KEADILAN – Keluar dari Stasiun Kereta Shibuya di Tokyo, antrean panjang turis mancanegara terlihat sabar menunggu giliran di tengah padatnya manusia hilir mudik di antara bangunan pusat perbelanjaan distrik Dogenzaka. Semua berdiri tertib untuk foto selfi bersama Hachiko, patung anjing yang terbuat dari perunggu.
Penasaran, keadilan.id pun ikutan antri untuk bisa melihat patung anjing yang kelihatannya biasa saja. Ternyata itu patung Hachiko yang memang biasa saja. Yang hebat adalah cerita hidupnya.
Hachiko adalah anjing ras Akita yang mendunia setelah kisah hidupnya dijadikan film berjudul “Hachi: A dog’s tale”. Film tahun 2009 yang sukses tersebut dibintangi aktor kondang Richard Gere.
Hachiko dikenang sebagai anjing setia yang selalu mengantar Profesor Hidesaburo Ueno ke Stasiun Kereta Shibuya, setiap pagi. Sorenya, Hachiko pasti sudah berada di depan stasiun menunggu Sang Profesor pulang kerja.
Naas, di tahun 1925, pujaan hati Hachiko terserang pendarahan otak di kampusnya dan tak tertolong. Sejak itu, Hachiko yang tidak mengerti apa yang terjadi, selalu terlihat menunggu majikannya pulang kerja di Stasiun Shibuya.
Hal ini berlangsung selama lebih dari 9 tahun sampai ia ditemukan tak bernyawa di salah satu jalan dekat Stasiun Shibuya.
Hachiko yang sering dianggap sebagai anjing jalanan, kerap diperlakukan tidak baik oleh orang yang tidak mengenalnya. Walaupun demikian, ia tetap setia menanti Sang Profesor di depan stasiun tiap sore.
Namanya mendadak tenar ketika salah seorang murid Ueno bernama Saito, seorang peneliti hewan khususnya anjing ras asli jenis Akita, mulai memperhatikan dan menelusuri kehidupan Hachiko. Ia lalu menulis beberapa artikel tentang Hachiko yang dipublikasikan di harian terkenal Asahi Shimbun.
Sejak itu, perlakuan masyarakat berubah. Hachiko bahkan jadi tamu kehormatan di acara pameran anjing di Giza-Matsuya. Menjadi anjing kesayangan masyarakat, Pematung Teru Ando lalu membuat patung Hachiko yang diletakkan di sekitar Stasiun Shibuya.
Akhir hidupnya di tahun 1935, Hachiko ditemukan tak bernyawa oleh isteri pemilik toko minuman keras di dekat jembatan Inari, Shibuya. Tepat di depan pintu masuk halaman rumahnya. Posisi kepala Hachiko saat ditemukan mengarah ke pemakaman tempat Prof. Ueno dikebumikan.
Konon, beberapa pemilik toko dan karyawan yang sering memberi makan dan memperlakukan Hachiko dengan baik menyatakan bahwa malam sebelum kematiannya, Hachiko mendatangi mereka satu persatu seolah mengatakan salam perpisahan.
Kabar kematiannya menyebar luas. Konon, lebih dari 10.000 orang menunjukkan rasa duka dengan mengunjungi patung Hachiko selama tiga hari. Mereka meletakkan bunga belasungkawa di dekat patungnya.
Tubuhnya kemudian dibawa ke laboratorium hewan di Kampus Komaba, Fakultas Pertanian Imperial University Tokyo. Tubuhnya dikremasi dan abunya ditanam disamping makam Prof Ueno. Kulit Hachiko lalu diawetkan dan hasil taksiderminya dipajang di Museum Sains Nasional di Ueno, Tokyo.
Setahun setelah kematiannya, Hachiko dijadikan salah satu materi pengajaran moral dan kebaikan yang dicantumkan pada buku pelajaran murid sekolah dasar di seluruh Jepang.
Kisah Hachiko belum berakhir. Di tahun 1945 Pemerintah Jepang yang kekurangan logam akibat perang memutuskan untuk melebur patungnya. Masyarakat pun mengadakan upacara perpisahan dan menganggapnya sebagai kematian Hachiko yang kedua kalinya.
Peleburan Hachiko berlangsung hanya sehari sebelum Kaisar Hirohito mengumumkan penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu, pada 15 Agustus 1945.
Tahun 1947 patung Hachiko kembali dibuat dengan dana yang mengalir dari masyarakat. Patungnya kini berada di Shibuya. Sampai hari ini Hachiko tetap dihormati.
Walaupun buku pelajaran moral di jaman perang sudah tidak digunakan lagi di sekolah-sekolah Jepang, kisah hidupnya kerap dipakai masyarakat untuk mengajarkan anak tentang kesetiaan yang teguh, ketekunan dan ketaatan.****
BACA JUGA: Segarnya Smoothie di Ariake, Tokyo














