KEADILAN – Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Kabadiklat) Kejaksaan Republik Indonesia, Dr. Harli Siregar, S.H., M.Hum., menekankan pentingnya integritas, inovasi, dan sinergi lintas institusi sebagai bekal utama bagi para pemimpin dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Harli Siregar saat menghadiri Malam Gala Dinner peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XIX Tahun 2026 di Aula Sasana Adhi Karya, Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan RI, Ragunan, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Pelatihan PKN Tingkat II Angkatan XIX Tahun 2026 diselenggarakan oleh Badiklat Kejaksaan RI dengan penjaminan mutu dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) serta berkolaborasi dengan Tanoto Foundation.
Dalam sambutannya, Harli menyampaikan bahwa malam gala dinner tersebut menjadi momentum istimewa setelah para peserta menjalani rangkaian pembelajaran selama empat bulan. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar ajang berkumpul dan bersantap bersama, melainkan juga kesempatan untuk mensyukuri pencapaian, mempererat kebersamaan, serta mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab pengabdian yang lebih besar.
“Kita berkumpul bukan hanya untuk bersantap bersama, tetapi untuk merayakan sebuah pencapaian, mensyukuri kebersamaan, dan menatap pengabdian yang lebih besar di masa depan,” ujar Harli.
Ia juga berharap kolaborasi yang telah terbangun selama pelaksanaan pelatihan dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas kepemimpinan dan pelayanan publik.
“Kami berharap kerja sama yang baik ini tidak berhenti pada angkatan ini, tetapi terus berlanjut dan berkembang di masa mendatang,” katanya.
Perkuat Sinergi Antarinstansi
Harli menilai, salah satu keistimewaan PKN Tingkat II Angkatan XIX Tahun 2026 terletak pada keberagaman latar belakang peserta. Para peserta berasal dari berbagai institusi, di antaranya Kejaksaan, Kepolisian, Imigrasi, Pemasyarakatan, Kementerian Haji dan Umrah, serta Lembaga Administrasi Negara.
Keberagaman tersebut menjadi modal penting dalam membangun pemahaman bersama, memperkuat koordinasi, dan meningkatkan sinergi antarinstansi dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Menurut Harli, seluruh institusi tersebut merupakan bagian dari ekosistem besar yang saling terhubung dalam penegakan hukum, pelayanan publik, dan tata kelola pemerintahan.
Kepolisian, Kejaksaan, dan Pemasyarakatan memiliki keterkaitan dalam sistem peradilan pidana terpadu. Sementara itu, Imigrasi menjalankan peran strategis dalam menjaga pintu gerbang negara, dan LAN berkontribusi dalam pengembangan kompetensi aparatur serta peningkatan kualitas tata kelola pemerintahan.
“Jika satu mata rantai melemah, seluruh sistem ikut terdampak, dan pada akhirnya masyarakatlah yang dirugikan,” tegasnya.
Karena itu, Harli menekankan bahwa kebersamaan yang terbangun selama empat bulan pelatihan merupakan modal berharga untuk memperkuat sinergi lintas institusi.
Para peserta, lanjutnya, tidak hanya memperoleh pembelajaran mengenai kepemimpinan strategis, tetapi juga kesempatan memahami perspektif, tantangan, serta pelaksanaan tugas masing-masing instansi.
Sinergi yang kuat, menurut Harli, tidak cukup dibangun melalui nota kesepahaman, tetapi harus berlandaskan sikap saling mengenal, saling percaya, dan saling menghormati.
Apresiasi Perjuangan Peserta
Pada kesempatan tersebut, Kabadiklat Kejaksaan RI juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan rangkaian pembelajaran PKN Tingkat II, mulai dari pembelajaran klasikal, pembelajaran mandiri, studi lapangan, hingga penyusunan dan implementasi Proyek Perubahan di instansi masing-masing.
Harli memahami bahwa proses tersebut membutuhkan komitmen, ketekunan, dan kemampuan mengelola waktu, terlebih para peserta tetap harus menjalankan tanggung jawab jabatan dan keluarga di tengah kewajiban mengikuti pelatihan.
Ia berharap pengalaman selama mengikuti PKN Tingkat II dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan sekaligus mendorong perbaikan kinerja di lingkungan kerja masing-masing.
Tiga Pesan Penting Kabadiklat
Mengakhiri sambutannya, Harli menitipkan tiga pesan penting kepada seluruh peserta PKN Tingkat II Angkatan XIX Tahun 2026.
Pertama, menjaga integritas. Harli menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama kepercayaan masyarakat, khususnya bagi aparat penegak hukum dan penyelenggara pelayanan publik. Kepercayaan membutuhkan waktu panjang untuk dibangun, tetapi dapat runtuh dalam sekejap.
Oleh karena itu, para peserta diharapkan menjadi pemimpin yang mampu memberikan teladan melalui sikap, perilaku, dan keputusan yang bertanggung jawab, bukan sekadar memberikan perintah kepada bawahannya.
Kedua, terus berinovasi. Harli mengingatkan agar Proyek Perubahan yang telah disusun dan diimplementasikan selama pelatihan tidak berhenti sebagai laporan atau sekadar pemenuhan persyaratan kelulusan. Proyek tersebut harus terus dirawat, dikembangkan, dan diperluas manfaatnya bagi organisasi serta masyarakat.
Ia menilai, perubahan lingkungan strategis dan semakin kompleksnya tantangan tugas menuntut pemimpin untuk mampu beradaptasi, mengembangkan gagasan, serta menghadirkan solusi yang relevan dan berkelanjutan.
Ketiga, memelihara jejaring dan sinergi. Para peserta yang berasal dari berbagai institusi diharapkan tetap menjaga komunikasi dan hubungan profesional setelah menyelesaikan pelatihan.
Harli berharap, jejaring yang telah terbentuk dapat menjadi kekuatan untuk mencari solusi bersama ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan koordinasi dan kolaborasi lintas institusi.
Melalui tiga pesan tersebut, Harli berharap para lulusan PKN Tingkat II Angkatan XIX Tahun 2026 mampu menjadi pemimpin yang berintegritas, inovatif, adaptif, serta memiliki komitmen kuat terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik.
Ia mengingatkan bahwa berakhirnya pelatihan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menghadirkan perubahan nyata di lingkungan kerja masing-masing.
“Ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan pada sertifikat yang diterimanya, melainkan pada perubahan dan keteladanan yang ditinggalkannya,” pungkas Harli.
BACA JUGA: PDIP: Kekeringan dan Karhutla Tak Boleh Dianggap Bencana Tahunan








