KEADILAN – Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yenny Wahid menyatakan dukungannya terhadap calon presiden Ganjar Pranowo dan calon wakil presiden Mahfud Md. Deklarasi dukungan Yenny tersebut digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (27/10/2023).
“Kami Barisan Kader Gus Dur mendukung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud Md,” tegas Yenny.
Menurut Yenny, faktor utama pihaknya mendukung Ganjar-Mahfud Md karena Kedekatan Mahfud dengan Gus Dur semasa ayahnya hidup.
“Prof Mahfud Md adalah orang yang selama ini dekat dengan kami, beliau ini dan juga kader Gus Dur, kedekatan ini sudah berlangsung lama kedekatan yang terjalin sejak Gus Dur masih ada,” jelasnya.
Diketahui, Yenny Wahid memiliki nama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid. Dia merupakan sosok tokoh perempuan Indonesia yang dikenal sebagai seorang intelek, aktivis, dan politisi.
Yenny Wahid lahir pada 26 April 1974 di Jakarta, Indonesia, sebagai putri mantan Presiden Indonesia Gus Dur.
Yenny merupakan alumnus SMA Negeri 28 Jakarta pada 1992. Dia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Trisakti, Jakarta. Setelah itu, Yenny memilih melanjutkan pendidikan magister di Harvard Kennedy School of Government, Amerika Serikat.
Di dunia politik, Yenny terkenal sebagai salah satu pendiri Partai Kedaulatan Bangsa dan pengelola Wahid Institut, merupakan organisasi yang berupaya untuk merealisasikan pemikiran-pemikiran Gus Dur.
Ketika Gus Dur terpilih sebagai Presiden Indonesia pada 1999-2001, Yenny Wahid diberi amanah sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik, jabatan yang menjadi tanggung jawabnya pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Yenny Wahid memang terkenal sebagai politikus. Tapi dia memulai karier dunia profesional sebagai jurnalis. Dia pernah bertugas sebagai koresponden untuk dua koran Australia, The Sydney Herald dan The Age, tepatnya pada 1997 dan 1999.
Dalam tugasnya sebagai jurnalis, dia pernah ditugaskan meliput peristiwa di Timor Timur, sekarang menjadi negara Timor Leste dan Aceh. Hasil liputannya tentang Timor Timur setelah referendum dianugerahi penghargaan Walkley Award.
Setelah ayahnya terpilih sebagai Presiden Indonesia, ia memilih terjun ke wilayah politik sebagai staf khusus presiden. Ia sempat dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menjabat untuk periode 2005-2010.
Jabatan politik lainnya, dia pernah menjadi Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa (2008-2012) dan Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru 2012.
Reporter: Odorikus Holang
Editor: Penerus Bonar







