KEADILAN – Terobosan cara mengantisipasi membludaknya sampah di Kota Bandung yang memberikan solusi, membuat anggota DPRD Kota Bandung kembali mengkritisi Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Bandung.
Seperti diketahui, Pemda Kota Bandung akhir-akhir ini masih dirisaukan dengan persoalan sampah pasca bermasalahnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna yang ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Bandung menggantikan Wali Kota defenitif Yana Mulyana yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, terus melakukan terobosan untuk mengantisipasi membludaknya sampah, baik di sudut-sudut kota maupum Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang terus menggunung dan tidak terangkut. Yakni dengan cara mereaktivasi TPA Cicabe di Kecamatan Mandala Jadi, Kota Bandung dan menyewa lahan di Kabupaten Bandung.
Namun demikian, terobosan itu dinilai anggota DPRD Kota Bandung Aan Andi Purnama bukan solusi yang jitu. Alasannya cara sanitary landfill tersebut, harus sudah ditinggalkan, mengingat sudah kurang cocok untuk Kota Bandung.
Menurut Aan yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Kota Bandung ini, selain menghabiskan biaya yang tinggi, penggunan cara sanitary landfill juga terkendala lahan . Selama ini dengan menyewa lahan dan membuangnya ke Sarimukti, lama-lama tempat itu akan penuh juga, sementara di Kota Bandung tidak ada lahan yang luas untuk menampung sampah.
Aan menganjurkan, saat ini banyak cara-cara modern dalam mengelola sampah. Tidak hanya sekedar dibuang, tapi diolah dengan teknologi seperti umumnya terjadi di kota-kota besar di Indonesia dan luar negeri.
Politisi berlambang mercy tersebut mengungkapkan pengalamannya yang pernah melihat cara pengelolaan sampah yang sangat baik di salah satu kota di Jepang. Di pagi hari ia tidak melihat sampah di sudut-sudut kota. Bersih semua, karena sampah langsung diolah dengan baik.
“Di Indonesia sendiri saya dengar telah banyak teknologi pengolahan sampah yang saat ini sudah ada, terlebih beberapa tenaga ahli jebolan ITB Bandung juga sudah mempunyai teknologi pengolahan sampah yang modern. Kenapa tidak diaplikasikan di Kota Bandung,” tanya Aan.
Menurut Aan, ada pengolahan sampah modern dengan konsep zero to zero. Sampah diolah menghasilkan berbagai produk , seperti menjadi pupuk tanaman, pakan ikan, pastisida dan biomassa.
“Saya kira teknologi itu akan cocok di Bandung, terlebih tidak perlu lahan yang luas untuk mengolah sampah denga teknologi tersebut,” tambahnya.
Dijelaskan Aan, produksi sampah di Kota Bandung yang mencapai 1.200 ton per hari apabila diolah akan menghasilkan keuntungan. “Jadi sampah ke depan tidak dipandang sebelah mata, karena sebenarnya ada nilai ekonomis tinggi sehingga masyarakat kota Bandung ke depan bisa berpartisipasi,” katanya.
“kalau nilai ekonomisnya tinggi, saya kira masyarakat nanti akan ikut berperan, bahkan bisa saja berebut untuk tidak membuang sampah tapi menyimpannya untuk diolah sehingga mendapatkan uang,” tambahnya.
Aan berjanji akan membawa permasalahan sampah ini di rapat komisi DPRD Kota Bandung, supaya dari sisi kebijakan bisa didukung karena pengelolaan sampah yang baik untuk kepentingan rakyat. “Harapannya permasalahan sampah sudah mendapatkan solusinya,” katanya.
Aan juga menganjurkan untuk ke depan penanganan sampah di kelola oleh RW masing-masing dengan metode Kang Pisman (Kurangi, Mamfaatkan, Pisahkan), bisa mengurangi sampah ke TPS.
“Namun, tidak semua RW melaksanakan Kang Pisman, butuh edukasi dan solialisasi kepada masyarakat,” sesalnya, seraya menghimbau kepada lurah dan camat yang harus bekerja keras, agar warganya bisa melaksanakan program Kang Pisman sehingga jika ada masalah di TPA tak akan ada penumpukan sampah,” kata Aan.
Reporter: Ade Wiharyana
Editor: Penerus Bonar








