KEADILAN – Reina, terpaksa menjadi tulang punggung dan menanggung kehidupan ayah kandungnya yang menderita stroke di rumah sangat sederhana milik mereka. Gadis belia ini juga terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi yang menghimpit. Uluran tangan para dermawan dan aparat terkait sangat diharapkan.
Berawal ketika Ferdinandus Rancis—ayah Reina—yang terserang stroke, November 2020 silam. Sejak saat itu pula, ia hanya bisa berbaring. Bahkan hanya untuk sekadar duduk pun, Ferdinandus harus dibantu.
Yulita Elensia Reina, nama lengkap Reina sebenarnya bukan anak semata wayang Ferdinandus. Ada lagi dua anakya. Namun, anak keduanya, sejak Januari 2021 lalu, pergi merantau ke Kalimantan. Dan, anak pertamanya sudah lebih dahulu pergi merantau ke Malaysia.
Meski kedua anak laki-lakinya itu pergi merantau dan kemungkinan sudah mendapat pekerjaan, tapi tak pernah mengirim bantuan ke kampung halamannya di Kampung Nengkal, Desa Rengkam, Kecamatan Lamba Leda Timur, Manggarai Timur, Flores, NTT.
Kondisi ini membuat Reina harus berjuang. Gadis kelahiran, 5 Juli 2004 ini, dengan berbagai cara mencari uang untuk sekadar membeli makan setiap harinya. Mulai dari membantu tetangga ke sawah atau kebun. Sementara mereka sendiri sudah tidak memiliki lahan untuk dikelola.
Reina yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas 5 sekolah dasar itu benar-benar menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya, sudah bercerai dengan ayahnya sejak Reina berusia 2,3 tahun. “Mama sudah nikah lagi,” kata Reina lirih ketika dihubungi KEADILAN, Rabu (17/3/2021).
Terkait derita yang dialami ayahnya, Reina tak bisa berbuat banyak. Ia hanya pasrah. Sebab, jangankan untuk biaya berobat, untuk makan sehari-hari saja, Reina harus banting tulang. Uang yang diperoleh dari hasil membantu tetangga hanya cukup buat makan saja.
“Bapa tidak pernah berobat sejak sakit sakit. Tidak pernah suntik. Tidak ada uang kaka untuk ke rumah sakit,” katanya dengan logat khas Manggari, ketika ditanya kenapa tidak membawa ayahnya untuk berobat.
Kondisi rumah yang mereka tempati juga jauh dari layak. Hanya berlantai tanah dengan dinding rumah yang sebagian terbuat dari anyaman bambu. Sudah terlihat bolong disana-sini.
“Kalau (untuk) beli beras, harus ikut (kerja) harian. Bantu bersih sawah orang. Bersih kebun,” katanya.
Meski berstatus keluarga miskin, Reina mengaku belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah setempat. Ia berharap adanya uluran tangan kasih dan peduli dari semua pihak untuk keluarganya.
“Tidak ada bantuan sejak bapak sakit. Saat bapak sehat dulu, masih bisa cari uang. Tapi sekarang saya sendiri yang kerja untuk hidup kami berdua,” katanya. Walaupun didera kemiskinan dan ayah yang sakit stroke, Reina terlihat sangat tabah menjalani hidup. Pancaran matanya yang polos menunjukkan rasa tanggungjawab terhadap ayah yang sangat disayanginya itu. Ia pun sudah tak berharap banyak dari kedua kakak laki-lakinya yang telah pergi merantau untuk memberikan bantuan.
Kondisi Reina dan ayahnya yang saking kurusnya sudah seperti tulang berbalut kulit itu tentu membuat miris. Padahal, Pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam setiap kesempatan selalu mengatakan, bantuan terhadap masyarakat miskin harus tepat sasaran.
Pertanyaannya, sudahkan Dinas Sosial Manggarai Timur mengetahui kondisi Reina dan ayahnya ini?
Odorikus Holang







