Apa Beda Harlah Kejaksaan 2 September dengan HBA 22 Juli

KEADILAN – Tanggal 2 September 2026 kemarin Kejaksaan RI memperingati hari kelahiran ke-81. Pada 22 Juli 2026 lalu, Satu setengah bulan lalu, 22 Juli 2026 lembaga ini juga menggelar peringatan Hari Bhakti Adhyaksa (HBA) ke-66. Apa sih bedanya?

Tradisi peringatan Harlah Kejaksaan RI setiap tanggal 2 September pada dasarnya baru dikenal publik dalam dua tahun terakhir. Sebelumnya publik hanya mengetahui HBA yang diperingati setiap tanggal 22 Juli.

Peringatan HBA selalu ditandai dengan Perintah Harian Jaksa Agung. Perintah-perintah tersebut disesuaikan dengan tantangan dan kondisi penegakkan hukum tahun itu. Itu sebabnya, tahun-tahun sebelumnya tanggal 22 Juli sempat ditafsirkan sebagai Hari Kelahiran Kejaksaan RI.

Perubahan Hari Kelahiran Kejaksaan RI terjadi pada 2024 lalu. Penetapan tanggal tersebut sebagai hari lahir resmi baru disahkan Jaksa Agung ST Burhanuddin melalui Keputusan Jaksa Agung RI Nomor 195 Tahun 2023. Upacara pertama peringatan digelar 2 September 2024.

Penentuan tanggal ini didasarkan pada kajian ilmiah dan penelusuran dokumen sejarah Kejaksaan RI bersama ahli sejarah untuk menemukan sejarah kelembagaan yang utuh. Pilihan tanggal 2 September dipertimbangkan pada pelantikan Jaksa Agung RI pertama pelantikan Mr. R. Gatot Taroenamihardja oleh Presiden Soekarno pada 2 September 1945.

Pada 1945 sampai 1960 posisi Kejaksaan RI dalam negara Indonesia memang unik bila dibandingkan negara lainnya. Punya kepala tersendiri melalui Jaksa Agung namun badannya digabungkan dengan Departemen Kehakiman.

Pada 22 Juli 1960 baru kemudian Kejaksaan RI dibentuk terpisah dari Departemen Kehakiman melalui Keputusan Presiden RI. Hari terpisahnya Kejaksaan RI dengan Departemen Kehakiman ini kemudian diperingati sebagai Hari Kelahiran Kejaksaan RI dengan sebutan Hari Bhakti Adhyaksa (HBA).

Istilah Adhyaksa berasal dari Bahasa Sanskerta. Istilah ini pertama kali digunakan sebagai gelar pejabat penegak hukum atau pengawas peradilan pada masa Kerajaan Majapahit di bawah Pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389).

Asal kata Adhyaksa berasal dari kata Dhyaksa yang berate pejabat hukum yang diberi awalan adiy atau adhi yang berarti atasan atau pengawas. Sedangkan menurut peneliti Belanda WF Stutterheim Adhyaksa adalah hakim tertinggi yang memimpin urusan peradilan.

Pada era Kemerdekaan RI, istilah Adhyaksa dihidupkan kembali untuk mencerminkan identitas dan ruh penegakkan hukum. Kata ‘jaksa’ di Indonesia merupakan serapan dan penyusutan kata dhyaksa.

BACA JUGA: 81 Tahun Kejaksaan RI, Jaksa Agung: Solid dan Kembalikan Kepercayaan Publik