Keadilan
Keadilan

KEADILAN – Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso, mengapresiasi keputusan hakim tunggal praperadilan Pegi Setiawan, Eman Sulaeman, saat mengabulkan gugatan praperadilan yang dilayangkan kuasa hukumnya di Pengadilan Negeri Bandung, Senin (8/7/2024) kemarin.

Ia berharap, hakim-hakim di Indonesia memiliki integritas dan independensi dalam memeriksa serta mengadili perkara. “Juga tidak mudah di intervensi melalui pendekatan sesama penegak hukum, baik polisi maupun jaksa,” kata Sugeng, dalam keterangan resmi diterima KEADILAN, Selasa (9/7/2024).

Sugeng menilai putusan dalam perkara ini, dengan menerima permohonan dari Pegi, diakuinya, salah satu faktornya adalah tekanan publik yang besar. “Sehingga pengadilan di kontrol (tekanan publik),” imbuhnya.

Namun, pihaknya ragu jika ada kasus serupa pada peristiwa yang berbeda akan diberikan putusan seperti ini.

“Kedua, putusan ini juga menggunakan dasar sama seperti saat putusan Budi Gunawan yang ditetapkan tersangka oleh KPK yang menyatakan bahwa seorang calon tersangka harus diperiksa juga sebagai saksi,” jelasnya.

Adapun, dalam kasus Pegi ini, lanjut Sugeng, ada satu kesalahan prosedur yang ia ungkap. Seperti ketika Pegi ditangkap dahulu oleh apparat berwajib, baru kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

“Kemudian, terkait dua alat bukti, memang alat buktinya lemah. Sejak awal, kasus ini penuh kontroversi. Kasus tahun 2016 itu, sebetulnya sebagai sebuah kesalahan presedur tapi sudah terlanjur diputus bersalah,” paparnya.

Sugeng menuturkan bahwa putusan bersalah terhadap 8 orang terpidana dalam kasus Vina-Eky bahwa penegak hukum tidak menegakkan kebenaran materil dan tidak peka terhadap situasi, di mana terdakwa menyatakan dianiaya.

“Ini sudah dikoreksi oleh putusan prapradilan Pegi Setiawan. Kami berharap, polisi tetap semangat mengusut perkara. Kalau perlu mengusut pelaku sesungguhnya,” tutupnya.

Reporter: Ceppy Febrinika Bachtiar
Editor: Syamsul Mahmuddin

Brantas Abipraya Raih Dua Penghargaan di Bidang SDG