KEADILAN – Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menyoroti beberapa kejanggalan dalam penjelasan polisi terkait kematian Brigadir Polisi Norpryansah Josua Hutabarat (Brigadir J).
“Sangat aneh juga apabila seorang bawahan atau ajudan yang sudah bertugas mengawal selama dua tahun, kemudian melakukan pelecehan terhadap istri pimpinannya, dan dilakukan di rumah dinas,” ujar Bambang, Selasa (12/7/2022).
Menurutnya, kejanggalan seperti itu dapat menimbulkan asumsi-asumsi liar beredar di masyarakat. Namun, memang untuk menelusuri kasus pelecehan lebih dalam, tentunya polisi memerlukan waktu lebih lama.
Kemudian juga, kata Bambang, dalam peristiwa penembakan juga terkesan aneh. “Seorang Bhayangkara Dua. Ini kan pangkat terendah, dengan masa dinas yang masih tak terlalu lama tetapi bisa menembak dengan lima selongsong peluru, dan semuanya kena,” katanya.
“Logikanya seorang yang diacungi senjata, apalagi ditembak itu akan panik. Atlet penembak saja, saya rasa akan gugup dalam situasi seperti itu. Ini yang diserang malah bisa menembak 5 kali dan tepat sasaran, yang bilang Karopenmas lho,” tambahnya.
Agar asumsi liar tidak menyebar, polisi tidak hanya dituntut harus cermat dan tepat. Tetapi juga kecepatan dalam memberi informasi.
“Memang banyak komentar di lini masa tetang kenapa kabar tewasnya Brigadir J baru diumumkan setelah tiga hari. Padahal ini sangat krusial. Ini kan juga menimbulkan asumsi,” terangnya.
Sedangkan terkait kabar CCTV di rumah Kadiv Propam yang mati sejak dua minggu lalu, Bambang menyarankan agar polisi memeriksa CCTV di sekitar lokasi kejadian.
Bambang menegaskan, agar penyelidikan kasus ini lebih objektif, Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo memang seharusnya diberhentikan sementara.
Sebelumnya, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad mengatakan penembakan yang dilakukan Bharada E terhadap Brigadir J dilatarbelakangi oleh kasus pelecehan.
“Berdasarkan keterangan dan barang bukti di lapangan bahwa Brigadir J memasuki kamar pribadi Kadiv Propam dan melecehkan istri Kadiv Propam dengan todongan senjata,” kata Ramadhan dalam keterangannya, Senin (12/7/2022).
Istri Kadiv Propam berteriak, dan Bharada E pun datang memeriksa dan menegurnya. “Pertanyaan Bharada E direspons oleh Brigadir J dengan melepaskan tembakan pertama kali ke arah Bharada E,” paparnya.
Dalam penembakan itu, Brigadir J menembak tujuh kali, dan Bharada E menembak lima kali.














