KEADILAN – Partai semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris di Atlanta Stadium Amerika Serikat, Kamis (16/07/2026) pukul 02.00 WIB diperkirakan membawa banyak emosi. Pertemuan dua negara ini di level Internasional bagai partai klasik. Mirip ‘el clasico’ Barcelona vs Real Madrid. Selain persaingan olah raga juga membawa dendam politik masa lalu, terutama dendam jiwa-jiwa prajurit Argentina yang gugur di Kepulauan Malvinas. Apakah tarian Messi di Piala Dunia akan menuntaskannya?
Dari rekor pertemuan head to head antara Argentina dan Inggris, Three Lions boleh berbangga. Dari lima pertemuan kedua tim sejak 1962, Inggris memenangkan pertandingan tiga kali. Sedangkan Argentina hanya memenangkan dua pertandingan sisanya.
Dua kemenangan Inggris diperoleh sebelum Perang Malvinas yang meletus pada 1982. Yaitu kemenangan 3-1 di babak penyisihan Grup Piala Dunia 1962 dan kemenangan 1-0 di babak Perempat Final Piala Dunia 1966. Satu kemenangan paska Perang Malvinas adalah kemenangan 1-0 di Babak Grup Piala Dunia 2002.
Namun Inggris jangan senang dulu. Pertemuan Argentina dan Inggris menjadi emosional dan menarik ditonton justru setelah dua negara itu terlibat pertikaian politik yang memicu Perang Malvinas. Sebuah perang yang berakhir dengan kekalahan Argentina dengan tenggelamnya kapal perang utama Argentina ARA General Belgrano pada 2 Mei 1982.
Sejak Perang Malvinas dengan ending pertempuran paling mematikan yaitu tewasnya 332 pelaut Argentina, pertemuan Argentina dan Inggris di lapangan sepak bola selalu membawa emosi Perang Malvinas. Entah karena faktor emosi dari perang yang menewaskan total 649 tentara Argentina, para pemain Argentina selalu antusias bila bertemu Inggris.
Paska Perang Malvinas, terjadi tiga pertemuan Argentina dengan Inggris. Dari tiga pertemuan tersebut, dua pertemuan dimenangkan Argentina dan satu pertemuan dimenangkan Inggris. Kemenangan Argentina terjadi pada fase Sistem Gugur Piala Dunia 1998 dan Piala Dunia 1986. Sedangkan kemenangan Inggris pada fase Babak Grup Piala Dunia 2002.
Ini artinya selama pertemuan kedua tim di piala dunia paska Perang Malvinas dari sisi emosional lebih memuaskan Argentina. Pasalnya, Argentina dua kali memulangkan langsung Inggris dari kompetisi, sedangkan Inggris meski pernah menang sekali melawan Argentina tidak secara langsung membuat tim Argentina angkat koper walau kalah dari Inggris pada penyisihan grup.
Pertemuan yang paling mengguncangkan dan menjadi legenda dalam sepak bola adalah pertemuan Argentina dan Inggris pada Perempatfinal Piala Dunia 1986. Saat itu Argentina diperkuat legenda sepak bola dunia, Diego Armando Maradona mengalahkan Inggris 2-1. Pertandingan yang mempertontonkan betapa jeniusnya Maradona sekaligus luar biasa liciknya sang superstar.
Pada menit 51 Maradona membuat penonton terkesima saat mencetak gol melalui ‘kepala’, padahal tingginya lebih pendek dari para pemain Inggris. Dari tayangan ulang ternyata gol itu karena sentuhan tangan kiri Maradona. Walau gol itu ‘tidak sah’, namun karena keputusan wasit adalah mutlak dan belum ada sistem evaluasi melalui VAR (Video Assistant Referee), gol tersebut disahkan wasit.
Gol ini menjadi kontroversial sepanjang sejarah sepak bola. Apalagi Maradona sendiri dengan sombong menyebut golnya tersebut sebagai ‘Gol Tangan Tuhan’. Namun bagi penggemar nya, Maradona dianggap memiliki modal untuk sombong. Apalagi pada menit ke-55, empat menit setelah ‘Gol Tangan Tuhan’ ia membuktikan kejeniusannya di lapangan hijau.
Empat menit setelah ‘Gol Tangan Tuhan’ dan empat tahun setelah Perang Malvinas, Diego Maradona melakukan solo run bersejarah dan paling dikenang penggemar sepak bola dunia. Maradona seperti menari seperti kupu-kupu dan mengiris seperti silet. Sang superstar meliuk-liuk dengan indah melewati lima pemain Inggris sebelum menaklukan penjaga gawang legendaris Inggris, Peter Shilton.
Kini 40 tahun setelah Piala Dunia 1986, Inggris akan menghadapi lagi Argentina. Bila pertemuan Piala Dunia 1986 di babak Perempatfinal, maka Piala Dunia 2026 di Partai Semifinal. Seperti 40 tahun lalu, Argentina yang dihadapi Inggris juga diperkuat legenda sepak bola. Piala Dunia 1986 Argentina diperkuat Maradona, maka Piala Dunia 2026 Argentina diperkuat Lionel Messi.
Pertanyaannya, sanggupkan Messi menuntaskan dendam para prajurit Argentina yang gugur dalam Perang Malvinas di lapangan hijau seperti seniornya Diego Maradona meski dengan kontroversial? Apapun hasilnya, pertandingan Argentina melawan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026 sangat menarik untuk ditonton.
BACA JUGA: Demi Objektivitas Penegakkan Hukum, Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur













