Keadilan

Oleh: Irwan Siregar, Dosen Komunikasi Politik IISIP-Jakarta

Masa kampanye pemilihan umum (pemilu) 2024 digelar pada 28 November 2023 sampai 10 Februari 2024. Dalam kampanye kali ini, masing-masing kontestan harus siap dengan strategimesin politiknya untuk memengaruhi rakyat dalam merebut suara pemilih.

Kampanye adalah kegiatan peserta pemilu atau pihak lain yang ditunjuk oleh peserta pemilu untuk menyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, program, dan/atau citra diri peserta pemilu (Wikipedia). Kampanye pemilu menyajikan peluang yang sangat baik untuk meneliti konsekuensi komunikasi (berkaitan dengan pemberian suara dan tindakan memberikan suara) dengan menelaah konvergensi berbagai arah persuasi dalam setting politik pemilu. Tekanannya ada dua, 1). pada karakter pemberian suara sebagai konstruksi sosial dan personal yang aktif dari opini publik, dan 2). cara mempersuasi/memengaruhi calon pemilih.

Karakter Pemberian Suara

Karakter pemberi suara, sebagaimana dikemukakan Abraham, diantara studi tertua mengenai pemberian suara banyak yang menerangkan perilaku dilihat dari segi sosio psikologis, yaitu dengan menekankan pengaruh kelompok pada kecenderungan (predisposisi) politik dari segi pemilih. Selain itu, perangkat peneliti yang kedua yaitu Pusat Penelitian Survei dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, menekankan bahwa faktor psikologis sebagai determinan pemberian suara, terutama sikap politik para pemberi suara yang menetap, termasuk ikatan afektif mereka kepada salah satu diantara kedua partai politik Demokrat dan Republik. Dari tradisi sosiopsikologis, psikologis, dan berorientasikan komunikasi dalam studi pemberian suara, terdapat empat cara alternatif bagaimana pemberi suara bertindak.

Pertama, pemberi suara yang rasional. Orang yang rasional adalah selalu dapat mengambil keputusan bila dihadapkan pada alternatif; Memilih alternatif-alternatif sehingga mereka dapat menilai dari masing-masing alternatif tersebut. Apakah lebih disukai, sama saja, atau lebih rendah bila dibandingkan dengan alternatif yang lain; Menyusun alternatif dengan cara transitif; Selalu memilih alternatif yang peringkat preferensinya paling tinggi; Selalu mengambil keputusan yang sama bila dihadapkan pada alternatif-alternatif yang sama. Dengan demikian, tindakan rasional terdiri atas perhitungan cara atau alat yang tepat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Kedua, pemberi suara yang reaktif. Gambaran tentang pemberi suara yang reaktif bukan gambaran yang bersifat memuji. Gambaran itu diturunkan dari asumsi fisikalistik bahwa manusia bereaksi terhadap rangsangan dengan cara yang pasif dan terkondisi terhadap kampanye politik oleh partai, kandidat dan tim pemenangan yang menyajikan isyarat dengan maksud menggerakan arah perilaku pemilih dalam memberikan suara. Ikatan emosional kepada partai politik merupakan konstruk yang paling penting yang menghubungkan pengaruh sosial dengan pemberian suara bagi pemilih yang reaktif.

Ketiga, pemberi suara responsif. Ilmuwan politik Gerald Pomper membuat gambaran tentang pemberi suara responsif. Karakter pemberi suara responsif adalah mereka yang impermanen, berubah mengikuti waktu, peristiwa politik, dan pengaruh yang berubah-ubah terhadap pilihan para pemberi suara. Terdapat perbedaan antara pemberi suara responsif dengan yang reaktif, antara lain: Meski suara responsif dipengaruhi oleh karakter sosial dan demografis mereka, pengaruh yang pada hakikatnya merupakan atribut yang permanen ini tidak deterministik; Pemberi suara responsif memiliki kesetiaan terhadap partai, tetapi afiliasi ini tidak menentukan perilaku pemilihan karena ikatan kepada partai tidak emosional; Pemberi suara yang responsif lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor jangka pendek yang penting dalam pemilihan umum, ketimbang oleh kesetiaan jangka panjang kepada kelompok atau kepada partai. Pemberi suara yang responsif bukanlah gambaran pemilih yang dibelenggu oleh determinan sosial atau didorong oleh alam bawah sadar yang dipicu oleh propagandis yang luar biasa terampilnya. Ia lebih merupakan gambaran tentang pemilih yang digerakkan oleh perhatiannya terhadap masalah pokok dan relevan tentang kebijakan umum, tentang prestasi pemerintah dan tentang kepribadian eksekutif.

Keempat, pemberi suara yang aktif. Manusia dikatakan sebagai agen yang reaktif atau agen yang responsif, tetapi Blumer melihat sebagai perbedaan fundamental yaitu, daripada dianggap hanya sebagai organisme yang menanggapi permainan faktor-faktor yang melaluinya, manusia dipandang sebagai organisme yang harus berurusan dengan apa yang dilihatnya. ia menghadapi apa yang dilihatnya dengan melakukan proses indikasi diri yang didalamnya ia membuat suatu objek dari yang dilihatnya, memberinya makna dan menggunakan makna itu sebagai dasar untuk mengarahkan tindakannya. Dalam kampanye politik sebagian orang melakukan kampanye dengan cermat atau bahkan aktif seperti menonton berita televisi, melihat media sosial, daring dan sebagian lagi tidak peduli.

Menurut Dan Nimmo, selain mengetahui tipe pemilih, perlu dipahami karakter sosial dan geografis pemilih. Robet Axelrod, meneliti koalisi pemilih dari partai Republik dan Demokrat, menemukan perbedaan penting diantara koalisi kedua partai utama politik tersebut. Axelrod menggambarkan koalisi Republikan, mayoritas kelas menengah-atas, kulit putih, bukan keluarga serikat buruh, protestan, penduduk daerah di luar pusat kota metropolitan.

Sedangkan koalisi Demokrat telah memobilisasi kelas pekerja, kulit hitam, anggota serikat, katolik, penduduk daerah selatan. Axelrod mengingatkan bahwa koalisi ini sangat longgar, kesetiaan kepada kelompok tidak menyeluruh, tidak konstan dari pemilihan yang satu kepada pemilihan yang lain, berubah sebagai tanggapan terhadap trend nasional dan bukan karena khas bagi setiap kelompok.

Memodifikasi pandangan dari Axelrod tersebut bahwa kelompok pemberi suara dalam masyarakat mengalihkan dukungan mereka dari satu partai ke partai lain atau dari kandidat satu ke kandidat lain atau sebagai tanggapan terhadap trend nasional bukan karena alasan menyangkut kelompok tertentu. Misalnya, atribut sosial: satu golongan melihat perbedaan kepartaian terhadap isu jaminan sosial dan kesehatan sedangkan pengusaha melihat perbedaan jaminan ekonomi, golongan kulit hitam mengamati perbedaan dalam isu hak sipil dan kesempatan kerja dan lain sebagainya.

Di Indonesia terdiri dari multi partai, dimana saat ini partai-partai tersebut berkoalisi untuk mendukung tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden. Pasangan nomor 1, Koalisi Perubahan; Partai Nasdem, PKS dan PKB. Pasangan nomor 2, Koalisi Indonesia Maju (KIM); Partai Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, PBB, Partai Gelora, dan Partai Garuda. Pasangan nomor 3, Koalisi Gerak Cepat Indonesia Maju; PDIP, PPP, Perindo, dan Hanura.

Pemetaan pendukung koalisi ini, paling tidak dapat disorot dari karakter geografis dan sosialnya. Misalnya pemukiman di perkotaan, daerah, pantai dan pegunungan, kebutuhan mereka bisa berbeda. Begitu pula status sosialnya, kalangan bawah, menengah dan atas juga berbeda-beda. Kawasan Pulau Jawa, mayoritas kelas menengah-atas. Kawasan Pulau Sumatera, mayoritas kelas menengah. Kawasan Bali-Nusa Tenggara, mayoritas kelas menegah-bawah. Kawasan Pulau Kalimantan, mayoritas kelas menegah. Kawasan Pulau Sulawesi, mayoritas kelas menengah, dan kawasan Maluku-Papua, mayoritas kelas menengah-bawah.

Seyogianya, para kontestan dan tim pemenangan harus lihai melihat peta sasaran yang akan digarap dalam kampanye dengan memperhatikan kondisi calon pemilih tersebut. Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024=204,8 juta jiwa, terdiri dari pemilih di dalam dan luar negeri, tersebar di 514 kabupaten/kota, 38 provinsi, dan 128 negara perwakilan. Berdasarkan pulau/kawasan: Sumatera=43.028.586 pemilih. Pulau Jawa=115.373.669 pemilih. Kawasan Bali-Nusa Tenggara=11.196.282 pemilih. Pulau Kalimantan=12.201.793 pemilih. Pulau Sulawesi=14.611.785 pemilih. Kawasam Maluku–Papua=6.651.643 pemilih.

Maka, kontestan dan tim pemenangan nasional (TPN)masing-masing harus dapat menggunakan strategi jitunya, menentukan khalayak sasaran dan kawasan yang akan mereka garap dalam merebut simpati calon pemilih agar dapat memenangkan pertarungan. Semua kontestan berpeluang maju keputaran kedua, dengan perolehan suara lebih 35%.

Semisal, kontestan 1 (Anies-Muhaimin), lebih fokus menggarap wilayah yang berpotensi mendulang suara pemilih, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Kawasan Sumatera, Kawasan Kalimantan, dan Kawasan Sulewesi. Begitupun kontestan 2 (Prabowo-Gibran), fokus menggarap kawasan Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Kawasan Nusa Tenggara, Kawaan Kalimantan dan Kawasan Maluku-Papua. Sementara kontestan 3 (Ganjar-Mahfud), fokus menggarap Jawa Tengah, Jawa Timur, Kawasan Nusa Tenggara, Kawasan Sulawesi, dan Kawasan Maluku-Papua.

Memengaruhi Pemilih

Dalam penyampaian pesan politik, digunakan “strategi persuasi” sebagai teknik penyampaian pesan melalui kampanye, yaitu propaganda, periklanan, retorika dan penggalangan opini publik. Menurut Dan Nimmo, propaganda sebagai strategi persuasi merupakan suatu alat yang dipergunakan oleh kelompok terorganisasi, untuk menjangkau individu-individu yang secara psikologis dimanipulasi dan digabungkan ke dalam organisasi. Dalam prakteknya, yang paling sering digunakan adalah kampanye negatif dan kampanye hitam (black campaign). Kampanye negatif dilakukan dengan mengungkap kelemahan atau kesalahan rivalnya.

Semisal “Jangan pilih pemimpin yang tidak baik track recordnya” Sementara kampanye hitam adalah menuduh rivalnya dengan tudingan palsu atau belum terbukti, atau melalui hal-hal yang tidak relevan terkait kapasitasnyasebagai pemimpin. Semisal “Jangan pilih pemimpin terlibatkejahatan kemanusiaan”.

Penyebaran pesan politik dilakukan juga melalui “iklan politik” yang diarahkan kepada kelompok massa yang heterogen dengan media konvensional, seperti TV, Baliho, Poster, Videotron dan sebagainya, serta digital/daring dan media sosial. Kemudian “retorika” sebagai bentuk komunikasi transaksional (public speaking) untuk memperoleh manfaat timbal balik. Otto Klepper menandaskan, bahwa tidak ada alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang dapat dipahami oleh khalayak, selain periklanan yang dapat mencapai publik seefektif iklan.

Sedangkan retorika yang berkaitan dengan komunikasi di depan publik, lebih mengarah kepada retorika deliberatif yaitu, jenis retorika yang menentukan tindakan yang harus diambil oleh khalayak dengan memengaruhi atau memaparkan aspek yang menarik perhatian (West dan Turner). Semisal, masing-masing pasangan menyuguhkan clue bermakna dalam. Anies-Muhaimin “Perubahan”, Prabowo-Gibran “Keberlanjutan”, Ganjar-Mahfud “Unggul-Cepat”.

Strategi persuasi di atas dapat digunakan dengan amunisi kemasan pesan berisi narasi turunan visi, misi dan program serta isu strategis dari masing-masing pasangan kandidat. Contoh isu strategis, kontestan 1 (Anies-Muhaimin) “Cita-Cita Wujudkan Daulat Pangan”. Kontestan 2 (Prabowo-Gibran) “Janji Tak Akan Main-Main dengan Subsidi BBM”. Kontestan 3 (Ganjar-Mahfud) “Ekonomi dan Kepastian Hukum”.

Salah satu tugas penting oleh kandidat politik adalah menyadap perhatian publik dengan harapan membangkitkan dukungan. Seperti penggalangan opini dengan membangun citra dan elektabilitas partai dan kontestan. Para pemberi suara secara selektif mempersepsi citra partai, citra kandidat, isu politik dan peristiwa dalam kampanye, memberi makna kepada mereka, dan berdasarkan itu mereka menentukan pilihannya.

Citra partai terdiri atas apa yang dipercaya dan diharapkan rakyat tentang apa yang dilakukan oleh partai. Citra partai berbeda dari citra diri partisan dalam hal mempersepsi bagaimana masing-masing partai bertindak dalam kampanye tertentu. Citra partai memiliki beberapa dimensi: hubungan yang dipersepsi oleh rakyat diantara partai dan kandidatnya, persepsi umum tentang prestasi partai, acuan kepada kepentingan yang didukung oleh partai, dan ungkapan yang serupa.

Dengan kata lain, citra partai secara efektif memainkan peran penengah yang menerjemahkan apa yang berlangsung dalam lingkungan politik ke dalam istilah yang bermakna bagi pemberi suara. Citra partai koalisi dari tiga capres dan cawapres akan dinilai oleh pemberi suara. Pasangan no. 1, Koalisi Perubahan; Partai Nasdem, PKS dan PKB. Pasangan no. 2, Koalisi Indonesia Maju (KIM); Partai Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, PBB, Gelora, dan Garuda. Pasangan no. 3, Koalisi Gerak Cepat Indonesia Maju; PDIP, PPP, Perindo, dan Hanura.

Citra kandidat, atribut politik dan gaya personal seorang kandidat politik, seperti yang dipersepsi oleh pemberi suara, membentuk citra para pemilih tentang orang yang berusaha untuk menjadi pejabat. Bahwa beberapa pemberi suara memilih kandidat berdasarkan betapa dekatnya sifat yang diharapkan dari yang berkampanye dengan citra pemberi suara tentang pemegang jabatan yang ideal. Meskipun kesetiaan kepada partai itu mewarnai citra rakyat tentang kandidat, tetapi tidak terdapat kesamaan satu demi satu. Apalagi banyak pemberi suara yang berafiliasi dengan partai karena mereka menyukai kandidat yang populer. Citra yang disusun oleh rakyat tentang kandidat merupakan faktor penentu dalam pemilihan umum.

Citra partai politik dan figur masing-masing capres dan cawapres ,mendapat penilaian dan menjadi penentu pilihan rakyat. Sementara ini, prakampanye bisa dilihat elektabilitas dari hasil lembaga survei masih turun-naik. pluktuatif. Seperti, lembaga Survei Indikator melakukan riset di sejumlah daerah, di Sumatera elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 36,1%, pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming 38,9%, dan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD 21,9%. Sementara di Jawa Barat elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar 30,1%, pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming 37,7%, dan pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD 26,7%.

Dapat disimpulkan bahwa elektabilitas kontestan masih pluktuatif. Oleh karenanya dalam masa kampanye ini, kesempatan emas bagi kontestan dan tim pemenangan bekerja keras untuk merebut simpati calon pemilih dengan memaparkan visi, misi dan programnya sejelas-jelasnya, sampai kepada calon pemilih dan dapat mereka pahami dengan baik. Rakyat sebagai pemilih pun mempunyai beberapa karakter yang berbeda sebagai pemberi suara, mulai dari pemberi suara yang rasional, reaktif, responsif dan aktif.

Hal ini harus dapat dipetakan oleh kandidat dan tim pemenangan agar bidikan mereka bisa tepat sasaran. Selain itu seorang pemilih juga mempunyai caranya masing-masing dalam menyusun tindakan dalam menghadapi pilpres agar mereka bisa memilih pemimpin yang tepat sesuai dengan harapannya.

Sebagai warga negara yang baik, calon pemilih semestinya menggunakan hak suara yang dimilikinya untuk dapat memilih kandidat, ke depan akan menjadi nakhoda memimpin negeri ini mencapai tujuan bersama, mewujudkan keadilan, kesetaraan dan kesejahteraan yang signifikan.

Tagged: , ,