Keadilan

Oleh: Agung Marsudi, Pendiri Duri Institut

KABAR-KABARI politik hari ini, (di situs wartaekonomi.co.id), ada potongan judul ngeri kali, “Di Tangan Oligarki Pencalonan Presiden Udah Kayak Jualan Panci”.

Ini Jum’at (28/10) yang harus bisa dimengerti. Sebab dalam suasana perayaan Sumpah Pemuda. “Satu Indonesia itu” harus juga dimengerti. Urusan copras-capres tak eloklah saling mengunci. Meski harganya tergantung oligarki, meski jualannya hanya panci. Ingat, “bom panci”.

Anies bin Baswedan, Puan binti Taufiq Kiemas, Agus bin Yudhoyono, Prabowo bin Sumitro, Airlangga bin Hartarto, Ganjar bin Sungkowo. Adalah nama-nama, tak sekedar nama. Mereka istimewa. Tak mungkinlah mereka “jualan panci”.

Mereka layak mempromosikan dirinya, dengan kompetensi yang dimiliki. Jika pilpres digampangkan seperti praktik jual beli di pasar becek. Tentu rakyatlah, sang pembeli yang harus membayar. Sesuai dengan daya beli dimiliki. Transaksi politik sejatinya hanya terjadi di pasar “gelap” partai politik.

Di mata rakyat, presiden itu urusan hati, pilihan hati. Bukan soal jual beli, apalagi panci.

Untuk rakyat yang baik-baik, suksesi 2024, harus berjalan dengan baik, demi kebaikan Indonesia. Janganlah mengusung narasi, Pemilu adalah pesta demokrasi. Sebab sebaik-baik pesta, rakyat tetap menanggung beban, dan biaya penyelenggaraan. Apalagi dari uang utang.

Urusan perolehan suara naik turun, seperti hati rakyat. Semua biasa di mata rakyat, semua juga bisa istimewa di hati rakyat.

Rebutlah hatinya, dan serahkan “pancinya” pada oligarki. Baru Indonesia punya harga diri.

Tagged: ,