Oleh: Barata Brahmana
Di Tanah Karo, tempat embun pagi masih jatuh di pucuk ilalang dan sejarah berbisik dari tiap lekuk bukit, aku menyaksikan ironi yang pedih: sekolah negeri yang sunyi, lusuh, dan letih, sementara di kejauhan berdiri gedung-gedung pendidikan bercahaya bak istana bangsawan baru. Di sanalah anak-anak orang berada menimba “keunggulan”; di sini, anak petani menimba harapan yang menetes perlahan seperti hujan kemarau.
Aku bertanya, bukan untuk mengejek negeri sendiri, melainkan untuk menyadarkan: untuk siapa sebenarnya pendidikan unggul dibangun?
“Unggul”. Kata yang dipoles seperti emas, tapi bagi banyak anak bangsa hanya menjadi pagar yang mengurung mimpi. Bagi yang mampu membayar, ia tangga menuju dunia. Bagi yang tak punya, ia hanya jendela kaca, jernih dipandang, mustahil ditembus. Republik ini pernah berjanji lahir tanpa kasta, namun kini sekolah-sekolah berdiri dalam kasta sunyi yang tak tertulis di undang-undang, tapi ditorehkan dalam batin anak-anak kita setiap hari.
Ada sekolah-sekolah berhawa dingin, bertabur teknologi, berkurikulum dunia.
Ada pula sekolah bersuara kresek plastik di sudut pintu, dinding mengelupas seperti cita-cita muridnya, dan guru-guru yang mengajar di antara lapar dan lelah.
Apakah ini kemajuan? Ataukah pembiaran yang dibungkus modernitas? Aku teringat firma pendiri bangsa: Bung Hatta tentang rakyat, Bung Karno tentang Marhaen, dan konstitusi yang ditulis untuk seluruh anak bangsa, bukan hanya untuk anak para pemilik modal. Namun arus zaman berbelok, dan pendidikan dijadikan pasar. Siapa kaya, hidup. Siapa miskin, karam pelan-pelan.
Aku memandang Karo, tanahku dan rumahku. Seperti Rumah Sakit Umum (RSU) Kabanjahe di tahun 1950-an hingga 1950-an, saat aku kecil terlihat bersih dan mampu melayani setiap pasien yang datang dari seluruh Kabupaten Karo. Bahkan teman-teman Bapaku datang dari Medan untuk berobat ke RSU Kabanjahe. Sekarang seperti apa kondisi RSU Kabanjahe? Datang ke sana dan lihatlah. Kini tinggal bayang dari negara yang sempat peduli.
Apakah sekolah anak-anak kita hendak mengikuti jejak yang sama? Dibiarkan merosot, lalu digantikan oleh kemegahan berbayar, dan kita diminta percaya itu adalah kemajuan? Tidak. Aku menolak tunduk kepada logika pasar yang membaptis ketidakadilan menjadi “pilihan”.
Unggul bukan menyingkirkan, tetapi mengangkat.
Unggul adalah ketika anak petani di Tigapanah dan anak buruh di Lau Baleng memiliki hak yang sama dengan anak konglomerat di kota besar untuk bermimpi dan terbang. Maka aku berkata: Unggulkanlah SD, SMP, SMTK yang berada di bawah Pemda Karo. Perbaiki gedungnya. Lengkapi komputer, internet, perpustakaan, toilet siswa laki dan perempuan, siapkan lapangan untuk bermain. Sejahterakan guru-gurunya, agar mereka mengajar bukan sambil memikirkan gas dapur yang hampir habis.
Aku tiga puluh tahun hidup sebagai penduduk tetap Singapura, negeri kecil yang bahkan mengambil air dari Johor. Namun sekolah negerinya bersih, lengkap, terhormat. Lapangannya luas, toiletnya harum, gurunya sejahtera, dan karenanya negara itu memimpin. Bukan karena tambang, bukan karena sawit, tapi karena memuliakan guru.
Ada juga sekolah asing seperti American School, Australian International School dan lain-lainnya. Sekolah ini umumnya meladeni anaka-anak orang asing/expatriates. Kalau sedang jalan-jalan ke Singapore, datanglah melihat SD Negeri mereka di Bedok, Tampines, Ang Mo Kio dan di tempat lainnya. Lihat sendiri betapa bersihnya, betapa lengkapnya prasarana pendidikannya, toilet-toiletnya.
Walaupun negeri kecil tapi tidak ada sekolah yang tanpa lapangan terbuka, termasuk di SD SD, yang bisa digunakan untuk sarana olahraga. Lalu kita jalan-jalan ke desa-desa kita di Karo. Lihat keadaan SD dan SMP-nya. Saya sudah melihat langsung di pelbagai tempat keadaan sekolah-sekolah di sana. Berbicara dengan guru-gurunya. Menyedihkan.
Perlu bagi kita adalah Buka Mata, Buka Hati, Buka Empati terhadap Bibit Bibit Bangsa kita di Karo dan berusaha memperbaikinya. Duduk jauh di Jakarta dan menjadi Armchair Philosopher tidak membantu. Terjunlah ke lapangan.
Menyambung tentang pendidikan di Singapura. Kesejahteraan guru diutamakan. Guru di sana tidak perlu fikir bagaimana mencukupi biaya hidup keluargannya. Semua kebutuhan guru terpenuhi sehingga mereka bisa fokus 100% mendidik anak didiknya. Bukan seperti di Karo. Guru terpaksa cari kerja sampingan guna menyambung hidupnya karena gaji mereka di bawah UMR. Bagaimana mungkin kita berharap anak-anak ini menjadi penerang bangsa, jika penerang pertama mereka —guru— kita biarkan padam pelan-pelan?
Ingat kisah Jepang setelah Hiroshima dan Nagasaki hancur luluh oleh bom Amerika. Ketika kabar datang kepada Kaisar Hirohito bahwa ratusan ribu rakyatnya wafat, apa pertanyaan pertamanya? “Berapa banyak guru yang selamat?” Sebab bangsa yang ingin bangkit, pertama-tama menyelamatkan guru.
Bangsa tidak terbang karena segelintir orang kaya menyewa sayap. Bangsa terbang ketika jutaan rakyat diberi sayap yang sama panjangnya. Jadi mari kita berbicaraa, bukan dengan marah, tetapi dengan cinta pada tanah Karo: kita mungkin tidak mampu membenahi Indonesia seluruhnya, namun kita bisa membenahi rumah kita sendiri. Kita bisa mulai dari desa kita, dari sekolah rakyat kita, dari anak-anak kita yang tanpa suara namun penuh harap.
Buka mata. Buka hati. Buka empati. Jika kita sungguh ingin Karo maju, mulailah dari ruang kelas. Jika kita ingin republik ini terbang, pastikan setiap anak mendapatkan sayap.
Dan jika kita ingin masa depan, muliakanlah guru, pagar pertama yang melindungi masa depan bangsa dari kegelapan. Sebab republik ini tidak lahir untuk menjadi pasar. Ia lahir untuk manusia. Dan manusia hanya tumbuh dalam terang pendidikan yang adil.
Penulis adalah pemerhati sosial budaya dan pendidikan.









