KEADILAN – Setelah Ketua Umum Ganjarian Spartan Guntur Romli mengundurkan diri dari PSI (Partai Solidaritas Indonesia), kini Sekjen Ganjarian Spartan dan Waketum Ganjarian Spartan Estugraha masing-masing mundur sebagai Caleg PSI DPRD DKI Jakarta dan Caleg PSI DPRD Kota Bogor.
Sekjen Ganjarian Spartan Dwi Kundoyo mengutarakan terima kasih kepada para Spartan di Komnas, Komter, Korsa dan Spartan yang mendukung Ganjarian Spartan hingga menjadi besar sampai sekarang ini.
“Awal tahun 2023, tepatnya tanggal 18 Januari 2023, Ganjarian Spartan kami dirikan. Ganjarian bertekad, berjuang menghantarkan Ganjar Pranowo sebagai presiden pada pilpres 2024. Karena, hanya Ganjar Pranowo satu-satunya nama dari 3 besar kontestan calon presiden yang ideologinya mewakili perjuangan saya selama ini,” ujarnya.
Kini, kata Dwi, Ganjarian Spartan sudah memiliki 28 Komter (komando teritori, setingkat Propinsi) yang ber SK. Memiliki 289 Korsa (komando Spartan, setingkat Kabupaten/kota) yang sudah ber SK. Dan ratusan Spartan (tingkat kecamatan) serta memiliki anggota Spartans lebih dari 30.000 orang.
“Saat PSI pada sekitar bulan Maret-April 2023 membuka pendaftaran calon anggota legislatif, saya mendaftarkan diri. Setelah ikut beberapa rangkaian test, pada tanggal 5 Mei 2023, saya dinyatakan lolos sebagai calon anggota legislatif DPRD DKI Jakarta dari PSI untuk daerah pemilihan DKI Jakarta 1 (Jakarta Pusat),” katanya.
“Saya tertarik ikut serta berjuang bersama PSI, karena PSI berdasarkan hasil Rembuk Rakyat yang diadakan oleh PSI pada Oktober 2022 menetapkan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden”.
Namun belum sampai menunaikan amanah organisasi, kata Dwi, PSI saya anggap sudah main mata dengan Prabowo Subianto. Kehadiran Prabowo ke DPP PSI, yang disambut hangat buat saya sudah mencederai semangat dan pandangan perjuangan saya selama ini.
“Saat saya mahasiswa dan menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa pada tahun 1994, saya dan beberapa kawan-kawan mahasiswa di Jakarta, mendirikan FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta). Saya adalah pendiri sekaligus menjabat sebagai presidium di FKSMJ pada periode pertama pendiriannya,” tukasnya.
“FKSMJ adalah salah satu kekuatan terbesar mahasiswa pada masa itu yang berhasil menjatuhkan pemerintahan otoriter Soeharto, yang di masanya, Prabowo Subianto mendapat banyak previllage melalui praktek KKN, yang kita tahu, isu KKN adalah salah satu pondasi perjuangan mahasiswa saat itu hingga hari ini,” papar Dwi.
Menurutnya, Probowo Subianto banyak menikmati pemerintahan korup Orba. Mulai dari karir di militer hingga jejaring bisnis yang mengurita.
“Saya bersyukur saat TNI memecat Prabowo Subianto dari TNI. Rasa syukur ini menambah besar karena Indonesia lepas dari pemerintahan otoriter Orde Baru,” katanya.
Dwi menjelaskan, penolakan dirinya terhadap Probowo Subianto sudah dimulai sejak menjadi anggota HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) tahun 1992. Saat itu, bersama kawan-kawan seperjuangannya tidak henti-henti menyuarakan keadilan dan kemanusiaan bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Pada pilpres 2014-2019, saya memilih Jokowi, disamping karena rekam jejak dan hasil karya Pak Jokowi yang yahud, satu sisi karena saya menolak Prabowo Subianto menjadi pemimpin di Indonesia. Kenapa, karena Prabowo dan pengikutnya tidak henti-henti memainkan isu SARA, bergandengan tangan dengan kelompok-kelompok radikal dan intoleran,” ujarnya.
Diutarakannya, sejarah mencatat, nama Prabowo Subianto sering disebut sebagai dalang dari penculikan aktivis. Keluarga korban, yang hingga kini masih mencari keadilan, masih berharap sanak keluarga yang hilang, diculik bisa kembali ke pangkuan keluarga.
“Melihat rekam jejak Prabowo Subianto, mulai dari pemerintahan Orde Baru yang ikut menikmati pemerintahan korup dengan penuh KKN, hingga ikut serta dalam 2 kali kontestasi presiden (2014 dan 2019), dengan narasi-narasi penuh fitnah dan kebohongan, ditambah lagi dengan mengikutsertakan kelompok intoleran dan radikalis dalam barisannya, menguatkan saya untuk berada dalam posisi melawan, menentang dan mengambil sikap untuk pergerakan menolak Prabowo Subianto memimpin negeri yang berbhineka ini,” jelasnya.
“Akhirnya, dengan penuh kesadaran, melalui kalimat, “ideologi dibentuk oleh sejarah”, saya menyatakan mundur sebagai Calon Legislatif DPRD DKI Jakarta dari PSI,” tegas Dwi.
Ikut serta dalam kesempatan ini, Estugraha (Egha) Wakil Ketua Umum Ganjarian Spartan, yang juga Caleg DPRD PSI dari Dapil 4, Kota Bogor, menyatakan mengundurkan diri. Egha menilai, berfikir Prabowo sebagai alternatif pemimpin saja sudah tidak pantas, apalagi “menggelar karpet merah” kepadanya.
Prabowo, menurut Egha, memiliki rekam jejak kelam. Terlibat penculikan hingga menggunakan isu SARA dan mengikut sertakan kelompok radikal dan intoleran dalam pilpres 2014 dan 2019.
“Terima kasih saya ucapkan kepada kawan-kawan DPW PSI DKI Jakarta, khususnya panitia seleksi caleg yang telah memberi kesempatan saya menyandang predikat caleg PSI dalam beberapa bulan ini,” katanya.
Reporter: Odie Krisno
Editor: Penerus Bonar













