KEADILAN – Seorang Aremania yang menjadi saksi Tragedi Kanjuruhan menceritakan kisah yang dialaminya. Ia mengaku melihat sendiri bagaimana aparat berseragam hitam melontarkan gas air mata, dan menghalau korban yang hendak dievakuasi ke mobil.
Saksi yang berinisial UJ ini mengatakan, tragedi tersebut bukan sebuah kericuhan. Menurutnya, yang namanya kericuhan itu ada suporter tamu, ada suporter tuan rumah.
Tragedi Kanjuruhan, Polisi Masih Dalami Enam Titik CCTV
“Sedangkan pertandingan tanggal 1 Oktober kemarin, kita sudah saling sepakat tidak mendatangkan supoter dari pihak tamu,” ujarnya dalam konferensi pers virtual Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Reformasi Keamanan, Rabu (5/10/2022).
UJ mengisahkan, saat kejadian dirinya bersama anaknya duduk di bangku VIP. Ia melihat jelas gas air mata pertama, kedua, dan ketiga ditembakan ke arah Utara lapangan. Tidak masuk ke tribun penonton.
Kemudian, tembakan gas air mata berikutnya mengarah ke Selatan. Kata UJ, karena saat itu ada beberapa suporter dari Tribun Selatan yang turun.
Kapolda Jawa Timur Minta Maaf, ISESS: Lebih Terhormat Jika Mengundurkan Diri
“Yang di Selatan ini lain, begitu ditembakan langsung diarahkan ke tribun penonton,” imbuhnya.
UJ mengaku heran, gas air mata tidak diarahkan ke tempat dimana suporter turun, melainkan ke tribun.
Dirinya juga bingung kenapa ketika ada gas air mata, penonton tidak langsung keluar. “Saya heran kok penonton tidak langsung keluar. Saya tidak tahu kalau kabarnya gate 14, 13, 12, 10, ada yang tutup. Saya tidak tahu saat itu,” jelasnya.
Dari situ korban mulai berjatuhan. Awalnya satu orang wanita digotong oleh tiga orang pria menghampiri mobil yang dikira ambulans, di sattle ban dekat bangku pemain.
“Itu ditolak sama pihak Brimob. Malah didorong-dorong dengan tameng yang dari viber itu,” ungkap UJ.
Kemudian yang kedua datang dari Selatan. Yang dibopong juga suporter wanita. Namun, kembali ditolak oleh orang yang sama.
“Akhirnya yang ketiga, ada evakuasi lagi. Juga mendekati mobil itu. Ditolak lagi. Ketika ini, baru si suporter itu melawan. Bahkan di tendang juga tameng, bukan aparatnya. Saya tahu,” tegasnya.
Tragedi Kanjuruhan, Polri Sampaikan Tak Ada Penangkapan Aremania
UJ mengingat betul saat dirinya turun dari VIP bersama anaknya, ditangga sudah penuh orang. Banyak orang yang ditidurkan tanpa alas.
“Saya tahunya orang meninggal, kepalanya ditutupi kardus. Sedangkan yang lainnya masih dikipas-kipas,” pungkasnya
Terkait Tragedi Kanjuruhan ini Kapolres Malang dicopot. Sementara Danyon, Danki serta Danton Brimob sebanyak 9 orang dinonaktifkan.
Mereka adalah, Danyon Brimob AKBP Agus, Danki AKP Has Darman, AKP Nanang, Danton Aiptu Solikin, Danton Aiptu M Samsul, Danton Aiptu Ari Diyanto, Danki AKP untung, Danton AKP Danang, Danton AKP Nanang dan Danton Aiptu Budi.
Reporter : Charlie Tobing
Editor : Darman Tanjung














