalah kebiasaan menulis ratapan percintaan (bilang-bilang) di ruas-ruas bambu. Barangkali justru karena surat Batak di Karo menjadi demikian populer, maka terjadi perkembangan-perkembangan yang baru seperti dibuktikan oleh hu­ruf Mba dan Nda yang khas Karo.

Istilah lain untuk menyebut aksara adalah huruf atau abjad (bahasa Arab) yang dimengerti sebagai lambang bunyi bahasa (fonem) sedangkan bunyi itu sendiri adalah lambang pengertian yang menurut catatan sejarah secara garis besar terdiri dari kategori (Kartakusuma 2003)

Aksara Karo ini merupakan peninggalan budaya dari masyarakat (etnis) Karo yang berbentuk tulisan simbol-simbol yang dimiliki oleh masyarakat Karo sejak jaman dahulu.

Tulisen (aksara) Karo atau juga disebut Surat Aru (Haru), merupakan salah satu tulisan (aksara) no-Latin yang ada di Nusantara. Aksara Karo atau sering juga disebut tulisen Karo atau Surat Haru yang merupakan turunan dari aksara Brahmi dari India kuno.

Dalam buku A.G Sitepu (1996) yang berjudul “Budaya Karo” mengatakan bahwa sejarah aksara Batak Karo sering juga disebut surat Aru (Haru) yang merupakan aksara yang diturunkan secara langsung dari aksara Pallawa (Wenggi) yaitu perkumpulan dari aksara Brahmi yang berkembang di India bagian selatan.

Demikan juga pada buku R Bagun (1089) yang berjudul “Mengenal Orang Karo” mengatakan bahwa aksara Karo diturunkan dari aksara
Nagari (Devanagari), yang merupakan masih perkumpulan dari aksara Brahmi yang berkembang dari India bagian Utara dan masuk ke Tanah Karo sekitar abad ke-5 bersamaan dengan masuknya ajaran agama Budha.

Tulisen (aksara) Karo atau juga disebut Surat Aru (Haru), merupakan salah satu tulisan (aksara) no-Latin yang ada di Nusantara.

Aksara Karo ini merupakan peninggalan budaya dari masyarakat dari etnis Karo yang berbentuk tulisan simbol-simbol yang dimiliki oleh masyarakat Karo kuno.

Berikut ini dapat kami sampaikan ilmu dasar aksara Karo yang di sebut Indung Surat yang huruf lafalnya sebagai berikut :

ha – ka – ba – pa – na – wa – ga – ja – da – ra – ma – ta – sa – ya – nga – la – ca – nda – mba – i – u

Sedangkan untuk angka Suku Karo menyebut dengan lafal :

Sada, dua, telu, empat, lima, enem, pitu, waluh, siwah dan sepuluh.

Sedangkan setelah angka lewat sepuluh, suku Karo memulainya dengan Sepulu sada dan seterusnya.

Aksara atau tulisen Karo ini tumbuh dan berkembang, serta dipergunakan secara meluas di wilayah wilayah Karo di Dataran Tinggi Bukit Barisan dan Pesisir Pantai Timur Sumatera atau di wilayah Kabupaten Karo secara keseluruhan, Taneh Pinem, Gunung Sitember dan Tiga Lingga di Dairi, Sibolangit, Biru Biru, Deli Tua, Namorambe, Pancur Batu di Deli Serdang, Cingkes dan Simalungun Atas, serta kota Medan yang secara Tradisional di huni oleh suku Karo.

Aksara Karo merupakan milik dari masyarakat suku Karo atau dengan kata lain, tulisen yang tumbuh dan berkembang dimasyarakat etnis Karo serta tersebar luas, dipergunakan dan diajarkan serta dipakai oleh masyarakat Karo untuk menuliskan cakap atau bahasa Karo.

Pada awalnya aksara Karo ini di ajarkan atau di pelajari dengan bahasa pengantar, cakap Karo di ruang lingkup Karo yang dulunya meliputi pesisir timur di wilayah Sumatera bagian utara dan dataran tinggi Karo yang terbentang luas diatas pegunungan Bukit Barisan.

Bahkan dahulu bahasa dan aksara Karo itu pernah dipergunakan sebagai media serta instrumen pengajaran secara umum, bahkan di Kabupaten Karo dan beberapa daerah di wilayah Deli Serdang dan Langkat, Aksara Karo masih masuk dalam pelajaran muatan lokal di sekolah Dasar di daerah yang di huni mayoritas suku Karo.

Ketika belajar untuk mengenal aksara Karo, tidak banyak literatur kuno yang dapat kita pelajari serta mendukung sejak kapan tulisan atau aksara Karo itu mulai eksis dipergunakan secara luas di wilayah Karo.

Akan tetapi ada beberapa syair cinta, ramalan, puisi, seni sastra lainnya serta cerita sejarah adanya interaksi berupa surat-menyurat antara kerajaan Haru dengan kerajaan kerajaan yang ada pada waktu itu seperti: Johor, Malaka, Portugis, dan Aceh yang ditemukan.

Aksara atau tulisan Karo ini di pergunakan dalam menuskrip Hikayat Hamparen Perak yang diperkirakan terbit sekitar abad ke-18 yang berisikan teks 55 halaman dalam bahasa Karo yang sebelumnya disimpan di Instituut voor de Tropen di Amsterdam. Kini dokumen tersebut saat ini tidak di ketahui atau hilang dan saat ini kita tidak tahu keberadaannya.

Seharusnya dokumen berharga seperti manuskrip ini dapat di jaga dan di rawat serta di buat salinan atau duplikat agar kelak tetap bisa menjadi sebuah bukti eksistensi suku Karo, khususnya aksara dan bahasanya.

Demikian juga, keberadaan menuskrip Karo asli dalam bahasa dan aksara Karo sekitar abat ke-17 atau 18 yang mengisahkan perjalanan merga Sembiring Kembaren dalam Pustaka Kembaren dan merga Ginting dalam Pustaka Ginting.

Namun, belakangan ini penggunaan aksara Karo kian menghilang, sehingga bisa dikatakan terancam punah. Hal ini karena aksara Karo semakin jarang digunakan. Naskah dan prasasti yang memuat aksara Karo banyak yang hilang tanpa bekas.

Saat ini, hampir merata generasi muda Karo tidak mengenal dan mengetahui aksara Karo. Ancaman kepunahan aksara Karo mesti dicegah dengan berbagai cara, mulai dari mendokumentasikannya secara digital, mengajarkannya di sekolah, hingga memasifkan penggunaannya.

Untuk itu, perlu kiranya digali kembali dan dibuat sebuah wadah atau kelompok untuk memperkenalkan ke khalayak ramai, melalui kursus kursus atau pelatihan, seminar atau perlombaan untuk meragsang minat anggota masyarakat terhadap aksara Karo.

Selain sebagai sistem penulisan, aksara Karo juga menjadi jati diri bangsa sekaligus bukti kecerdasan masyarakat Karo di masa lalu. Aksara dan bahasan Karo merupakan identitas masyarakat pendukungnya. Dengan demikian, aksara Karo merupakan jati diri Masyarakat Karo itu sendiri.

Bahasa, Aksara, dan Sastra Karo adalah salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang harus terus dilestarikan dan dikembangkan karena sejak jaman dahulu telah hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Karo dan terus menjiwai serta menjadi wahana tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Karo.

Pelindungan serta upaya untuk menjaga dan memelihara kelestarian Bahasa, Aksara dan Sastra Karo haruslah terus di tingkatkan dan menjadi tanggung jawab bersama antara tokoh serta pemuka masyarakat Karo dan tentu saja Pemerintah Daerah Kabupaten Karo serta masyarakat Karo pada umumnya.

Hal itu tentu bisa di mulai dengan semangat untuk terus memberikan kontribusi yang signifikan serta mengambil inisiasi untuk membangkitkan kegairahan generasi muda Karo terhadap upaya untuk melestarikan dan mengembangkan aksara Karo yang di mulai dari generasi usia dini.

Program tersebut dapat di mulai dengan mulai belajar menulis aksara Karo yang di khususkan bagi siswa-siswi sekolah dasar di Kabupaten Karo dan Kabupaten sekitarnya yang memiliki populasi suku Karo yang cukup besar dan secara tradisional memang daerah dengan kehidupan masyarakatnya berbudaya Karo.

Jangan sampai masyarakat Karo justru kehilangan Ke Kini Karo-anya ketika bahasa dan aksaranya hilang tanpa bekas.

Aksara dan bahasa Karo adalah pemartabatan dan jati diri dari Komunitas masyarakat Karo yang berbudaya, maju dan cerdas. Hal ini terlihat dengan beberapa peninggalan literatur dan literasi yang masih tersisa terdokumentasi dengan baik, lewat aksara yang di miliki oleh masyarakat Karo sebagai penuturnya.

Indonesia terdiri atas ratusan aksara suku suku di daerah. Di antara ratusan aksara daerah itu, masyarakat suku Karo hendaknya memiliki cara dan strategi untuk menjaga dan merawat serta melestarikan aksara Karo dalam upaya pemartabatannya.

Untuk pemartabatan suku Karo maka aksara Karo perlu terus di lestarikan dan di kembangkan dengan kebijakan serta harus di pengaruhi oleh kekuasaan pejabat di daerah dengan ditandai oleh perubahan paradigma.

Hal itu bisa di mulai dengan menuliskan nama nama jalan di daerah Kabupaten Karo dan di wilayah yang secara Tradisional di huni oleh suku Karo seperti di Langkat, Deli Serdang, di Dairi, Simalungun Atas dan Kota Medan.

Sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian aksara Karo maka perlu sekali di buat seminar dan pelatihan serta aksara Karo ini kembali di ajarkan di Sekolah Dasar dan perlu juga di buat Kampung Aksara Karo sebagai uji coba di Kabupaten Karo, Kabupaten Deli Serdang, Dairi dan Langkat.

Program dan kegiatan ini tentu sangat penting untuk kembali mengenalkan aksara Karo kepada masyarakat yang dinilai sebagian telah melupakan, bahkan tidak mengenali aksara suku dan daerah mereka sendiri.

Masyarakat Karo perlu kembali memahami betapa pentingnya aksara Karo ini. Aksara Karo sebagai bagian dari jati diri masyarakat Karo, perlu dikenalkan kembali kepada generasi muda kaum milenial.

Editor: Darman Tanjung