Habluminannas after Eid Minang Saiyo Sydney, “Kita Bersaudara, Baik Karena Iman atau Karena Kemanusiaan”

KEADILAN – Dengan mengambil tema “Habluminannas after Eid”, Minang Saiyo Sydney (MSS) menggelar Halal Bihalal (HBH) Syawal 1446H. Bertempat di Yagoona Community Centre, acara HBH diselenggarakan di pekan ke empat setelah Eid, Minggu, 27 April 2025 lalu. Namun sedikit yang tahu bahwa HBH adalah khas Indonesia dan tradisi ini seumur dengan umur republik ini.

Halal Bihalal bersifat sangat sosial. Momen silaturahmi antar sesama manusia (habluminannas) setelah selesai sebulan penuh berpuasa Ramadan dan merayakan Idul Fitri pada Tanggal 1 Syawal. Hal ini sudah menjadi tradisi dan budaya yang sangat baik di tanah air maupun di komunitas diaspora Indonesia di mancanegara untuk berkumpul bersilaturahmi setelah Idul Fitri. Saling menyapa, saling bertukar kabar, saling menanyakan, saling mendoakan, dan saling memaafkan.

Halal Bihalal jamak diselenggarakan di berbagai kumpulan sosial seperti kantor tempat bekerja, alumni sekolah, klub olah raga, organisasi perantau, rukun tetangga, dan sebagainya. Demikian pula halnya dengan Halal Bihalal yang dihelat oleh Minang Saiyo Sydney sebagai bagian dari komunitas Indonesia di Australia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Halal Bihalal didefinisikan sebagai acara saling bermaafan pada hari Lebaran yang mengandung makna silaturahmi.

Jika ditelisik lebih jauh, sebenarnya Halal Bihalal tidak memiliki landasan syariah agama. HBH betul-betul merupakan budaya silaturahmi khas Indonesia, dan hanya ada di Indonesia. Tidak ada Hahal Bihalal di negara mayoritas melayu lainnya seperti Malaysia dan Brunei, apalagi di Timur Tengah, di wilayah kelahiran Islam sekalipun. Halal Bihalal merupakan sumbangan Indonesia untuk peradaban umat manusia.

Di masa-masa awal berdirinya Republik, Indonesia dihadapkan pada suasana perpecahan politik yang tajam dikalangan elit. Seperti dilaporkan Tempo, Presiden Soekarno meminta pendapat dari KH Abdul Wahab Hasbullah, seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yang menyarankan agar diadakan sebuah acara yang mempertemukan para tokoh politik dalam suasana Idul Fitri, dengan tujuan saling bermaafan dan menyatukan kembali semangat kebangsaan. Acara ini dinamai Halal Bihalal. Soekarno menyambut baik ide ini dan mengundang para pemimpin politik ke Istana Negara pada Idul Fitri 1948. Sejak saat itu, Halal Bihalal menjadi tradisi yang dilakukan di tingkat nasional dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Sebagai makhluk sosial, orang Indonesia senang bersilaturahmi. Berbagai momen digunakan sebagai dalih untuk bersilaturahmi. Di bulan Ramadan misalnya, ada acara buka puasa bersama, yang dilanjutkan dengan ceramah dan salat taraweh berjamaah. Dalam hal ini acara buka puasa bersama memiliki dimensi habluminAllah (hubungan antara hamba dengan Tuhannya) dan sekaligus dimensi habluminannas (hubungan silaturahmi antar sesama manusia). Buka puasa bersama betul-betul menjadi ajang silaturahmi.

Berbeda dengan acara buka puasa bersama di bulan Ramadan, Halal Bihalal setelah Lebaran hanya memiliki dimensi habluminannas, murni ajang silaturahmi.

“Dalam konteks habluminannas, silaturrahmi antar manusia, apalagi sesama komunitas masyarakat Indonesia di Sydney, kita harus keluar dari sekat-sekat primordial. Seperti kata Imam Ali, either we are brothers in faith, or equals in humanity”, demikian hikmah Halal Bihalal yang disampaikan oleh Ketua MSS Zulfan Tadjoeddin. Di Indonesia pun, Halal Bihalal juga melampaui sekat-sekat primordial.

Halal Bihalal Minang Saiyo Sydney dihadiri oleh berbagai kalangan komunitas Indonesia di Sydney, yang bersifat lintas suku dan agama: Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney, Indonesian Community Counci (ICC) NSW, Indonesian Business Council (IBC) NSW, Indonesian Diaspora Network (IDN) NSW, Ashabul Kahfi Islamic Centre (AKIC), Muhammadiyah NSW, Foundation of Islamic Studies and Information (FISI), Dharma Foundation, Indonesia-Australia Senior Citizen Association (INASCA), Minang Senior Citizen Community (MSCC), Indonesia Campbelltown Community Association (ICCA), Bona Pasogit, Indonesian-Australian Women’s Associations (IAWA), dan lain-lain.

Josep Rustam dari IBC NSW berkomentar, “kami sangat mengapresiasi acara Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Minang Saiyo Sydney (MSS) pada hari Minggu lalu. Cukup sederhana tapi rapih, elok dan penuh makna. Atas suksesnya acara tersebut, kami sampaikan selamat kepada segenap pengurus MSS.”

Index