Bacokan Maut di Kafe Remang-Remang, Polres Jakut Sulit Bekuk 16 Pelaku

KEADILAN – 16 dari 19 pelaku pengeroyokan yang menyebabkan kematian Hanapi (53) di Kampung Bahari Tanjung Priok pada 1 Mei 2021 lalu, sampai saat ini masih dalam pencarian. Polisi mengaku masih kesulitan untuk menangkap pelaku.

Hal itu disampaikan Kanit Reskrim Polsek Tanjung Priok Iptu Asman Hadi. “Sampai saat ini, penangkapan semua pelaku masih terus kita upayakan,” ucap Asman kepada Keadilan, Jumat, (25/6/2021).

Sampai saat ini, Polsek Tanjung Priok baru mengamankan tiga tersangka berinisial MH, TR, dan DK. Dua dari tiga pelaku ini merupakan anak-anak. Keduanya sudah diadili dan dibawa ke Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPSK) Handayani Jakarta. Sedangkan untuk tersangka MH, saat ini berkasnya perkaranya sudah diserahkan ke kejaksaan.

“Ada tiga yang sudah ditangkap, dan dua orang dari tiga itu kan anak-anak. Itu sudah diadili. Kalau untuk yang pelaku MH kan sudah dewasa, prosesnya lebih lama. Tetapi saat ini berkasnya sudah tahap satu. Sudah diserahkan ke kejaksaan,” tambahnya.

Ia menjelaskan, para pelaku ini memang terbilang masih muda. Tetapi mereka lihai mengindari petugas. “Ini mereka-mereka memang masih muda. Tapi mereka ini seperti sudah lihai. Misalnya ada laporan pelaku di sini. Kita segera pergi kan melakukan penangkapan. Ketika kita disana, pelaku ini sudah tidak ada di situ,” ucap Asman menerangkan.

Asman juga mengaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk menangkap para pelaku pengeroyokan. “Tapi ini terus kita upayakan. Kita cari terus ini mereka,” pungkasnya.

Dari Kafe Remang-remang

Pengeroyokan yang menyebabkan tewasnya Hanapi di Tanjung Priok tersebut berawal dari perampasan telepon genggam. Saat itu, ada dua pemuda masuk ke dalam kafe remang-remang dan memaksa pengunjung menyerahkan telepon genggam. Setelah itu terjadi perdebatan.

Menurut Asma Hadi, kedua pemuda tersebut akhirnya membawa pergi telepon genggam pengunjung kafe. Tetapi tidak lama kemudian, kedua pemuda ini kembali membawa teman-temannya dan melakukan penyerangan.

Menurut informasi, saat kejadian Hanapi sedang menjemput Nuriyawati. Nuriyawati sendiri merupakan pemilik kafe tempat terjadinya peristiwa sekaligus teman Hanapi. Mereka berdua ini merupakan sama-sama orang tua tunggal alias duda dan janda.

Pada waktu menjemput Nuriyawati, korban beserta pengunjung kafe lainnya dikagetkan dengan kedatangan 19 pemuda. Para pemuda ini melakukan penyerangan dengan melemparkan batu dan petasan ke kafe milik Nuriyawati.

Hanapi dan Nuriyawati yang saat itu hendak pulang bersama, sontak panik dan melarikan diri ke arah tanah kosong bekas asrama Perusahan Jawatan Kereta Api (PJKA). Dalam pelarian, Nuriyawati terjatuh dan Hanapi berusaha untuk menolongnya. Tetapi diwaktu menolong Nuriyawati, Hanapi justru dibacok di paha kirinya.

Hanapi sempat ingin dilarikan ke rumah sakit. Namun nahas dia menghembuskan nafas terakhirnya di dalam perjalanan.

CHARLIE TOBING