Strategi Cagub Pramono Anung Lebih ke Pendekatan Personal

KEADILAN– Bakal Calon Gubernur Jakarta Pramono Anung menyebutkan bahwa ia akan mengedepankan pendekatan personal dengan cara mengetuk hati para pendukung, termasuk menarik simpati bekas pendukung Anies Baswedan.

“Strateginya mengetuk hatinya, meminta tolong, mengajak, menawarkan program. Kalau dia tertarik Alhamdulillah, kalau tidak, saya akan datang lagi sampai dia tertarik,” ujar Pramono usai salat Jumat di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (6/9/2024).

Dalam upaya menarik pemilih muda, politikus PDI Perjuangan itu mengaku mendapat bantuan dari anaknya yang termasuk generasi Z. Ia menyadari gaya komunikasinya kerap dinilai kuno oleh anaknya, yang aktif memberikan kritik.

“Dia bilang, ‘Bapak ini terlalu old style ‘. Gimana enggak old style, saya sudah 61 dia baru 25. Kalau old style ya memang,” tuturnya.

Meski demikian, Pramono menegaskan dirinya tetap mengikuti tren zaman, termasuk dalam hal musik, olahraga, dan budaya populer.

“Bahkan kalau mau lihat playlist saya, lagu-lagu kalian juga kalah sama saya,” canda Pramono yang berpasangan dengan Rano Karno itu.

Tidak menutup kemungkinan, program mantan Gubernur Basuki Tjahja Purnama alias Ahok pun bakal digunakan Pramono Anung jika terpilih menjadi Gubernur Jakarta.

Menurutnya, pendekatan Ahok terhadap masyarakat Jakarta sangat bagus. Sebab, kedatangan warga ke Balai Kota Jakarta akhirnya mengetahui keluhan dan semakin terasa dekat dengan masyarakat Jakarta.

“Dulu Pak Ahok terkenal bisa komunikasi langsung dengan warganya. Membuka seluas-luasnya aduan masyarakat kepada gubernur. Menurut saya itu baik dan saya akan lanjutkan,” ujarnya.

“Tetapi akan lebih lengkap enggak?, semua orang akan datang ke Balai Kota, ada laporan digital kepada Gubernur harus ditanggapi dengan baik. Sehingga nuansanya begitu sangat lengkap. Seperti saya katakan sekarang saya ini betul-betul belanja masalah di bawah. Termasuk urusan RT-RW, hal-hal sederhana ini yang kami lakukan,” sambungnya.

Meski dikenal sebagai orang teknokrat, kata Pramono, pengalaman itu akan ia gunakan dalam membangun Jakarta. Apalagi Jakarta sudah bukan lagi menjadi Ibu Kota Negara.

“Yang paling penting adalah Jakarta membutuhkan orang yang paling berani mengambil keputusan,” tandasnya.

Reporter: Ainul Ghurri
Editor: Darman Tanjung