KEADILAN – Guru Patimpus berjasa dalam mendirikan Kota Medan. Sosoknya yang pluralis, menjadi kunci pemersatu masyarakat Medan hingga sekarang.
Hal tersebut diungkapkan para penulis Bunga Rampai Guru Patimpus Sembiring Pelawi dalam peluncuran buku mereka, di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (22/10/2022). Adapun penulis buku tersebut yaitu, Roy Fachraby Ginting, Dr Bakhrul Khair Amal, Drs Wara Sinuhaji, dan Drs Achmad Riza Siregar.
Mengangkat Kembali Pemikiran Pluralisme Pendiri Kota Medan Melalui Pendidikan
Di acara bedah buku, Roy Fachraby Ginting mengatakan bahwa buku tersebut berisi sejarah Kerajaan Haru (Karo Kuno) hingga beridirinya Kota Medan.

“Buku ini kami fragmen dari sejarah Haru dulu. Bagaimana kebesaran Kerajaan Haru dulu, lalu dilanjutkan dengan munculnya raja berempat, penguasa di wiliayah Kota Medan,” unar Roy dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, ketika Kerajaan Haru runtuh, lahirlah Raja-raja Urung yaitu, Raja Urung Sepuluh Dua Kuta marga Sembiring Pelawi, Raja Urung Senembah, Raja Urung Suka Piring, dan Raja Urung Sungal Serbanyaman.
Selain itu, buku tersebut juga menggali kekerabatan masyarakat Karo dan Melayu. Serta bagaimana mereka bisa bersatu dan tidak pernah ada permasalahan antar golongan.

Sedangkan sejarawan Wara Sinuhaji menjelaskan, bahwa pada awalnya Kota Medan didirikan oleh Guru Patimpus di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura.
“Sejak saat itu masyarakat Karo, masalah kultural sudah selesai,” ujar Wara.
Lestarikan Ajaran Pendiri Kota Medan, Buku Bunga Rampai Guru Patimpus Diluncurkan
Sedangkan Pengamat Sosial Dr Bakhrul Khair Amal memaparkan Guru Patimpus membuat sebuah perkampungan yang kemudian menjadi Kota, itu sudah masuk pada globalisasi di Indonesia maupun d luar Indonesia.
“Kita sudah tidak berbicara lagi tentang nasionalisasi, tetapi bicara tentang internasionalisasi,” ujar Bahkrul.
Menurutnya, Guru Patimpus tidak mengenal namanya otonomi daerah . Dimana, antitesis dari otonomi daerah adalah bedasarkan suku dan agama. Tanda antitesis dari otonomi daerah sendiri ialah adanya penduduk asli dan penduduk pendatang.
Sementara Achmad Riza Siregar lebih mrnyoroti ajaran yang diturunkan oleh Guru Patimpus tentang pluralisme yang dapat menangkal segala macam radikalisme.
Dalam ajaran Guru Patimpus ada namanya ‘tambah satu’. Jadi selain keluarga, saudara, kerabat ada lagi. Tambah satu ini artinya, siapa pun diterima untuk menjadi bagian dari Masyarakat Karo.
“Ini yang saya pikir perlu diterapkan ketika dan ditiru,” tegasnya.
Adapun acara ini peluncuran buku ini diketuai oleh dr Roy Kaban, dan dihadiri oleh Ketua DPRD Medan Hasyim, Bupati Karo Corry Sebayang dan Tokoh Masyarakat Karo.
Reporter : Charlie Tobing
Editor : Darman Tanjung








