Di tengah riuhnya kota Jakarta yang serba mahal, terdapat sebuah sudut kemanusiaan di Klinik Pratama Bhakti Sosial Santo Tarsisius, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Di sana, seorang pria senja dengan tutur kata lembut melayani antrean warga yang membutuhkan pertolongan medis. Beliau adalah Dr. drh. Mangku Sitepoe, seorang dokter yang menghibahkan sisa hidupnya untuk melayani rakyat kecil dengan tarif tetap Rp10.000—sebuah nominal yang sudah mencakup biaya pemeriksaan sekaligus obat-obatan.
Jejak Pendidikan: Sang Pembelajar Sepanjang Hayat
Lahir di Tiga Binanga, Tanah Karo, Sumatera Utara, pada 25 Mei 1936, Mangku Sitepoe adalah sosok yang membuktikan bahwa pendidikan tidak mengenal garis finis. Jejak akademiknya mencakup dua disiplin ilmu kedokteran yang berbeda:
Pendidikan Dasar & Menengah: Menyelesaikan SD (1951) dan SMP (1954) di Kabanjahe, lalu melanjutkan SMA di Medan (1957).
Gelar Dokter Hewan (drh.): Merantau ke tanah Jawa dan lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1963.
Gelar Dokter Umum (dr): Saat bertugas di daerah, rasa ibanya muncul melihat warga yang sakit tanpa bantuan medis. Di usia 40 tahun, ia kuliah lagi dan lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) pada tahun 1978.
Pendidikan Tinggi (S2 & S3): Haus akan ilmu, ia kembali ke UGM untuk meraih gelar Magister (S2) pada tahun 1983 dan gelar Doktor (S3) pada tahun 1992 dengan fokus penelitian pada bidang zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia).
Karier Pemerintahan: Dari Daerah hingga Puncak Birokrasi
Sebelum dikenal sebagai “Dokter Rakyat”, Mangku Sitepoe memiliki rekam jejak mentereng di pemerintahan Indonesia. Beliau pernah menduduki beberapa jabatan struktural penting:
Kepala Dinas Kehewanan Kabupaten Langkat: Menjadi gerbang awal interaksinya dengan kesehatan masyarakat pedesaan.
Kasubdit di Departemen Pertanian: Ditarik ke pusat sebagai tenaga ahli teknis.
Staf Ahli Menteri Pertanian: Jabatan tertinggi yang ia emban sebelum memasuki masa pensiun pada tahun 1995. Meski telah berada di puncak karier birokrasi, ia tidak pernah kehilangan empati pada masyarakat bawah.
Kehidupan Pribadi: Pilar Kekuatan dan Kedamaian Hati
Dukungan keluarga adalah bahan bakar utama pengabdiannya. Beliau menikah dengan Inget Br. Tarigan, wanita yang setia mendampinginya melewati masa-masa sulit hingga masa kejayaan. Kesedihan mendalam menyelimuti beliau ketika sang istri tercinta berpulang pada 29 September 2017.
Namun, Dokter Mangku merasa tenang karena telah berhasil mendidik ketiga anaknya menjadi pribadi yang sukses dan mandiri:
Ir. Sastra S. Sitepu
Sastriani Sitepu, S.H.
Sastrawan Sitepu, S.H.
Keberhasilan anak-anaknya serta kehadiran cucu-cucu yang dicintainya membuat Dokter Mangku merasa “urusan dunianya telah selesai”. Ia tidak lagi mencari harta untuk warisan, melainkan fokus mencari bekal spiritual melalui pelayanan.
Filosofi Rp10.000: Bukan Gratis, Tapi Menghargai

Banyak orang bertanya mengapa beliau tidak menggratiskan layanannya. Dokter Mangku memiliki alasan yang bijak: awalnya ia memang memberi layanan cuma-cuma, namun ia mendapati banyak obat justru dibuang atau tidak dihargai oleh pasien. Tarif Rp10.000 ditetapkan sebagai “akad” tanggung jawab agar pasien disiplin berobat.
”Uang pensiun saya sebagai mantan Staf Ahli Menteri sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tugas saya sekarang hanya menolong orang,” ungkapnya bersahaja. Hingga usia senjanya, beliau masih menempuh perjalanan menggunakan transportasi umum dari kediamannya di Kebon Nanas demi menjalankan tugas mulia ini.
Warisan Kemanusiaan
Selain praktik medis, ia juga produktif menulis lebih dari 26 buku bertema kesehatan dan peternakan organik. Dokter Mangku Sitepoe adalah teladan nyata bahwa kemuliaan tertinggi seorang manusia tidak terletak pada deretan gelar (Dr. drh. S3) atau jabatan menteri yang pernah disandang, melainkan pada seberapa tulus tangan kita terulur bagi sesama yang membutuhkan. (Berbagai sumber)
BACA JUGA: Polri dan Disdik Tapteng Salurkan Perlengkapan Belajar ke Sekolah Darurat Terdampak Bencana








