KEADILAN – Hari ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berusia lima tahun. Untuk memperingati hari jadinya yang ke-5 pada 28 April 2026, BRIN mengusung tema “Inovasi untuk Negeri.” Momentum ini menjadi penegasan komitmen BRIN dalam menghadirkan riset dan inovasi yang berdampak nyata bagi masyarakat, industri, serta kemajuan bangsa.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyampaikan bahwa lima tahun perjalanan BRIN merupakan fase penting dalam membangun fondasi ekosistem riset nasional yang lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi. Menurutnya, BRIN hadir untuk memastikan ilmu pengetahuan menjadi penggerak utama pembangunan Indonesia.
“BRIN dibangun bukan sekadar sebagai lembaga riset, tetapi sebagai rumah besar inovasi nasional. Dalam lima tahun ini kita telah menata sistem, memperkuat kapasitas, dan memastikan hasil riset semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Arif.
Selama lima tahun terakhir, BRIN mencatat berbagai capaian strategis, mulai dari penguatan infrastruktur riset nasional, peningkatan publikasi ilmiah bereputasi internasional, pengembangan talenta peneliti muda, hingga semakin luasnya kolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, pemerintah daerah, dan mitra global.
Selain itu, berbagai inovasi BRIN telah memberi manfaat langsung bagi masyarakat, di antaranya teknologi air siap minum (Arsinum), sistem pemantauan kebencanaan berbasis satelit, inovasi benih pertanian unggul, teknologi kesehatan, energi baru terbarukan, hingga pendampingan UMKM berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Arif menegaskan bahwa arah BRIN ke depan adalah mempercepat hilirisasi riset agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium. Riset harus diterjemahkan menjadi produk, kebijakan, dan solusi yang mampu meningkatkan daya saing nasional serta kesejahteraan masyarakat.
“Ke depan, riset BRIN harus semakin berdampak. Kita ingin inovasi hadir di sawah petani, di pabrik industri, di layanan kesehatan, di ruang kelas, hingga di wilayah rawan bencana. Itulah makna sesungguhnya inovasi untuk negeri,” tegasnya.
Menurut Arif, BRIN juga akan memfokuskan agenda riset pada sektor-sektor prioritas nasional seperti pangan, energi, kesehatan, kebencanaan, transformasi digital, kelautan, serta pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Langkah ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan fondasi ilmu pengetahuan yang kuat.
Penghargaan
Arif Satria juga menyampaikannbajwa peringatan BRIN 5.0 juga diisi dengan berbagai kegiatan. Diantara kegiatan itu antaranya:
1. Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya BRIN Tahun 2025
2. Apresiasi Pegawai Kinerja Tinggi
3. Penganugerahan Penghargaan Kekayaan Intelektual
4. Penganugerahan Penghargaan Buku dengan Akses dan Sitasi Terbanyak
5. Penganugerahan Pengharagaan Unit Kerja RIN/WSWS (Wajib Serah Wajib Simpan) Data Primer dan Hasil Riset
6. Penganugerahan Penghargaan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)
7. Penganugerahan Penghargaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)
8. Penganugerahan Penghargaan Manajemen Risiko (MR)
9. Penganugerahan Penghargaan Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA)
10. Penganugerahan Unit Penyelenggara Pelayanan Prima
Risat dan Inovasi Jadi Budaya
Dalam kesempatan ini, BRIN turut mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan riset dan inovasi sebagai budaya bersama. Kemajuan bangsa, lanjut Arif, hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat luas.
“Lima tahun BRIN adalah awal dari perjalanan panjang. Dengan semangat gotong royong, kita akan melahirkan lebih banyak inovasi karya anak bangsa yang memberi manfaat nyata bagi Indonesia dan dunia,” pungkas Arif.
BACA JUGA: Dr. Febrie Adriansyah, Tokoh Sentral Public Trust Kejagung
BACA JUGA: Dr. Febrie Adriansyah, Tokoh Sentral Public Trust Kejagung








