KEADILAN – Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) disebut ingin memperkuat posisi ormas keagamaan itu dalam internal Partai Kebangkitan Nusantara (PKB). Hal tersebut dikatakan pengamat politik dari Lingkar Madani, Ray Rangkuti menanggapi memanasnya hubungan PBNU dengan PKB.
“Bisa jadi mereka mau memperkuat kembali posisi NU ke dalam PKB. PKB selama ini kan terlalu lama di pimpin oleh Muhaimin Iskadar atau cak imin. Itu bisa terjadi,” ujar Ray kepada Keadilan.id, Kamis (8/8/2024).
Namun kata Ray, PBNU tidak mudah menggeser posisi Cak Imin dari PKB.
Pasalnya, Cak Imin berhasil membawa kembali PKB ke senayan untuk periode 2024-2029. Pileg tahun ini, PKB berasa di posisi keempat di DPR RI dengan meraih suara sebanyak 16.115.655 atau 10,62 persen. Perolehan ini naik sebanyak 0,93 persen dari Pemilu 2019 lalu yang meraih 13.570.097 atau 9.69 persen.
“Menurut saya, tidak akan mudah mereka lakukan. Karena bagaimana menggeser orang yang baru sukses membawa partai ini meningkat. Yang bisa melakukan itu pakai kekuasaan, kalau cuman gerakan kultural agak sulit,” bebernya.
Namun kata Ray, persoalan utama PBNU dengan PKB berawal dari pembentukan Pansus Angket Haji DPR RI untuk mengusut dugaan permasalahan dan indikasi korupsi penyelenggaraan haji 2024 oleh kementrian agama yang dipimpin oleh Yaqut Cholil Quomas. Di mana, Pansus haji ini diinisasi dan disahkan oleh Muhaminim Iskandar, ketum PKB yang juga Wakil Ketua DPR.
Sebenarnya kata Ray, kisruh ini semakin kencang manuvernya baik PBNU maupun PKB karena saling mempertahankan posisi masing-masing. Ray pun yakin, kisruh ini tidak akan berjalan lama karena jabatan Menteri Agama akan berakhir bulan Oktober mendatang. “Saya kira akan berakhir sendiri karena pemicunya sudah enggak ada lagi,” tukasnya.
Diketahui, belakangan konflik PBNU dan PKB meruncing lantaran Ketum PBNU, Yahya Cholil Staquf tidak terima dan menolak pembentukan Pansus Angket Haji DPR RI untuk mengusut dugaan permasalahan dan indikasi korupsi penyelenggaraan haji 2024 oleh kementrian agama yang dipimpin oleh adik kandungnya, Yaqut Cholil Quomas.
Yahya menilai, pembentukan pansus haji diinisasi dan disahkan oleh Cak Imin sebagai usaha untuk menyerang dirinya. Penilaian Yahya ini dikarenakan menteri agama adalah adik kandungnya. Maka pansus angket DPR yang disahkan Muhaimin kepada menteri agama, dinilai secara langsung sebagai upaya PKB dan Muhaimin menyerang dirinya dan PBNU lewat DPR.
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menganggap Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU, Yahya Cholil Staquf dan Saiffullah Yusuf telah gagal mempolitisasi Nahdlatul Ulama (NU). Maka, saat ini keduanya berusaha untuk melakukan gerakan politik yang mengganggu kepemimpinan Muhaimin di PKB.
“Mempolitisir NU gak laku kok lanjut mempolitisir PKB, emang siapa lu.. Anda sopan kami segan, kalo gak sopan jangan ajak-ajak kite..,” ujar Muhaimin dalam akun X @cakimiNOW.
Muhaimin menyatakan bahwa upaya Gus Yahya dan Gus Ipul untuk mendegradasi kekuatan PKB tidak berhasil dilakukan. Alasannya, PKB berhasil meraih kenaikan suara dan kursi legislatif di tingkat pusat dan daerah pada Pemilu 2024.
“Prestasi perolehan PKB pada Pemilu 2024 diakui semua pihak dan kita syukuri sebagai keberhasilan kader-kader yang tidak lagu bergantung pada siapapun. Digembosi Yahya dan Saipul di pemilu malah membuat perolehan PKB meningkat tajam,” sambungnya.
Muhaimin pun menganggap bahwa Gus Yahya dan Gus Ipul telah melanggar pernyataannya sendiri yang tidak ingin melibatkan PBNU dalam urusan politik. Berbagai pernyataan yang dibuat keduanya, lanjut Muhaimin, justru bakal membuat kepercayaan publik PBNU mengalami penurunan.
“Omongan Yahya dan Saipul gak laku. Yang rusak itu Yahya sama Saipul, kok PKB ditarik-tarik untuk ikut rusak, apa gak semakin menurunkan tingkat kepercayaan pada PBNU?” tukasnya.
Reporter: Odorikus Holang
Editor: Penerus Bonar
BACA JUGA: Menutup Masa Bhaktinya, DPRD Kota Bandung Sahkan 4 Perda







