Kenali Cara Penularan, Gejala dan Pencegahan HIV

KEADILAN – Masyarakat Indonesia baru-baru ini dikejutkan dengan kabar tentang melonjaknya kasus HIV-AIDS terutama di wilayah Bandung, Jawa Barat.

Virus ini yang dikenal sangat mengerikan tersebut belum juga memiliki obat untuk penyembuhan.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) ini menyerang sistem kekebalan tubuh hingga membuat lemah daya tahan tubuh manusia terhadap infeksi bahkan kanker.

Sedangkan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) ialah tahap lanjutan dari infeksi HIV tersebut. Perkembangan kanker atau infeksi tertentu yang sangat parah.

Namun, meski diketahui bahwa HIV ini belum memiliki obat, tetapi HIV-AIDS dapat diatasi dengan pencegahan, diagnosis serta perawatan yang efektif, pasien yang terjangkit dapat menjalani hidup dengan sehat.

Dilansir KEADILAN dari World Health Organization (WHO), berikut cara penularan, gejala, resiko, diagnosis serta pencegahannya.

1. Penularan

Dari penjelasan WHO bahwasanya HIV dapat ditularkan melalui pertukaran berbagai cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, seperti darah, ASI, air mani, dan cairan Miss V.

HIV juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya selama masa kehamilan dan persalinan.

Perlu dicatat, seseorang tidak dapat terinfeksi melalui kontak sehari-hari seperti berciuman, berpelukan, berjabat tangan, atau berbagi benda pribadi, makanan, atau air.

2. Tanda dan Gejala
Menurut WHO, dalam beberapa minggu pertama setelah terinfeksi, pasien mungkin tidak akan mengalami gejala atau penyakit.

Namun, ada juga yang merasakan gejala seperti influenza termasuk demam, sakit kepala, ruam, atau sakit tenggorokan.

Ketika virus semakin ganas, infeksi ini dapat menyebabkan beberapa gejala seperti berikut:
   
1. Pembengkakan kelenjar getah bening
   
2. Penurunan berat badan
   
3. Demam
  
4. Diare
   
5. Batuk
   
6. Tuberkulosis (TB)
   
7. Meningitis kriptokokus
8. Infeksi bakteri parah   
9. Kanker, seperti limfoma dan sarkoma kaposi

Aktivitas yang menyebabkan seseorang berpotensi tinggi untuk terjangkit infeksi HIV meliputi:
   
1. Melakukan seks anal atau miss vl tanpa pengaman (kondom)
   
2. Mengalami infeksi menular seksual (IMS) lain seperti sifilis, herpes, klamidia, gonore, dan vaginosis bakteri
   
3. Terlibat dalam penggunaan alkohol dan obat-obatan yang berbahaya dalam perilaku seksual
   
4. Berbagi peralatan suntik yang terkontaminasi

5. Menerima suntikan, transfusi darah, dan transplantasi jaringan yang tidak aman serta prosedur medis yang melibatkan pemotongan atau penindikan yang tidak steril
   
6. Mengalami luka tusuk jarum yang tidak disengaja, termasuk bagi kalangan petugas kesehatan

HIV dapat didiagnosis melalui tes diagnostik cepat yang memberikan hasil pada hari yang sama.

Pasien juga dapat melakukan tes HIV mandiri. Namun, tes tersebut tidak dapat memberikan diagnosis positif HIV secara lengkap. Pengujian ulang tetap diperlukan oleh tenaga kesehatan ahli. Umumnya, penderita mengembangkan antibodi terhadap HIV dalam 28 hari setelah terinfeksi virus.

Selama periode waktu ini, mereka akan mengalami periode jendela yakni ketika antibodi HIV belum diproduksi dalam tingkat yang cukup tinggi untuk dideteksi oleh tes HIV standar. Artinya, meskipun tidak mengalami gejala HIV, pada saat itu mereka masih dapat menularkan virus ini kepada orang lain.

Setelah didiagnosis positif, pasien harus diuji ulang sebelum mereka terdaftar dalam pengobatan dan perawatan HIV.
Hal ini berguna untuk memastikan tidak ada kesalahan pengujian atau pelaporan sebelum memulai pengobatan HIV seumur hidup.
Meskipun tes untuk remaja dan orang dewasa telah dibuat efisien, tetapi hal ini tidak berlaku untuk bayi yang lahir dari ibu positif HIV.

Untuk anak-anak di bawah usia 18 bulan, tes antibodi yang cepat saja tidak cukup untuk mengidentifikasi infeksi HIV.
Untuk itu, tes virologi harus dilakukan sejak bayi baru lahir atau pada usia 6 minggu.

Pencegahan

Seseorang dapat mengurangi risiko terinfeksi HIV dengan cara-cara berikut:
– Penggunaan pengaman ketika berhubungan seksual
– Pencegahan, tes, dan konseling untuk HIV dan IMS
– Sunat medis bagi laki-laki
– Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada perempuan dengan HIV
– Pencegahan penyuntikan dan penggunaan narkoba
– Penggunaan obat antirertroviral, cincin miss v Dapivirine, dan cabotegravir untuk pencegahan HIV.