Stasiun Jakarta Kota Diresmikan 8 Oktober 1929

KEADILAN – Pengguna kereta api Jabotabek pasti tahu Stasiun Jakarta Kota. Namun tidak banyak yang tahu hari ini stasiun sudah digunakan 98 tahun. Tepatnya sejak diresmikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda jhr. A.C.D. de Graeff, 8 Oktober 1929 lalu.

Stasiun Jakarta Kota karya besar arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, Frans Johan Louwrens Ghijsels. Karyanya dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen. Perpaduan struktur dan teknik modern barat dan bentuk tradisional setempat.

BACA JUGA; Anies Sebut Pernah Tolak Tawaran Capres dan Cawapres

Stasiun Jakarta Kota dikenal juga dengan nama Stasiun Beos. Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij. Nama Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur. Versi lain, nama Beos diambil dari kata Batavia En Omstreken. Artinya, Batavia dan sekitarnya.

Pada era penjajahan, Batavia memiliki peran penting bagi pemerintahan penjajah. Belanda selalu memperbaiki sarana dan insrastruktur yang ada di Batavia. Salah satunya jalur kereta api.

Setelah jalur kereta api pertama dibangun di Semarang Jawa Tengah, berbagai perusahaan kereta api mulai bermunculan. Mereka mulai mengembangkan jalur kereta untuk transportasi dan mendapatkan keuntungan.

Buku Arsitektur Bangunan Stasiun Kereta Api di Indonesia (2016), disebutkan peran Bataviasche Oosterspoorweg Maatschapij. Perusahaan swasta ini melayani jalur kereta Batavia-Karawang sepanjang 63 kilometer.

Pada 1898, perusahaan kereta api milik Pemerintah Belanda, Staatspoorwegen (SS), mengambil alih pengelolaan jalur kereta ini. Pada 1926 stasiun ini ditutup dan direnovasi. Selama renovasi, jalur dialihkan ke Batavia Utara (Batavia Noord) yang juga diakusisisi oleh SS.

Sebagai arsitek, Pemerintah Hindia Belanda menunjuk Ghijsels. Ia tergabung dalam Algemeen Ingenieur Architectenbureau atau Algemeen Ingenieur Architecten (AIA), sebuah biro umum sipil dan arsitektur. Tiga punggawa biro ini, selain Ghijsels, adalah Ir Hein von Essen, dan Ir F Stlitz.

Pada 8 Oktober 1929 Gubernur Jenderal Hindia Belanda Andries Cornelies Dirk de Graeff membuka stasiun baru. Karyawan kereta api bahkan mengubur dua kepala kerbau sewaktu peresmian. Satu di stationsplein (tanah lapang) di antara jam dan pintu masuk utama dan satu lagi di belakang bangunan baru.

Pada 1993, Stasiun Jakarta Kota mendapatkan predikat cagar budaya. Status ini berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Nomor 475 Tahun 1993. Stasiun ini kini memiliki 12 jalur rel kereta api dan berada di bawah Daerah Operasi (DAOP 1) Jakarta.

Reporter: Syamsul Mahmuddin