Kepala BRIN Arif Satria Bertekad Dekatkan Sains dan Hasil Riset dengan Masyarakat

Rumah Inovasi Indonesia bermanfaat untuk pelajar sampai industri

KEADILAN – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertekad mendekatkan sains dengan masyarakat dan mendorong riset menembus ruang kolaborasi yang lebih luas dengan pasar pada 2026. Upaya itu dilakukan dengan terus memperkuat Rumah Inovasi Indonesia. Demikian disampaikan Kepala BRIN Prof Dr Arif Satria dalam diskusi dengan 25 pemimpin redaksi media massa di Gedung BJ Habibie Jakarta, Jumat (09/01/2026).

Rumah Inovasi Indonesia sendiri menurut Arif Satria semacam ekosistem berbentuk paltform digital. Sebuah wadah pusat integrasi pengelolaan inovasi nasional, yang bertujuan mempercepat hilirisasi hasil riset dengan menghubungkan peneliti, akademisi, industri, investor, dan masyarakat, serta mendampingi startup dan wirausaha pemula agar inovasi bisa menjadi solusi nyata dan bermanfaat bagi perekonomian Indonesia.

Rumah Inovasi Indonesia juga berfungsi menjadi galeri pameran prototip hasil riset yang bisa dilihat senua kalangan. Bagi pelajar akan menumbuhkan imajinasi dan minat riset. Sedangkan bagi industri menjadi semacam pameran agar mereka tertarik berkolaborasi dengan memproduksi hasil riset tersebut dalam skala industri.

Arif meyakini, melalui pameran ini, anak-anak sekolah dapat membayangkan dan berimajinasi, sehingga memunculkan keinginan untuk menjadi seorang periset.
“Buat anak SD, SMP, SMA, ini (Rumah Inovasi Indonesia), ini jadi apanya? Galerinya, ini bisa memunculkan inspirasi dan imajinasi anak-anak hari ini,” ujar Arif dalam acara diskusi bertema “Arah Baru Riset dan Inovasi Nasional: Dialog Kepala BRIN dan Pemimpin Redaksi Media” tersebut.

Arif menekankan pentingnya imajinasi sebagai dasar bagi seorang peneliti. “Bila anak SD sampai SMA ini tidak punya imajinasi, jangan harap (bisa jadi peneliti). Imajinasi itu dari mana, ya dari inovasi ini,” jelas mantan Rektor IPB University itu lagi.

Selain memancing imajinasi, fungsi utama Rumah Inovasi Indonesia adalah memamerkan prototipe riset BRIN yang siap produksi. Platform ini juga akan menjadi jembatan bagi pihak industri yang tertarik berkolaborasi untuk memproduksi riset tersebut secara skala industri, memungkinkan mereka untuk menghubungi langsung peneliti yang menciptakan prototipe.

Meningkatkan Jumlah Periset

Selain menumbuhkan minat riset sejak dini kepada pelajar, BRIN juga bertekad meningkatkan jumlah periset di kampus. Sebab, jumlah periset di kampus yang ada di Indonesia saat ini sangat minim. Paling top separuh dari jumlah dosen. Arif lalu membandingkan kondisi kampus-kampus top dunia seperti National University of Singapore (NUS) dan Monash University, dimana jumlah periset dua kali lipat dari jumlah dosen.

Menurut mantan Rektor IPB University ini, rendahnya minat riset di kampus juga karena jenjang karir periset yang tak jelas. Sehingga para peneliti di kampus yang memiliki banyak publikasi hasil riset berakhir sebagai tenaga kependidikan (tendik) dengan tugas administratif. Oleh karena itu, Arif mengaku telah berdiskusi dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.

“Saya bilang ke Pak Brian, bagaimana kalau kita berkolaborasi. Peneliti seperti ini di kampus berakhir menjadi tendik, kalau kita berdayakan di jabatan fungsional periset bisa menjadi setara Ahli Peneliti Utama (APU),” jelas Arif,

“Akan ada jabatan fungsional periset di kampus. Tidak hanya dosen, tapi juga periset. Kan ada yang senang meneliti, dia betah ngadepin kambing di kandang tapi kalau menghadapi orang, sulit. Yang suka menghadapi orang ya jadi dosen,” jelas Arif lagi.

Peneliti Ahli Utama (PAU), yang sebelumnya dikenal sebagai Ahli Peneliti Utama (APU), merupakan jabatan fungsional tertinggi bagi peneliti di BRIN. Jabatan ini setara dengan profesor riset, memungkinkan penyandang gelar Profesor di depan namanya, dan umumnya mensyaratkan jenjang pendidikan minimal S3.

Inisiatif ini merupakan terobosan BRIN untuk meningkatkan jumlah periset tanpa perlu merekrut tenaga baru, melainkan dengan memberdayakan peneliti yang sudah ada di kampus. Arif menginformasikan bahwa jumlah perguruan tinggi di Indonesia saat ini mencapai sekitar empat ribuan.

Menjawab pertanyaan pemimpin media massa terkait kadang temuan dan inovasi masyarakat kurang diperhatikan BRIN, Arif mengatakan pihaknya akan membentuk pos khusus masyarakat. Dimana pos khusus ini akan memverifikasi temuan dan inovasi tersebut. “Kita siap berkolaborasi dengan masyarakat. Masyarakat kan juga punya inovasi, kami siap memverifikasi temuan masyarakat itu. Nanti akan kami buat pos khusus masyarakat, ada sistem pakar atau expert system,” ujarnya.

Perjanjian Kinerja 2026

Dalam kesempatan itu, Arif Satria juga menjawab kritik terkait pandangan kurangnya manfaat riset bagi masyarakat. Menurutnya, pada 2026 ini BRIN menetapkan target inerja yang harus terhubung langsung dengan hasil berupa teknologi, inovasi, dan rekomendasi kebijakan yang digunakan oleh pemangku kepentingan.

“Yang paling penting adalah bagaimana inovasi BRIN dipakai oleh masyarakat dan industri. Kita harus bisa menunjukkan berapa inovasi yang benar-benar digunakan, apa dampaknya, dan apa nilai tambahnya bagi negara,” katanya.

Ia berjanji pada Desember 2026 akan ada perubahan pendekatan dalam pelaporan kinerja riset dan inovasi BRIN. Ia pun menggambarkan Desember 2026 mendatang setiap unit kerja BRIN tidak hanya melaporkan dari sisi output, tetapi juga outcome dan dampaknya. Dengan demikian, target teknologi, inovasi, dan kebijakan jadi jelas arah pencapaiannya dan terukur pemanfaatannya.

“Ke depan, laporan BRIN bukan lagi laporan output, tetapi outcome. Kita tidak lagi hanya menyebutkan jumlah publikasi dan mitra, atau angka-angka administratif lainnya, tetapi menunjukkan apa hasil dan dampak dari riset dan inovasi tersebut,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kajian valuasi dampak tersebut perlu dilakukan secara sistematis oleh tim terkait agar pada laporan akhir tahun 2026, kinerja BRIN dapat disajikan secara lebih komprehensif, terukur, dan kredibel di hadapan publik.

BACA JUGA: href=”https://www.keadilan.id/tanam-pohon-produktif-pemkot-jakarta-timur-manfaatkan-ruang-terbuka/”>Tanam Pohon Produktif, Pemkot Jakarta Timur Manfaatkan Ruang Terbuka

BACA JUGA: Dr. drh. Mangku Sitepoe, Legenda Pengabdian di Atas Lembaran Sepuluh Ribu Rupiah