Singapura Resesi Akibat Covid-19, Bagaimana Nasib Indonesia?

KEADILAN- Singapura resmi memasuki tahap resesi karena dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi alias pertumbuhan produk domestik bruro (PDB) negatif dalam satu tahun.

Sebenarnya Singapura adalah salah satu ekonomi terpandang di dunia. Negara ini dinilai paling terbuka, dan menjadi barometer kesehatan perdagangan global.

Resesi di Singapura menunjukkan peringatan bahwa ekonomi global sedang menuju penurunan. Semua terjadi tak lain karena virus corona (Covid-19) yang membuat semi lockdown (circuit breaker) dilakukan negeri itu. Singapura memberlakukan aturan circuit breaker, dari 7 April hingga 1 Juni. Warga diminta tetap di rumah, tempat kerja ditutup.

Hanya layanan penting seperti pasar, supermarket, klinik, rumah sakit, transportasi dan perbankan yang diperbolehkan buka. Negeri itu sempat bak kota mati.

Kabar dari Negeri Singa tersebut sontak menimbulkan kekhawatiran di Tanah Air. Apalagi Singapura adalah mitra dagang dan investor utama untuk Indonesia.

Kekhawatiran akan resesi juga muncul ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti pemimpin daerah bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 akan mengalami kontraksi cukup dalam hingga -4,3 persen. Penyebabnya tidak lain adalah Covid-19 baru yang pertama kali muncul di Wuhan, Cina tidak hanya menggerogoti kesehatan masyarakat di Tanah Air, tetapi juga ekonomi.

Kejadian yang menimpa ekonomi Singapura pun menjadi perhatian bagi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dia memastikan pemerintah mewaspadai dampak resesi ekonomi yang dialami Singapura. Dirinya akan menjaga kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu tingkat konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi.

Dia menceritakan, resesi Singapura dikarenakan ekonominya sangat bergantung pada perdagangan internasional. Di saat Covid-19 melanda banyak negara, maka perdagangan pun ikut terhenti sehingga hal itu berdampak besar bagi perekonomiannya.

“Domestic demand-nya tidak bisa mensubstitusi. Oleh karena itu penurunan dari Singapura sangat besar, karena memang tidak terjadi perdagangan internasional yang selama ini menjadi engine of growth-nya,” kata Sri Mulyani di gedung DPR, Jakarta, Rabu (15/7/2020) lalu.

Meski mesin utama penggerak perekonomian Indonesia berbeda, agar ekonomi nasional tidak tertular resesi Singapura, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini akan melakukan berbagai cara untuk menjaga tingkat konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi. Salah satu upaya melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang menyasar enam klaster sekaligus.

“Kita tentu waspadai, karena bagaimanapun juga Indonesia engine of growth kita konsumsi, investasi, dan ekspor. Hari ini pemerintah menggunakan seluruh mekanisme anggarannya untuk mensubstitusi pelemahan di sisi konsumsi dan di sisi investasi maupun ekspor,” ujarnya.

Sri Mulyani berharap program penempatan dana pemerintah kepada perbankan bisa menggerakkan ekonomi secara nyata, sehingga ekonomi nasional bisa terhindar dari jurang resesi.

Di sisi lain, Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menanggapi resesi yang dihadapi Singapura. Faisal meyakini, Indonesia bisa lolos dari jurang resesi karena peran konstruksi dalam PDB Indonesia lebih kecil daripada Singapura.

“Insya Allah tidak. Peranan sektor konstruksi dalam PDB Indonesia jauh lebih kecil ketimbang Singapura, hanya 10,75 persen,” ujarnya seperti dikutip dari blognya www.faisalbasri.com yang diunggah, Jumat, (17/7/2020).

Lebih jauh Faisal menjelaskan, salah satu pemicu kemerosotan ekonomi Singapura dipicu oleh sektor konstruksi. Peranan ekspor barang dan jasa dalam PDB di Singapura juga sangat tinggi, bahkan jauh lebih besar dari PDB yaitu 174 persen.

Angka ekspor lebih besar dari PDB padahal ekspor bagian dari PDB ini disebabkan oleh status Singapura sebagai negara transhipment dan menjadi hub dari negara-negara tetangganya termasuk Indonesia. Ketika ekspor turun, impor pun berpengaruh.

Dengan status negara transhipment itu juga, Singapura yang dua sisinya menurun, maka nettonya adalah nol. Tapi untuk kasus Singapura porsi impor dalam PDB walaupun juga tinggi lebih rendah dari porsi impor riil, yaitu 146 persen sehingga efek nettonya negatif terhadap pertumbuhan.

Atas dasar ini, Faisal menilai Indonesia beruntung. Sebab, peranan ekspor barang dan jasa relatif rendah dan jauh lebih rendah dari Singapura, hanya 18,4 persen. Sementara itu, peranan impor hampir sama dengan peranan ekspor, yaitu 18,9 persen.

“Kebetulan juga impor merosot lebih dalam dari ekspor. Jadi kemerosotan perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) justru positif buat pertumbuhan ekonomi,” kata Faisal.

Ke depan, Faisal menyarankan kepada pemerintah Indonesia untuk bisa terus menggenjot belanja pemerintah dan menahan laju penurunan konsumsi rumah tangga agar terhindar dari krisis lebih dalam.

Dua hal tersebut selama ini menurutnya merupakan penopang utama perekonomian dengan sumbangan dalam PDB sebesar 57 persen. Sementara dari sisi investasi tidak bisa diandalkan karena dunia usaha fokus mempertahankan produksi yang ada.

Di akhir tulisannya Faisal optimistis bila Covid-19 bisa segera dijinakkan. Indonesia juga disebut berpeluang tidak mengalami resesi karena pertumbuhan kuartal III/2020 masih ada kemungkinan positif kembali.

“Separah-parahnya tekanan yang bakal kita hadapi, agaknya resesi tidak akan sedalam Singapura dan beberapa negara tetangga,” tandas mantan senior INDEF itu.

AINUL GHURRI