KEADILAN- Wabah virus corona (Covid-19) bukan hanya mengganggu kesehatan dan menelan korban, namun juga telah memporak-porandakan perekonomian Indonesia di berbagai sektor.
Bahkan sejumlah perusahaan BUMN salah satunya, PT Angkasa Pura II (Persero) juga ikut merasakan imbas pandemi corona.
Industri penerbangan nasional itu terpaksa melakukan penghematan biaya operasional sekaligus memastikan bandara tetap beroperasi untuk menjaga konektivitas transportasi udara nasional di19 bandara yang dikelola perseroan.
Director of Engineering PT Angkasa Pura II Agus Wialdi menuturkan, penghematan operasional antara lain seperti di Bandara Soekarno-Hatta, yakni menghentikan sementara operasional Skytrain untuk disubstitusi dengan optimalisasi shuttle bus sebagai transportasi publik antarterminal.
Begitu juga dengan menutup Transit Oriented Development (TOD) di Soekarno-Hatta yang bisa menghemat dan mendukung physical distansing.
“Secara umum, penghematan biaya operasional terbesar adalah di penggunaan listrik. Kami melakukan penghematan penggunaan listrik di seluruh bandara hingga sekitar 46 persen,” tutur Agus dalam keterangan tertulis yang diterima KEADILAN, Rabu (22/7/2020).
Agus mengatakan, penghematan listrik antara lain dilakukan dengan mengurangi penggunaan fasilitas nonprioritas seperti penyejuk udara dan sebagainya, dengan tetap menjaga aspek keamanan, keselamatan, kesehatan dan pelayanan.
Bandara PT Angkasa Pura II juga melakukan penghematan penggunaan air bersih hingga 60 persen. Dengan begitu, PT Angkasa Pura II memperoleh fasilitas pinjaman maksimal Rp750 miliar dari PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk. Penandatanganan perjanjian kredit dilakukan pada Jumat 29 Mei 2020 lalu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Ananta Wahana saat melakukan kunjungan reses dengan PT. Angkasa Pura II, Selasa (21/07/2020) kemarin.
“Kalau kita bicara pandemi Covid saat ini, kita bukan hanya bicara soal masalah kesehatan, tetapi juga soal keuangan, yaitu laba, pendapatan, kerugian, dan hutang. Kita semua tahu bahwa tingkat pendapatan BUMN di masa pandemi ini anjlok semua, termasuk AP II,” kata Ananta Wahana.
Ananta memperkirakan, pendapatan Angkasa Pura II hingga akhir tahun 2020 ini hanya bisa meriah sekitar 50 sampai dengan 60 persen dari rata-rata pendapatan pertahunnya.
Meski demikian, Wakil rakyat asal Dapil Banten III ini mengaku optimis, perusahaan pelat merah itu bisa segera menata kembali kegiatan bisnisnya. Apalagi, belum lama ini AP II mendapatkan suntikan dana pinjaman dari BNI kurang lebih Rp750 milliar.
“Dengan dana segar ini AP II bisa mulai menata kembali alur bisnis penerbangan dan pengelolaan bandara yang babak belur dalam beberapa bulan terakhir sejak pandemi COVID-19,” katanya.
Mantan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Banten ini juga menyoroti terkait dengan wacana penggabungan AP I dan AP II menjadi satu perusahaan.
Ia memperkirakan akan banyak terjadi perampingan, baik di jajaran manajemen, perampingan operasional, maupun perampingan keuangan. Mengingat peran kunci AP II sebagai gerbang masuk dan keluar Indonesia, peleburan dan perampingan ini harus dijalankan dengan mulus.
“Jangan sampai perampingan ini mengganggu operasional perusahaan dan menimbulkan benturan-benturan internal,” tutupnya.
AINUL GHURRI








