KEADILAN – Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus menyatakan bahwa Polisi akan menindak tegas pungutan liar (pungli). Pernyataan ini ia keluarkan terkait kasus pungli yang dialami para sopir truk kontainer di Jakarta International Container Terminal.
“Kami akan tindak tegas, bahkan Kapolda Metro Jaya menyampaikan tidak ada dan tidak boleh satu rupiah pun keluar oleh sopir. Kami akan tindak tegas, kami akan kejar sampai mana pun,” kata Yursi di Polsek Metro Jakarta Utara, Jumat (11/6/2021).
Yusri menjelaskan, terkait pungli di kemacetan, polisi telah membetuk tim untuk menelusurinya. Polisi mencium adanya indikasi kesengajaan yang membuat lama proses keluar-masuknya truk kontainer. Untuk itu polisi ingin membahas ini bersama stakeholder JICT.
“Ada indikasi mereka berupaya untuk sengaja memacetkan. Supaya lebih gampang menarik,” ucap Yusri.
Selain itu, Yusri juga mengatakan bahwa polisi telah membentuk tim untuk menelusuri kasus ini lebih lanjut. Untuk itu polisi mengajak masyarakat untuk melapor ke 110 jika menemui kasus pungli.
Sementara itu, Yanen (35), seorang sopir truk kontainer berkata bahwa ia setuju dengan penangkapan pelaku pungli. Namun ia khawatir penangkapan pungli ini akan berpengaruh pada menurunnya kinerja petugas.
“Kalau buat yang (penangkapan) pungli saya setuju-setuju aja. Cuma kan efeknya, kerjanya juga agak lambat. Biasa dia ada sedikit tambahan sekarang kan engga,” ucap Yanen pada Keadilan di kawasan JICT, Jumat sore (11/6/2021).
Yanen bercerita, uang yang selama ini ia gunakan untuk membayar pungli ia menggunakan uang jalan yang ia dapat saat melakukan perjalanan.
“Tergantung rute kalau kita menghitungnya. Tergantung jarak. Ada yang ke Cikampek, kalau ke Cikampek sekitar 900 buat segala-gala. Buat solar, makan, buat e-tol segalanya disitu. Tidak ada tambahan lain,” ucap Yanen menerangkan.
Masih di kawasan yang sama, Mahmudin (28) yang juga sopir truk kontainer, membenarkan bahwa uang yang selama ini ia pakai untuk pungli merupakan uang jalan. Setiap perjalanan, uangnya terpotong sekitar Rp. 30.000 untuk membayar pungli.
“Iya pakai uang jalan. 550 ribu ke Tangerang. Dipotong 15 ribu, nanti lagi di depo bayar lagi sama yang bongkar, habis itu 20 ribu, security, survei, bikin surat jalan, sama yang bongkar kena 17 ribuan. Semua 30 lebih bongkar muat,” kata Mahmudin menjelaskan.
Sebagai seorang sopir, Mahmudin berharap agar tidak ada pungli lagi. Selain itu, ia juga ingin agar polisi cepat menindak komplotan bajing loncat Asmoro, yang sering kali melakukan aksi pemerasan menggunakan senjata tajam, saat terjadi kemacetan di kawasan JICT. Bahkan kalau bisa, Mahmudin ingin polisi bersiaga di JICT terutama di jam-jam terjadinya macet.
“Kalau bisa setiap ada kemacetan polisi harus siap siaga di tempat, di setiap sudut-sudut,” kata Mahmudin menegaskan.
CHARLIE ADOLF LUMBAN TOBING








