Oleh: Yusuf Ibrahim
Bagi sebagian orang, ada semacam kenikmatan aneh ketika merasa paling tahu tentang hal yang tak pernah dijalani atau baru sedikit menjalani.
Seperti jeli menilai rasa kopi dari bungkusnya. Padahal kalau nongkrong ngopi, paling sering minta ditraktir daripada mentraktir. Atau mengomentari taktik sepak bola tanpa pernah tahu urutan lisensi pelatih sepak bola dan bagaimana mendapatkannya.
Itulah kenikmatan para “kurator pelatih” sepak bola yang bermunculan bak jamur di musim hujan di negeri ini, setelah pelatih timnas Patrick Kluivert menyusul Shin Tae-yong diputus kontraknya oleh PSSI.
Mereka makhluk unik. Banyak yang tak pernah benar-benar bisa menendang dan mengontrol bola, tapi lihai sekali melakukan passing asumsi dan dribbling argumentasi kepelatihan. Mereka menuntut pelatih pengganti yang begini dan begitu, dari negeri ini dan itu.
Mereka lahir dari lini masa sosial media, tumbuh di kolom komentar, dan beranak-pinak di grup WhatsApp komunitas. Penuh semangat nasionalisme. Sambil rebahan.
Setiap kali ada kekalahan dan pemecatan pelatih, mereka muncul bak relawan tanpa surat tugas. Sibuk “menyelamatkan” sepak bola nasional dari kekeliruan federasi.
Lucunya, makin gagal pelatihnya, makin banyak kuratornya. Seolah kegagalan itu alarm spiritual yang memanggil mereka turun berbondong-bondong ke kolom komentar.
Padahal, kalau disuruh melatih tim Agustusan tingkat RW, besar kemungkinan mereka sibuk bikin survei, “Main 4-3-3 atau 4-4-2, guys?” Sementara yang dilombakan adalah minifootball, yang jumlah pemainnya 6 lawan 6.
Pelatih sungguhan dan mantan pemain besar saja sering salah menilai siapa yang pantas memimpin tim. Kalau yang berpengalaman saja bisa keliru, bagaimana dengan mereka yang tak pernah ikut latihan pemanasan Timnas sekalipun?
Tapi begitulah bagi kebanyakan netizen. Keyakinan memang tak butuh pengalaman. Kadang hanya butuh sinyal kuat, kuota cukup, dan percaya diri berceloteh.
Intinya, “si kurator” menilai strategi dari layar, menimbang taktik dari kolom komentar, lalu merekomendasikan pelatih seolah paling benar.
Lain halnya dengan pengamat sepak bola di TV atau YouTube. Ulasan mereka memang berbasis data dan analisis, tapi tak jarang hanya opini tanpa solusi yang benar-benar bikin jatuh hati.
Inilah keindahan sekaligus keunikan bangsa sepak bola kita. Semua ingin berperan dan ikut bermain, meski perannya tak jelas dan mainnya jauh dari lapangan.
Sepak bola pun jadi panggung sempurna. Tempat semua orang bisa merasa menjadi pelatih, tanpa perlu tahu cara menang yang sesungguhnya.
Mari menjadi “kurator pelatih” calon pengganti timnas saat ini. Wkwkwkwk…!
Tabik.
Penulis adalah penikmat sepak bola








