Diduga Lakukan Pemerasan dan Kekerasan, Manajemen dan Pelatih Taksaka Swimming Club Dipolisikan

KEADILAN – Diduga melakukan pemerasan dan kekerasan verbal terhadap anggota yang akan pindah klub, manajemen dan pelatih Taksaka Swimming Club dilaporkan ke polisi. Selain diminta untuk membayar Rp4 juta, rekomendasi untuk pindah klub juga tidak diberikan.

Salah satu orang tua peserta yang tidak terima atas perlakuan itu manajemen Taksaka Swimming Club, Dr. Selamat Ginting kemudian melapor ke Polsek Jatisampurna, Rabu (11/03/2026). Laporannya teregistrasi dengan nomor LP/B/92/III/2026/SPKT/Sek Jatisampurna/Restro Bekasi Kota/PMJ yang ditandatangani Aipda Petrus Reo.

Kepada keadilan.id, Selamat Ginting menjelaskan, anaknya yang masih duduk di bangku SMP sudah sejak empat tahun lalu ikut klub renang yang beralamat di Jalan Melati Melati RT 004/RW 002, Kelurahan Jatiranggon, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Dan, saat pertama masuk tidak ada perjanjian jika ke luar harus harus membayar sejumlah uang kompensasi.

“Kami tidak pernah menandatangani perjanjian jika keluar dari klub harus membayar kompensasi. Saya menduga hal ini sudah banyak dilakukan kepada orang tua yang anaknya ikut di klub renang itu,” kata Selamat Ginting yang merupakan pengamat militer dan dosen di Universitas Nasional (Unas) tersebut.

Puncak kemarahan Selamat Ginting tatkala anaknya NAK Ginting hendak pindah klub. Pihaknya sudah mengajukan pengunduran diri tertanggal 8 Februari 2026 dan berhenti Latihan mulai 24 Feberuari 2026. “Surat mutasi tidak diberikan klub dengan ancaman harus membayar Rp4 juta,” papar Selamat Ginting. Namun ia menolak permintaan yang dinilainya sebagai upaya pemerasan tersebut.

“Tidak ada dasar hukum orangtua murid harus membayar biaya kompensasi sebesar Rp4 juta. Itu pemerasan. Klub hanya pernah memberikan draft rencana kompensasi, namun tidak pernah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Artinya hanya secara sepihak dari klub saja dan itu selemah-lemahnya hukum,” ujar Selamat Ginting, Kamis (12/03/2026).

Dua nama dilaporkan ke kepolisian, yakni pihak manajeman Taksaka Swimming Club berinisial IGD dan pelatih renang berinisial RN. Dijelaskan Selamat Ginting, IGD meminta kompensasi tersebut melalui pesan whatsapp yang diterima pihaknya, pada 9 Maret 2026. Sementara RN dilaporkan kaitannya dengan dugaan melakukan kekerasan verbal terhadap anggota yang ingin pindah klub.

Lebih jauh dijelaskan Selamat Ginting, ketika mengetahui akan dilaporkan ke polisi, pihak manajemen klub renang itu kemudian meminta orang tua anggota untuk menandatangani draft untuk membayar kompensasi. “Pada Selasa sore (10/03/2026), orang tua siswa (anggota, red) diminta untuk menandatangani draft untuk membayar kompensasi, tanpa melakukan sosialisasi terlebih dahulu,” papa Selamat Ginting.

Sejumlah orang tua tanpa sadar menandatanganinya dan sebagian lagi menolak. “Pihak yang telah menandatangani menyatakan penyesalannya karena merasa dibohongi klub. Apalagi surat itu tidak pernah dipegang orang tua murid dan hanya disimpan sepihak oleh klub. Ini namanya akal-akalan club untuk mencari pembenaran soal uang kompensasi kepada orangtua murid dengan membuat form yang harus ditandatangani tanpa dipersilakan untuk membaca terlebih dahulu,” katanya.

Menurut Selamat Ginting, terkait laporannya ke polisi tersebut, pihak orang tua akan menjadi saksi. Termasuk yang sebelumnya telah pindah klub dan menolak membayar kompensasi. Apalagi mereka telah membayar deposite sebesar Rp1 juta untuk tingkat prestasi. Biaya Rp1 juta disebutkan untuk membeli peralatan klub, namun peralatan yang dimaksud tidak pernah ada. Siswa membeli semua keperluan sendiri tanpa ada bantuan peralatan klub.

Langgar HAM
Selain ke polisi, Selamat Ginting juga berencana melaporkan pelatih Taksaka Swimming Club kepada pihak-pihak terkait sehubungan dengan tindakan kekerasan verbal yang dilakukan RN yang mengatakan, bagi yang pindah dari klub tersebut hanya akan menjadi kotoran di tempat lain dan tidak akan diterima klub lain.

“Jelas ancaman seperti itu dilakukan kepada murid renang yang rata-rata masih berusia remaja dan bahkan masih duduk di sekolah dasar. Klub ini jauh dari profesional dan tidak memiliki itikad baik. Kami siap menghadirkan saksi-saksi,” ujar Selamat Ginting.

Padahal, papar Selamat Ginting pihaknya telah banyak memberikan bantuan sponsor kepada Taksaka Swimming Club dari akses TNI yang dimilikinya. Termasuk mencarikan akses kolam renang terbaik untuk berlatih.

“Saya ingin melindungi siswa renang agar tidak menjadi korban pemerasan club dan pindah club adalah hak asasi manusia (HAM) yang dilindungi tanpa boleh ada pemaksaan apalagi harus membayar kompensasi sepihak. Club ini jauh dari ramah terhadap anak didik dan haram hukumnya orangtua murid dijadikan sember pemerasan,” ujar dosen FISIP UNAS ini.

Manajemen Taksaka Swimming Pool Intan Gianti Dirgantara yang dimintai tanggapan soal dana konpensasi bagi siswa klub yang akan pindah mengatakan, benar adanya. Intan lebih jauh mengatakan, terkait dana kompensasi dimaksud sudah ada perjanjiannya. “Sebelum siswa mendaftar sudah diperlihatkan AD/ART, berkenan atau tidak baru isi pendaftaran,” papar Intan, Jumat (13/03/2026).

Dijelaskan Intan, sejak berdiri dari tahun 2015, sudah banyak siswanya yang keluar. “Itu wajar saja,” katanya. Ketika ditanya berapa jumlah siswa di klub Taksaka, Intan mengatakan, tidak terlalu banyak. Dan, dia mengaku belum tahu kalau salah satu orang tua siswa di klub renang itu telah melaporkan dirinya ke polisi. “Belum tahu informasinya (dilaporkan ke polisi,red),” katanya.****

BACA JUGA: Komunitas BISA Edukasi Ratusan Siswa SD di Badung Pilah Sampah dari Sumber