KEADILAN – Anda pasti mengenal Polwan (polisi wanita) yang hari ini memperingatkan ulang tahun ke-78. Namun tahukah anda bahwa Polwan angkatan pertama adalah enam orang remaja puteri dididik di Bukit Tinggi Sumatera Barat (Sumbar).
Tonggak sejarah lahirnya satuan polwan pada 1 September 1948 memang berada di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Keputusan yang membawa perubahan signifikan dalam sejarah perempuan di dunia kepolisian Indonesia.
Sebelum 1948, perempuan tidak diperbolehkan mengikuti pendidikan kepolisian atau bahkan menjadi anggota polisi. Namun ada peristiwa penting yang membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk terlibat dalam dunia kepolisian dan memberikan kontribusi penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Berdasarkan penelusuran berbagai sumber, setelah perang kemerdekaan melahirkan gelombang pengungsian rakyat dimana-mana. Termasuk di Bukit Tinggi yang sempat menjadi ibukota darurat Indonesia ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden M Hatta ditawan Belanda.
Persoalan memusingkan adalah ketika aparat kepolisian sulit membedakan pengungsi wanita asli atau penyusup yang bisa mengancam keselamatan pemimpin republik. Sulit polisi pria menggeledah tubuh pengungsi wanita.
Melihat kondisi itu organisasi wanita Islam di Bukit Tinggi mengusulkan kepada pemerintah agar perempuan dapat ikut serta dalam pendidikan kepolisian.
Gayung bersambut, pada 1 September 1948, Cabang Djawatan Kepolisian Negara untuk Sumatera yang bermarkas di Bukittinggi memberikan kesempatan untuk mendidik 6 Siswi pertama menjadi polisi.
Menurut Museum Polri, enam siswi pertama yang mengikuti pendidikan inspektur polisi bersama dengan 44 siswa laki-laki adalah Mariana Saanin, Nelly Pauna, Rosmalina Loekman, Dahniar Sukotjo, Djasmainar, dan Rosnalia Taher. Sejak saat itu, 1 September diperingati sebagai Hari Polwan.
Namun, pendidikan di Bukittinggi terhenti pada 19 Desember 1948 karena peristiwa Agresi Militer Belanda II. Barulah pada 19 Juli 1950, setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, keenam calon inspektur polisi wanita kembali dilatih di Sekolah Polisi Negara (SPN) Sukabumi.
Kemudian mereka belajar berbagai ilmu, termasuk ilmu kemasyarakatan, pendidikan, ilmu jiwa, pedagogi, sosiologi, psikologi, dan pelatihan bela diri. Pada 1 Mei 1951, keenam calon inspektur polisi wanita tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan mereka dan mulai bertugas di Djawatan Kepolisian Negara dan Komisariat Polisi Jakarta Raya.
Sejak saat itu Polwan terus berkembang dan berperan aktif dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat Indonesia. Mereka juga terlibat dalam menangani masalah-masalah sosial, seperti kejahatan yang melibatkan perempuan dan anak-anak, serta perdagangan perempuan dan anak-anak.
Perjalanan panjang Polwan sejak 1948 hingga saat ini mencerminkan kontribusi penting perempuan dalam dunia kepolisian Indonesia. Mereka telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang tak kalah penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta melindungi hak-hak warga negara.
BACA JUGA: Siswa PPJ Angkatan 83 Badiklat RI Dikenalkan Hukum dan Peradilan Disabilitas








