KEADILAN – Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) akhirnya menyatakan dukungan kepada Afrika Selatan (Afsel) melawan Israel terkait genosida di Gaza Palestina. Sebelumnya, Slovenia juga menyatakan dukungan sama untuk Afsel menyeret Israel ke Pengadilan Internasional. Dunia internasional saat ini menyatakan kemarahan kepada negara zionis tersebut atas pembantaian 24 ribu warga Gaza selama 100 hari genosida.
Menteri Luar Negeri Slovenia Tanja Fajon dalam sebuah konferensi pers menyatakan Slovenia akan mengambil bagian dalam sidang yang akan berlangsung pada bulan Februari 2024 mendatang. “Ini adalah spektrum yang sangat luas dari dugaan pelanggaran yang telah dilakukan di kawasan ini selama beberapa dekade dan dampak mengerikannya masih terlihat hingga saat ini,” katanya.
Slovenia, sebagai salah satu dari sedikit negara UE, telah memutuskan untuk berpartisipasi aktif dan menyampaikan pandangannya dalam proses ini di hadapan Mahkamah Internasional, yang telah diminta untuk memberikan pendapat.
Sementara itu Kemenlu Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga mengatakan Indonesia akan membuat pernyataan untuk sidang bulan Februari tersebut. Ia menyebut, Kemenlu sedang mengumpulkan masukan dari para ahli hukum internasional untuk mempersiapkan pernyataan tersebut.
“Hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri harus dihormati. Pendudukan Israel atas Palestina yang telah berlangsung selama lebih dari 70 tahun, tidak akan menghapus hak kemerdekaan rakyat Palestina,” kata Marsudi seperti dikutip dari Antara.
Israel Makin Keji
Ditengah tuduhan Afsel di Mahkamah Internasional, Israel tampaknya tidak peduli. Tentara Israel bertindak makin keji di Gaza. Laporan terbaru menyebutkan militer Israel menangkap lima orang relawan medis Bulan Sabit Merah Palestina di Provinsi Tulkarm, Tepi Barat pada Rabu (17/1/2024) malam lalu.
Dikutip dari Kantor Berita Palestina, WAFA, pasukan Israel tanpa alasan yang jelas para relawan dari kamp Tulkarm saat mereka memberikan pertolongan pertama kepada korban luka saat terjadi serangan Israel di kamp tersebut.. Para relawan itu secara jelas mengenakan identitas dan ambulans khusus, mereka juga dilengkapi pakaian yang secara jelas menunjukkan bahwa mereka adalah paramedis.
Namun, militer Israel membawa mereka secara paksa ke pusat penyelidikan darurat yang dibangun selama agresi Israel berlangsung di Kota Tulkarm dan kamp pengungsi, menurut Bulan Sabit Merah. Relawan yang ditangkap yakni Hamza Shreim, Essam Abu Issa, Namer Fayyat, Mohammed Dameri dan Mohammed Abu Dayya.
Melewati 100 hari serangan Israel ke wilayah Palestina, lebih dari 24.000 orang meninggal dunia, mayoritas adalah warga sipil termasuk anak-anak, perempuan dan bahkan bayi yang baru dilahirkan.
Reporter: Syamsul Mahmuddin
BACA: Sidang Genosida di Palestina, 47 Pengacara Afsel Juga Tuntut AS dan Inggris







